Suara.com - Tingkat pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih jauh dari harapan. Data Survey Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 mencatat hanya 55,5% bayi yang mendapat ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupannya. Padahal, menyusui merupakan fase krusial bukan hanya untuk pemenuhan nutrisi, tetapi juga pembentukan ikatan emosional antara ibu dan anak.
Di balik angka tersebut, banyak ibu menghadapi tantangan berat. Mulai dari kurangnya pengetahuan soal teknik menyusui, luka pada puting yang sering dianggap wajar, hingga minimnya dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar.
Kondisi ini sering membuat ibu merasa tertekan, bahkan menghentikan proses menyusui lebih cepat dari yang seharusnya.
“Di Layanan Laktasi RS Sari Asih cabang Ciputat, kami melihat banyak ibu yang sebenarnya ingin menyusui secara optimal, namun merasa kesepian atau kurang percaya diri. Maka dari itu, program seperti ini sangat penting untuk meningkatkan semangat sekaligus memperdalam literasi menyusui,” jelas dr. Hikmah Kurniasari, MKM, CIMI, IBCLC, Dokter Umum dengan keahlian internasional di bidang konseling menyusui serta pijat bayi dan MP-ASI.
Faktor budaya juga menambah kerumitan. Banyak tradisi yang menormalisasi rasa sakit saat menyusui tanpa penanganan medis, padahal hal itu dapat menghambat produksi ASI.
Edukasi berbasis bukti ilmiah menjadi langkah penting untuk mengubah persepsi yang keliru sekaligus meningkatkan kualitas pemberian ASI.
Peran tenaga kesehatan, konseling, serta pendampingan psikologis sangat menentukan rasa percaya diri ibu. Sementara itu, di era digital, akses pada informasi yang benar dapat menjadi peluang besar untuk memperluas kesadaran mengenai pentingnya ASI eksklusif.
Untuk memperingati Pekan Menyusui Sedunia 2025, Liberty Indonesia bersama RS Sari Asih menggelar kampanye edukatif bertajuk Giveaway Spesial Breastfeeding Week 2025. Kegiatan ini dihadirkan sebagai bentuk apresiasi terhadap perjuangan para ibu menyusui sekaligus ruang berbagi pengalaman.
“Menyusui merupakan perjalanan emosional dan fisik yang luar biasa bagi setiap Mom. Melalui kampanye ini, kami ingin menghadirkan ruang apresiasi dan berbagi antar sesama Mom, sekaligus mendukung mereka dengan produk yang aman dan berkualitas,” ujar Regita Infantri, PIC Liberty Indonesia, Kamis (7/8/2025).
Baca Juga: Kisah Mpok Alpa dan Dilema Menyusui bagi Pejuang Kanker Payudara: Amankah untuk Bayi?
Liberty menekankan aspek keamanan produk untuk mendukung tumbuh kembang bayi.
“Sebagai Brand Lokal rangkaian produk Liberty yang kami luncurkan memiliki keunggulan dalam segi keamanan berkat material unggulan yang digunakan, serta diformulasikan khusus untuk bayi dan anak. Ini ditambah dengan uji laboratorium yang telah kami lakukan sehingga memenuhi syarat ijin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan bersertifikat Halal oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI),” jelas Erwin Lasmana, Direktur PT. Inti Cosmetic Lestari.
Dalam kampanye ini, Liberty dan RS Sari Asih memberikan hadiah berupa saldo e-wallet senilai total Rp500.000 untuk dua orang pemenang, serta paket produk perawatan bayi Liberty Indonesia, termasuk Liberty Hair Oil Candlenut Oil + Urang Aring Oil dan Liberty Head To Toe Baby Wash non-SLS serta anti-irritant.
"Melalui inisiatif seperti ini, kami berharap bisa menjadi bagian dari perjalanan tumbuh kembang bayi Indonesia, dimulai dari sentuhan pertama sang ibu,” tambah Regita.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lipstik Warna Apa yang Cocok di Usia 50-an? Ini 5 Pilihan agar Terlihat Fresh dan Lebih Muda
- 5 Rekomendasi Sampo Kemiri Penghitam Rambut dan Penghilang Uban, Mulai Rp10 Ribuan
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 5 Cat Rambut yang Tahan Lama untuk Tutupi Uban, Harga Mulai Rp17 Ribuan
Pilihan
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
Terkini
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya