Suara.com - Meski Kota Yogyakarta sudah menerapkan teknologi nyamuk Wolbachia sejak 2016 lalu, namun wilayah tersebut masih tergolong sebagai kota endemis DBD alias demam berdarah dengue.
Fakta ini membuat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tetap membutuhkan 3M Plus sebagai upaya pencegahan DBD, yaitu menguras penampungan air, menutup rapat, mendaur ulang barang bekas, dan plus yang mengacu pada langkah tambahan seperti vaksin hingga menggunakan obat nyamuk.
Kepala Dinas Kesehatan DIY, drg. Pembajun Setyaningastutie, M.Kes mengatakan untuk menjadikan Yogyakarta keluar sebagai endemis DBD, memerlukan perubahan pola pikir dan perilaku.
"Masalah utama dalam penanggulangan penyakit seperti DBD adalah perilaku. Perilaku hidup bersih dan sehat menjadi kunci utama," ujar Pembajun dalam keterangan yang diterima Suara.com, Kamis (22/5/2025).
Adapun langkah pencegahan DBD yaitu dengan cara menghindari gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, sehingga masyarakat sebaiknya tidak menerapkan kebiasaan yang bisa memicu terbentuknya sarang nyamuk.
Tapi apabila sarang nyamuk sudah terbentuk maka harus dilakukan PSN, yaitu pemberantasan sarang nyamuk dengan pendekatan 3M Plus, ditambah kembali digalakkan G1R1J, yakni Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik.
Jumantik adalah juru pemantau jentik, yaitu petugas yang bertugas memantau dan memberantas jentik nyamuk, terutama nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang menjadi penyebab demam berdarah (DBD). Orang ini yang nantinya bertugas 'merazia' jentik nyamuk yang ada di rumah dan sekitarnya.
Kabar baiknya, sederet informasi ini kembali disebarkan dari rumah ke rumah oleh Pemerintah DIY bersama Soffell, melalui program Bebas Nyamuk, Keluarga Sehat, dan Bebas DBD dengan menyasar 50.000 warga.
Sebanyak 270 kader Jumantik dilibatkan untuk mengedukasi sekaligus memberikan losion antinyamuk pada warga di wilayah Kota Yogyakarta (Kemantren Umbulharjo), Kabupaten Sleman (Kapanewon Prambanan), dan Kabupaten Gunungkidul (Kapanewon Wonosari).
Baca Juga: 8 Rekomendasi Tempat Sarapan Dekat Tugu Jogja: Enak dan Murah Meriah!
Di sisi lain, Head of HR & PR, RM Ardiantara mengatakan penanganan DBD tidak hanya pada pengobatan tapi juga pencegahan. Apalagi jika DBD menyerang seorang anggota keluarga, maka akan mengganggu kualitas hidup satu keluarga, mengingat penyakit ini perlu waktu cukup lama untuk bisa pulih sepenuhnya.
"Kami percaya bahwa edukasi kesehatan bukan sekadar informasi, tetapi investasi. Investasi dalam membentuk generasi yang lebih sadar, lebih tanggap, dan lebih siap menghadapi ancaman penyakit seperti DBD," papar Ardiantara.
Melansir Profil Kesehatan Kota Yogyakarta 2022, data kasus DBD pada 2021 terdapat 93 kasus dengan 1 di antaranya kasus kematian.
Berdasarkan lokasi kejadian, kecamatan yang endemis tinggi di Kota Yogyakarta adalah kecamatan di perbatasan Kabupaten Bantul dan Sleman, antara lain Kecamatan Umbulharjo 18 kasus, Gondokusuman ada 15 kasus, dan sebanyak 11 kasus serta 1 kematian di Kecamatan Wirobrajan.
Di sisi lain, pada 2016 Yogyakarta telah menerapkan teknologi nyamuk Wolbachia, yaitu nyamuk Aedes aegypti yang sudah 'diisi' dengan bakteri alami bernama Wolbachia. Ini karena Wolbachia bisa menghambat replikasi virus dengue di tubuh nyamuk, sehingga saat menggigit manusia, nyamuk tersebut tidak menularkan virus dengue.
Setelah teknologi ini diterapkan, kasus DBD di Yogyakarta berangsur menurun, yaitu rekor terendah ditemukan 67 kasus pada 2023. Padahal pada 2016 sebelumnya, jumlah kasus mencapai 1.700 per tahun.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Kulit Wajah di Indomaret dan Harganya
- Oki Setiana Dewi Jadi Kunci Kasus Pelecehan Syekh Ahmad Al Misry Terbongkar Lagi, Ini Perannya
- 7 Sabun Cuci Muka dengan Kolagen untuk Kencangkan Wajah, Bikin Kulit Kenyal dan Glowing
- 6 HP Realme Kamera Bagus dan RAM Besar, Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan
- Cushion Apa yang Tahan 12 Jam Tanpa Luntur? Ini 4 Pilihan Terbaiknya
Pilihan
-
Kisah di Balik Korban Helikopter Sekadau, Perjalanan Terakhir yang Tak Pernah Sampai
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
-
Siti Nurhaliza Alami Kecelakaan Beruntun di Jalan Tol
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
Terkini
-
Ini Bahaya Tersembunyi Ikan Sapu-Sapu yang Mengancam Ekosistem Jakarta
-
Apakah Ikan Sapu-Sapu Bisa Dimakan? Ini Bahaya untuk Manusia dan Ekosistem
-
Varises Bukan Sekadar Masalah Estetika, Kenali Sinyal Bahaya Sebelum Jadi Komplikasi Serius
-
Tren Lari Meningkat, Waspadai Risiko Cedera Otot dan Memar Ikut Mengintai
-
Perempuan Berlari 2026: Integrasi Olahraga, Kesehatan Mental, dan Literasi Keuangan
-
Bukan Sekadar Sekolah, Anak Neurodivergent Butuh Dukungan Menyeluruh untuk Tumbuh
-
Awas Logam Berat! Ini 7 Deretan Risiko Kesehatan Jika Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu
-
Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa
-
Saat Screen Time Tak Bisa Dihindari, Ini Rekomendasi Tontonan Anak yang Aman dan Edukatif
-
Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak