Suara.com - Kasus COVID-19 kembali merangkak naik di awal tahun 2022. Menurut Satgas COVID-19, ada beberapa indikator yang memperlihatkan tren tersebut.
Satgas Penanganan COVID-19 mencermati adanya tren peningkatan pada 4 indikator yaitu kasus positif, kasus aktif, angka positivity rate keterisian tempat tidur atau bed occupancy ratio (BOR) isolasi rumah sakit.
Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito menegaskan data ini adalah fakta meningkatnya penularan di masyarakat terlebih adanya varian Omicron. Untuk itu, kewaspadaan bersama harus ditingkatkan dan pengendalian segera mendesak dilakukan. Mengingat kunci keberhasilan pencegahan lonjakan kasus adalah kesigapan penanganan sedini mungkin.
"Perkembangan ini sudah merupakan alarm dini. Dan sudah sepatutnya kita menetapkan target pengendalian kasus agar tetap terkendali," ujar Wiku mengutip situs resmi Satgas COVID-19.
Untuk lebih jelasnya, Wiku memaparkan perkembangan pada 4 indikator dimaksud. Pertama, tren peningkatan kasus positif dalam 14 hari terakhir. Meskipun cenderung fluktuatif, namun penambahan kasus harian meningkat hingga 404 per hari. Cukup signifikan dibandingkan data 2 minggu sebelumnya hanya 136 kasus per hari. Bahkan melihat lebih jauh lagi, terakhir penambahan kasus positif diatas 400 per hari terjadi November 2021.
Indikator kedua, tren peningkatan kasus aktif harian yang teramati dalam seminggu terakhir. Perbandingannya, pada minggu lalu jumlah kasus aktif 4.300 kasus. Namun, per 5 Januari 2022 Jumlah kasus aktif naik menjadi 4800.
Indikator ketiga, tren peningkatan angka positivity rate atau proporsi orang yang dideteksi positif dari keseluruhan orang yang dilakukan tes. Sama seperti kasus positif, tren kasus aktif harian cenderung fluktuatif. Jika pada 2 minggu lalu angka hariannya 0,07%, saat ini meningkat menjadi 0,19 persen
Indikator keempat, peningkatan angka nasional BOR isolasi di rumah sakit rujukan. Kenaikannya, konsisten dalam 14 Hari terakhir. Jika 2 minggu ketersediaan tempat tidur isolasi sebesar 1,38 persen, saat ini meningkat menjadi 3,35%.
Wiku menegaskan bahwa perkembangan ini harus segera dikendalikan saat ini juga. Karena bertambahnya orang positif akan menulari lebih banyak lagi dan berpotensi menimbulkan kenaikan kasus yang lebih tinggi lagi di masyarakat. Secepatnya lakukan langkah-langkah pengendalian segera dengan memasifkan testing dan tracing serta mengoptimalkan kembali kerja posko untuk menggalakkan kedisiplinan protokol kesehatan 3M.
Baca Juga: Dugaan Data Pasien Covid-19 Bocor, Penanganan Perlu 3 Langkah Menurut Muhaimin
Meskipun ada perkembangan kurang baik, sebaliknya ada indikator penanganan yang menunjukkan tren penurunan. Pertama angka kematian harian trennya menurun dalam 14 Hari terakhir. Walaupun masih cenderung fluktuatif. Perkembangan yang teramati pada 2 minggu lalu angkanya 8 per hari, dan saat ini menurun menjadi 4 kasus per hari. Kedua, tren penurunan angka BOR ICU dalam 10 hari terakhir. Keterisiannya dalam 10 hari kebelakang sebesar 3,95% per hari dan konsisten menurun hingga 3,23% dalam sehari.
Dengan mencermati tren peningkatan dan penurunan pada indikator-indikator tersebut, menunjukkan tingkat penularan dan jumlah orang positif tidak diikuti dengan kebutuhan perawatan dan kematian. "Hal ini menunjukkan kasus yang saat ini terjadi cenderung tidak bergejala atau bergejala ringan," imbuh Wiku.
Hal ini dapat terjadi karena 2 hal yaitu karakteristik varian Omicron yang beredar dan menginfeksi masyarakat cenderung bergejala ringan dan tanpa gejala. Lalu, terbentuknya kekebalan di masyarakat baik akibat tertular maupun yang dipicu vaksinasi. Namun fenomena ini tentu perlu untuk dipelajari lebih lanjut dengan metode penelitian yang baik dan benar sebelum dapat disimpulkan penyebabnya.
Terlepas dari itu, penting tetap berupaya menurunkan peningkatan kasus. Karena secara teori yang didukung beberapa hasil studi menyatakan potensi munculnya varian baru lebih tinggi seiring tingginya tingkat penularan. Adanya ruang bagi virus untuk menular sama dengan memberi kesempatan bermutasi menjadi varian baru.
Selain itu perlu disadari bahwa adanya keterbatasan fasilitas dan sumber daya kesehatan, serta adanya celah penularan yang meluas sama saja menempatkan kelompok rentan dalam risiko yang lebih tinggi. "Karena bukan tidak mungkin kelompok rentan tersebut adalah orang-orang terdekat yang kita cintai," pungkas Wiku.
Berita Terkait
-
Pandemi Senyap 2026: Mengapa Anak Indonesia Kembali Diserang Campak?
-
WFH demi Hemat BBM: Solusi Visioner atau Sekadar Geser Beban ke Rakyat?
-
Pemerintah Siapkan Skenario dari era Covid-19 Hadapi Krisis Energi Akibat Konflik Timur Tengah
-
Jerinx SID Kembali Singgung Konspirasi COVID-19, Ungkit Aksi Demo Tolak Rapid Tes Tahun 2020
-
Epstein Files Singgung Simulasi Pandemi Sebelum COVID-19, Nama Bill Gates Terseret
Terpopuler
- 7 Sabun Cuci Muka dengan Kolagen untuk Kencangkan Wajah, Bikin Kulit Kenyal dan Glowing
- Tak Perlu Mahal! Ini 3 Mobil Bekas Keluarga yang Keren dan Nyaman
- Dapat Status Pegawai BUMN, Apa Saja Tugas Manajer Koperasi Merah Putih?
- 5 HP Xiaomi yang Awet Dipakai Bertahun-tahun, Performa Tetap Mantap
- Oki Setiana Dewi Jadi Kunci Kasus Pelecehan Syekh Ahmad Al Misry Terbongkar Lagi, Ini Perannya
Pilihan
-
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, IRGC: Amerika Serikat Perompak!
-
Selat Hormuz Kembali Ditutup? Iran Dituding Tembak Kapal Tanker di Dekat Oman
-
BREAKING NEWS! Iran Resmi Buka Blokade Selat Hormuz Sepenuhnya
-
Kisah di Balik Korban Helikopter Sekadau, Perjalanan Terakhir yang Tak Pernah Sampai
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
Terkini
-
Konflik Global Memanas, Menkes Dorong Ketahanan Farmasi Nasional dan Stabilitas Harga Obat
-
Rahasia Produk Kesehatan Laris di Marketplace: Review Positif Jadi Penentu Utama
-
Ini Bahaya Tersembunyi Ikan Sapu-Sapu yang Mengancam Ekosistem Jakarta
-
Apakah Ikan Sapu-Sapu Bisa Dimakan? Ini Bahaya untuk Manusia dan Ekosistem
-
Varises Bukan Sekadar Masalah Estetika, Kenali Sinyal Bahaya Sebelum Jadi Komplikasi Serius
-
Tren Lari Meningkat, Waspadai Risiko Cedera Otot dan Memar Ikut Mengintai
-
Perempuan Berlari 2026: Integrasi Olahraga, Kesehatan Mental, dan Literasi Keuangan
-
Bukan Sekadar Sekolah, Anak Neurodivergent Butuh Dukungan Menyeluruh untuk Tumbuh
-
Awas Logam Berat! Ini 7 Deretan Risiko Kesehatan Jika Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu
-
Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa