Suara.com - Kekhawatiran masyarakat terhadap kontaminasi Bisofenol A (BPA) sempat naik usai sejumlah pihak menyebut hal itu bisa terjadi pada saat pendistribusian galon ulang dalam truk
Namun, hal itu dibantah oleh Pakar pangan, dosen dan peneliti di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan dan SEAFAST Center, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Nugraha E. Suyatma, STP, DEA.
Ia menegaskan bahwa goncangan-gocangan yang terjadi saat pendistribusian galon guna ulang di dalam truk sama sekali tidak mempengaruhi pelepasan (migrasi) Bisfenol A (BPA) dari galonnya. Begitu juga saat galon guna ulang itu terpapar sinar matahari saat dalam pendistribusiannya, sama sekali tidak mempengaruhi migrasi BPA-nya.
“Untuk ketahanan panasnya, galon guna ulang yang berbahan polycarbonat itu jauh lebih tahan panas dibanding galon PET. Yang kemarin saya baca di berita-berita itu kan diberitakan bahwa jadi berbahaya karena ngangkutnya di papar matahari. Sebenarnya nggak akan ada pengaruh apa-apa itu, karena sampai suhu 80 derajat saja polikarbonat masih tahan. Tapi kalau galon PET, itu suhu 50 derajat saja sudah ganti formasinya,” ujarnya dalam keterangannya, Senin, (18/7/2022).
Begitu juga dengan masalah goncangan yang terjadi saat pendistribusian galon guna ulang ini, Nugraha mengatakan kalau goncangan di truk itu tidak masalah sama sekali dengan migrasi BPA-nya.
“Selama tidak pecah, galon polikarbonat atau galon guna ulang itu tidak masalah sama sekali,” cetusnya.
Di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB sendiri untuk kebutuhan minum para staf dan dosennya masih menggunakan air kemasan galon air minum hingga kini. “Kami masih merasa belum ada bahaya apa-apa saat mengkonsumsinya karena memang belum ada bukti ilmiahnya air minum ini berbahaya untuk kesehatan,” katanya.
Pakar Teknologi Pangan lainnya yang juga dari IPB, Dr Eko Hari Purnomo, juga menegaskan bahwa kandungan BPA yang terkandung dalam galon air minum dalam kemasan guna ulang tidak membahayakan kesehatan.
Menurutnya, plastik Polikarbonat yang mengandung BPA itu digunakan untuk galon air minum hanya karena sifatnya yang keras, kaku, transparan, mudah dibentuk, dan reltif tahan panas. “Tapi, berdasarkan data-data yang ada, penggunaan kemasan guna ulang itu tidak banyak menimbulkan resiko kesehatan, terutama dari sudut pandang BPA-nya. Apalagi untuk produk air, itu potensinya kecil sekali,” kata Eko.
Itulah sebabnya menurut Eko, sulitnya ditemukan penelitian-penelitian yang dilakukan terhadap dampak BPA pada galon guna ulang itu, karena memang sudah terbukti aman untuk digunakan. Tapi, kata Eko, yang banyak ditemukan itu adalah penelitian-penelitian migrasi BPA dari kemasan Polikarbonat (PC) pada kemasan selain galon guna ulang.
“Sehingga, menurut saya, informasi-informasi dari penelitian yang bukan dari galon guna ulang inilah yang kemudian diambil oleh orang-orang yang masih mempertanyakan bahaya BPA dalam galon guna ulang ini. Sementara, dari berbagai studi yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa migrasi BPA dari PC ke dalam minuman terutama air itu masih jauh di bawah batas migrasi yang diijinkan,” ucapnya.
Karenanya, dia juga heran kenapa sekarang kemudian menjadi ramai dipertanyakan apakah penggunaan kemasan galon guna ulang itu bisa berdampak terhadap kesehatan, terutama melalui migrasi BPA ke dalam produk.
“Kalau kita coba cari literatur yang mencoba menggali pelepasan atau migrasi BPA dari kemasan galon guna ulang, saya melihatnya kemungkinan besar sedikit sekali atau bahkan tidak ada,” ujarnya.
Eko mengatakan galon guna ulang di Indonesia itu menjadi agak unik dibanding di negara-negara lain. Menurutnya, hal disebabkan di negara-negara lain utamanya negara maju sudah banyak yang menggunakan tap water yang airnya bisa langsung diminum dari keran. “Jadi, penggunaan kemasan guna ulang di sana itu tidak terlalu masif seperti di Indonesia,” tuturnya.
Baca Juga: Aktivis: Permasalahan Galon Guna Ulang Membuat Kami Patah Hati
Berita Terkait
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- 4 Calon Pemain Naturalisasi Baru Era John Herdman, Kapan Diperkenalkan?
- Kakek Penjual Es Gabus Dinilai Makin 'Ngelunjak' Setelah Viral, Minta Mobil Saat Dikasih Motor
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 4 Mobil Kecil Bekas 80 Jutaan yang Stylish dan Bandel untuk Mahasiswa
Pilihan
-
Patahnya Komponen Kaki-kaki Mobil Lepas L8 Fatal, Bukti Kegagalan Quality Control
-
Dugaan Skandal PT Minna Padi Asset Manajemen dan Saham PADI, Kini Diperiksa Polisi
-
Epstein Gigih Dekati Vladimir Putin Selama Satu Dekade, Tawarkan Informasi 'Rahasia AS'
-
Bertemu Ulama, Prabowo Nyatakan Siap Keluar dari Board of Peace, Jika...
-
Bareskrim Tetapkan 5 Tersangka Dugaan Manipulasi Saham, Rp674 Miliar Aset Efek Diblokir
Terkini
-
Atasi Batuk Ringan hingga Napas Tidak Nyaman, Pendekatan Nutrisi Alami Kian Dipilih
-
Jangan Abaikan Kelainan Refraksi, Deteksi Dini Menentukan Masa Depan Generasi
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion
-
Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini
-
Solusi Bijak Agar Ibu Bekerja Bisa Tenang, Tanpa Harus Mengorbankan Kualitas Pengasuhan Anak
-
Dokter Saraf Ungkap Bahaya Penyalahgunaan Gas Tawa N2O pada Whip Pink: Ganggu Fungsi Otak!
-
Tidak Semua Orang Cocok di Gym Umum, Ini Tips untuk Olahraga Bagi 'Introvert'
-
Dehidrasi Ringan Bisa Berakibat Serius, Kenali Tanda dan Solusinya