Suara.com - Tidak buang air kecil alias pipis jadi salah satu gejala utama dari gagal ginjal akut misterius pada anak-anak. Penyakit yang belum diketahui sebabnya itu telah mengenai 131 anak di Indonesia sejak awal 2022, data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) per 10 Oktober.
Dokter anak Lucia Nauli Simbolon, Sp.A., menjelaskan bahwa tidak buang air kecil memang berbahaya untuk kesehatan ginjal anak.
"Itu bahaya banget. Saya selalu bilang kecukupan cairan pada anak-anak itu makanya harus dihitung, harus ditakar anak butuh cairan berapa karena ginjal itu penting banget untuk membuang racun di urine," jelasnya dihubungi Suara.com, Rabu (12/10/2022).
Ia menambahkan, ginjal termasuk organ yang tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri. Sehingga, apabila sudah rusak berisiko menjadi permanen.
"Berbeda contohnya kayak liver yang kalau rusak dia masih bisa ada sel baru, kalau ginjal enggak," imbuhnya.
Untuk itu, ia berpesan agar orang tua perlu memperhatikan asupan cairan anak jangan sampai dehidrasi. Selain itu, frekuensi buang air kecil anak juga perlu dipastika.
"Ada pipis atau enggak dalam waktu misalnya 6 jam itu ada pipis atau enggak, atau 8 jam minumnya gimana. Bibirnya kering atau enggak," tuturnya.
Sebelumnya, Sekretaris Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nefrologi IDAI dr. Eka Laksmi Hidayati, SpA(K)., juga menjelaskan bahwa penyebab gangguam ginjal akut misterius itu belum diketahui penyebabnya.
Lapiran yang diterima PB IDAI Pusat bahwa ratusan anak yang alami sakit tersebut seluruhnya dibawa ke rumah sakit dalam keadaan tidak bisa buang air kecil.
Baca Juga: Anak yang Alami Gangguan Ginjal Akut Misterius Tidak Boleh Banyak Minum, Ini Alasannya
Penyebab tidak buang air kecil itu ternyata juga bukan disebabkan adanya sumbatan pada saluran kencing. Melainkan memang ginjalnya tidak memproduksi air kencing sama sekali, sehingga tidak ada yang dikeluarkan.
"Kami sudah memasang kateter pada anak, tapi tetap kering. Dan kami juga melihat di USG tidak ada produksi urine, tidak ada sumbatan yang mungkin bisa menghambat pengeluaran urine. Jadi itu adalah hal yang berbeda," kata dokter Eka dalam konferensi pers virtual beberapa waktu lalu.
Apabila ada sumbatan karena kelainan bentuk, kelainan bawaan, atau pun tumor di luar ginjal yang kemudian menghambat aliran urine, dengan pemeriksaan USG seharusnya kondisi tersebut bisa ditemukan.
Lantaran akar masalah dari penyakit tersebut belum diketahui, dokter Eka berpesan kepada orang tua agar jangan mengabaikan bila volume buang air kecil anak tiba-tiba berkurang drastis. Sebelum itu, apabila anak alami gejala batuk pilek, panas, diare, hingga muntah harus selalu dipantau produksi urine anaknya. Bila ada penurunan, maka harus segera dibawa ke rumah sakit.
Berita Terkait
-
Daftar Rest Area Tol Trans Jawa untuk Perjalanan Liburan Nataru 2026, Jangan Sepelekan Tahan Pipis
-
Deteksi Dini Bahaya Tersembunyi, Cek Kesehatan Gratis Tekan Ledakan Kasus Gagal Ginjal
-
Ginjal Rusak Tanpa Gejala? Inovasi Baru Ini Bantu Deteksi Dini dengan Akurat!
-
Penting! Batas Minum Air Putih untuk Penderita Ginjal, Jangan Kelebihan
-
6 Gejala Penyakit Ginjal yang Sering Muncul di Malam Hari, Waspada!
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
Pilihan
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
-
Bikin APBD Loyo! Anak Buah Purbaya Minta Pemerintah Daerah Stop Kenaikan TPP ASN
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
Terkini
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang
-
Cuma Pakai Dua Jari, Dokter Ungkap Cara Deteksi Sakit Jantung dari Raba Nadi