Suara.com - Organisasi Kesehatan Dunia baru-baru ini menetapkan cacar monyet atau monkeypox sebagai darurat kesehatan global.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, dirinya diminta untuk melihat beberapa elemen mengapa wabah cacar monyet akhirnya ditetapkan sebagai PHEIC yang harus diwaspadai beberapa negara.
“Saya diminta untuk mempertimbangkan lima elemen dalam memutuskan apakah wabah merupakan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional (PHEIC),” tulis akun twitter WHO, Sabtu (23/7/2022).
Penetapan itu menimbulkan kekhawatiran tersendiri di masyarakat. Dilansir dari UN News, virus ini menyebar melalui kontak fisik dengan seseorang yang memiliki gejala. Ruam, cairan tubuh (seperti cairan, nanah, atau darah dari lesi kulit), dan koreng sangat menular.
Bisul, lesi atau luka juga bisa menular karena virus dapat menyebar melalui air liur. Kontak dengan benda-benda yang pernah kontak dengan orang yang terinfeksi - seperti pakaian, tempat tidur, handuk - atau benda-benda seperti peralatan makan juga dapat menjadi sumber infeksi.
Orang yang memiliki penyakit menular saat mereka memiliki gejala (biasanya dalam dua sampai empat minggu pertama). Tidak jelas apakah orang yang tidak menunjukkan gejala dapat menularkan penyakit ini atau tidak.
Kondisi ini dapat menyebar dari satu orang ke orang lain melalui kontak fisik yang dekat, termasuk kontak seksual. Namun, saat ini tidak diketahui apakah dapat menyebar melalui transmisi seksual (misalnya, melalui air mani atau cairan vagina). Namun, kontak kulit-ke-kulit langsung dengan lesi selama aktivitas seksual dapat menyebarkan virus.
Ruam kadang-kadang dapat muncul di alat kelamin dan di mulut, yang mungkin berkontribusi terhadap penularan selama kontak seksual. Oleh karena itu, kontak mulut ke kulit dapat menyebabkan penularan bila terdapat lesi pada salah satu bagian tersebut.
Ruam juga bisa menyerupai beberapa penyakit menular seksual, seperti herpes dan sifilis. Ini mungkin menjelaskan mengapa beberapa kasus dalam wabah saat ini telah diidentifikasi di antara pria yang mencari perawatan di klinik kesehatan seksual.
Baca Juga: 5 Hal yang Tak Boleh Dilakukan Sebelum Bercinta: Makan Berat Hingga Lupa Pelumas
Risiko terinfeksi tidak terbatas pada orang yang aktif secara seksual atau pria yang berhubungan seks dengan pria. Siapa pun yang memiliki kontak fisik dekat dengan seseorang yang menular berisiko.
Sejumlah pemberitaan mengatakan bahwa cacar monyet menular lewat seksual, terutama di kalangan gay. Namun, WHO menjelaskan bahwa ini tidak dapat diterima.
Siapa pun yang memiliki kontak fisik dekat dalam bentuk apa pun dengan seseorang dengan Monkeypox berisiko, terlepas dari siapa mereka, apa yang mereka lakukan, dengan siapa mereka memilih untuk berhubungan seks, atau faktor lainnya.
WHO menunjukkan bahwa tidak dapat diterima untuk menstigmatisasi orang karena suatu penyakit.
Siapa pun yang telah terinfeksi, atau yang membantu merawat orang yang tidak sehat, harus didukung: stigma kemungkinan hanya akan memperburuk keadaan dan memperlambat upaya untuk mengakhiri wabah.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Akun RHB Sekuritas Milik Wadirut Dijebol, Ada Transaksi Janggal 3,6 Juta Saham BOBA
-
Danantara Janji Bangkitkan Saham Blue Chip BUMN Tahun Ini
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
Terkini
-
Perawatan Kulit Personal Berbasis Medis, Solusi Praktis di Tengah Rutinitas
-
Implan Gigi Jadi Solusi Modern Atasi Masalah Gigi Hilang, Ini Penjelasan Ahli
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026