Suara.com - Seorang wanita bernama Hannah Catton (24) mengalami berbagai gejala yang selalu dianggap dokter masalah kecil sebelum didiagnosis menderita kanker ovarium.
Berdasarkan laporan 7News Australia, selama bertahun-athun wanita asal Melbourne ini menderita infeksi saluran kemih berulang, perut kembung, dan menstruasi yang menyakitkan serta tidak teratur.
Kondisi ini terjadi sejak tahun 2019, ketika ia berulang kali mengalami ISK. Dokter sering meresepkan antibiotik. Pada September 2020, menstruasinya menjadi tidak menentu dan menyakitkan.
Dia melacak gejalanya sehingga ia bisa memberi tahu dokter, yakni gejala ISK, kembung, sembelit, diare, nyeri, gas, dan hot flashes, sensasi panas pada tubuh bagian atas terutama pada dada, leher, atau wajah.
Salah satu dokternya mengaitkan perubahan menstruasinya dengan stres dan merekomendasikannya untuk kembali ditindak lanjut dalam tiga bulan.
Tidak puas, Hannah pun pergi ke dokter lainnya.
"Sekitar bulan Maret saua periksa lagi dengan semua gejala tersebut yang saya kaitkan dengan menstruasi saya dan ini (dokter) sekali lagi memberi tahu saya bahwa saya stres," ujar Hannah.
Bahkan, sang dokter mengatakan Hannah sedikit kelebihan indeks massa tubuh sehingga harus menurunkannya dan menyuruhnya makan makanan sehat. Hannah pun kecewa.
"Saya merasa seperti saya dianggap membuang-buang waktu. Mereka sangat mengecewakan," imbuh Hannah.
Baca Juga: Waspada! Ini Gejala Hingga Penyebab Stres yang Dialami Karyawan Di Tempat Kerja
Seiring waktu rasa sakitnya bertambah dan dia akhirnya menemui seorang ginekolog yang menyuruhnya untuk USG. Setelah itu, baru diketahui bahwa Hannah memiliki fibroid selebar 10cm di rahimnya.
Kondisinya semakin parah. Bahkan, setiap berolahraga dia pingsan. Kekasihnya pun membawanya ke UGD.
“Saya dirawat dengan dugaan kehamilan ektopik dan menjalani ultrasound dan kemudian CT dan MRI scan dan banyak tes darah. Ketika hasilnya muncul, di situlah saua diberi diagnosis," lanjutnya.
Ternyata, tumornya telah pecah dan dokter mendiagnosisnya dengan kanker ovarium stadium 1. Seketika itu juga Hannah menjalani operasi pengangkatan tumor yang pecah itu.
Dia menjalani empat putaran kemoterapi selama seminggu.
Pengalamannya ini membuat Hannah ingin mendorong orang lain untuk terbuka dengan kesehatan mereka, dengan harapan dapat memicu perubahan.
“Stigma yang melekat pada keluhan tentang nyeri/masalah menstruasi dan semua gejala yang termasuk harus dihentikan. Begitu banyak kehidupan yang terpengaruh olehnya," tandas Hannah.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak
-
Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern
-
Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua
-
Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan
-
Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!