Suara.com - Serangan jantung mendadak menjadi penyebab kematian tunggal yang paling umum di Amerika Serikat. Hal ini terjadi karena adanya masalah dengan sistem kelistrikan jantung, yang biasanya disebut takikardia ventrikel atau fibrilasi ventrikel.
Efek serangan jantung mendadak ini sangat fatal, dan hanya 5% dari penderita yang dapat bertahan hidup jika mereka mendapatkan bantuan dengan sangat cepat. Demikian catat ahli gangguan irama jantung Bruce Wilkoff, MD, dilansir dari Cleveland Clinic.
Lalu, apa yang terjadi pada jantung Anda ketika mengalami serangan jantung mendadak ini?
Menurut dr. Wilkoff, jantung akan berpacu dengan cara yang bingung dan tidak teratur. Sirkulasi darah berhenti, sehingga darah tidak mencapai paru-paru atau otak. Penderitanya akan tiba-tiba pingsan, tidak merespons, berhenti bernapas, dan tidak ada denyut nadi.
Dr. Wilkoff pun menjelaskan lima hal yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami serangan jantung mendadak. Apa saja?
1. Memiliki jaringan parut
Masalah ritme jantung ini sering ditelusuri ke otot jantung yang terluka. Menurut dr. Wilkoff, bekas luka menyebabkan sinyal listrik jantung menjadi bingung dan terfragmentasi.
Penyebab paling umum adalah penyakit arteri koroner dan kardiomiopati. Serangan jantung membuat otot jantung kelaparan, menyebabkan kematian jaringan dan menimbulkan jaringan parut. Infeksi virus, kondisi herediter atau autoimun, dan keracunan bahan kimia juga dapat merusak dan melukai otot jantung.
2. Fraksi ejeksi rendah
Jika Anda mengalami gagal jantung dengan fraksi ejeksi 35% atau kurang, jantung Anda tidak dapat memompa cukup darah pada setiap detaknya. Ini mengganggu ritme jantung Anda dan meningkatkan risiko kematian jantung mendadak.
“Memasukkan defibrillator jantung implan akan menyelamatkan Anda dari episode irama jantung yang cepat dan tidak teratur ini, memperpanjang hidup Anda dan memungkinkan Anda untuk kembali ke kehidupan normal,” kata Dr. Wilkoff.
Baca Juga: Sudah Gaya Hidup Sehat, Apakah Risiko Meninggal Mendadak Akibat Serangan Jantung Tetap Ada?
3. Riwayat keluarga
Jika keluarga dekat - salah satu orang tua atau saudara Anda - meninggal muda karena alasan yang tidak diketahui, maka risiko kematian dini dan mendadak Anda juga lebih tinggi (salah satunya akibat serangan jantung mendadak).
4. Merokok
Merokok secara dramatis meningkatkan risiko serangan jantung dan kematian jantung mendadak.
“Ketika kami memasang defibrillator jantung implan pada perokok, kami menemukan mereka membutuhkan lebih banyak kejutan dari perangkat mereka, yang berarti mereka mengalami lebih banyak serangan jantung,” kata dr. Wilkoff.
5. Gagal jantung yang tidak mendapat penanganan yang baik
"Jika Anda memiliki gejala gagal jantung (sesak napas dan intoleransi olahraga) dengan atau tanpa fraksi ejeksi rendah, Anda memerlukan obat," kata dr. Wilkoff.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
- 5 Rekomendasi Lipstik Anti Luntur Saat Dipakai Makan Gorengan
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien