- Stunting di Indonesia terkendala kurangnya edukasi dan deteksi dini.
- Apotek berperan penting sebagai pusat informasi kesehatan terdekat, deteksi awal, dan kolaborasi dengan tenaga medis untuk edukasi berkelanjutan.
Suara.com - Masalah stunting di Indonesia bukan hanya soal gizi, tapi juga tentang kesenjangan akses terhadap informasi kesehatan dan deteksi dini yang masih terbatas. Banyak orang tua belum memahami bahwa pertumbuhan anak perlu dipantau secara rutin, bukan hanya dilihat dari berat badan, tetapi juga tinggi badan dan perkembangan perilaku. Padahal, masa 1.000 hari pertama kehidupan adalah periode paling krusial yang menentukan kualitas kesehatan anak di masa depan.
Di lapangan, masih banyak keluarga yang belum mendapatkan pendampingan cukup untuk mengenali tanda-tanda awal stunting. Edukasi gizi pun kerap berhenti di level kampanye, tanpa diikuti akses layanan yang mudah dijangkau.
Dalam situasi ini, peran pihak non-pemerintah dan sektor swasta menjadi penting untuk mengisi celah literasi kesehatan masyarakat, termasuk melalui kanal yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari: apotek.
Berikut sejumlah alasan mengapa apotek berperan penting dalam upaya edukasi dan pencegahan stunting:
1. Apotek adalah pusat kesehatan paling dekat dengan masyarakat
Bagi banyak keluarga, apotek menjadi tempat pertama yang didatangi ketika membutuhkan informasi kesehatan. Di sinilah edukasi sederhana tentang gizi anak dan tanda-tanda stunting dapat disampaikan langsung.
“Apotek memiliki posisi strategis dalam mendukung edukasi kesehatan masyarakat. Tidak hanya menjual obat, tetapi juga menjadi pusat informasi yang dapat membantu masyarakat memahami pentingnya pencegahan stunting sejak dini,” ujar Feri Irawan, Marketing & Partnership Manager PT K-24 Indonesia.
2. Deteksi dini bisa dimulai dari apotek
Melalui kerja sama dengan tenaga kesehatan dan perusahaan nutrisi, apotek dapat memfasilitasi pemeriksaan tinggi dan berat badan anak, serta memberikan panduan awal bagi orang tua.
Baca Juga: Prabowo Puji Kinerja Kepala BGN Kembalikan Dana MBG Rp 70 Triliun: Dia Patriot
Menurut dr. Tita Rahmawati, Head of Medical Affairs PT Sarihusada Generasi Mahardhika, “Masalah stunting tidak hanya disebabkan oleh kekurangan gizi, tetapi juga keterlambatan deteksi. Kolaborasi dengan sektor seperti apotek dapat memperkuat peran edukasi masyarakat dalam mengenali tanda-tanda risiko stunting lebih awal.”
3. Memperkuat kolaborasi antara apotek dan tenaga medis
Kesadaran akan peran tersebut kini semakin diperkuat melalui kegiatan Festival Sehat Ceria si Kecil yang digelar di Lapangan Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, pada 6 Oktober 2025. Acara hasil kolaborasi antara K-24 Group dan PT Sarihusada Generasi Mahardhika ini menghadirkan lebih dari 2.000 peserta keluarga, dengan fokus pada pemeriksaan tumbuh kembang, edukasi gizi, dan deteksi dini risiko stunting.
Kegiatan seperti Festival Sehat Ceria si Kecil menjadi contoh nyata bagaimana apotek dapat berkolaborasi dengan tenaga medis, ahli gizi, dan komunitas untuk memberikan dampak yang lebih luas. Selain pemeriksaan tumbuh kembang, peserta juga mendapatkan konsultasi gizi dan literasi kesehatan yang aplikatif untuk kehidupan sehari-hari.
4. Edukasi berkelanjutan dari tempat yang paling dekat
dr. Tita menambahkan, “Kami percaya bahwa edukasi yang dimulai dari tempat yang paling dekat dengan masyarakat, seperti apotek, bisa memberikan dampak nyata.”
Berita Terkait
-
Apakah Susu Rendah Lemak Benar-Benar Lebih Sehat? Ini Penjelasannya
-
Pegawai Laporkan Kepala SPPG di Bekasi ke Polisi: Ngaku Dilecehkan, Dimaki hingga Dilarang Berhijab!
-
Evaluasi Setahun Pemerintahan Prabowo, Kinerja Kemenkes hingga BGN Dinilai Layak Dievaluasi
-
Buntut Langgar SOP, BGN Setop Operasional 106 SPPG
-
Prabowo Puji Kinerja Kepala BGN Kembalikan Dana MBG Rp 70 Triliun: Dia Patriot
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
Pilihan
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
Terkini
-
Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari
-
Tes Genetik Makin Terjangkau, Indonesia Targetkan 200 Ribu Sequencing DNA untuk Deteksi Penyakit
-
Kenali Ragam Penyakit Ginjal dan Pilihan Pengobatan Terbaiknya
-
Solusi Membasmi Polusi Kekinian ala Panasonic
-
Gaya Hidup Modern Picu Asam Urat, Ini Solusi Alami yang Mulai Direkomendasikan
-
Memahami Autisme dari Dekat: Kenapa Dukungan Lingkungan Itu Penting untuk Anak ASD
-
17.500 Paket Gizi untuk Masa Depan: Langkah Konkret Melawan Stunting di Bekasi
-
Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata