/
Kamis, 28 April 2022 | 19:19 WIB
Sumber: Freepik

Indotnesia - Mudik selalu mewarnai perayaan Hari Raya Idul Fitri. Namun, pandemi Covid-19 sempat membuat tradisi tahunan tersebut dibatasi, bahkan dilarang. Kini,sekitar 85 juta orang akan melakukan perjalanan ke kampung halaman menyambut Lebaran.

Mudik atau pulang kampung biasanya menjadi ajang silaturahmi untuk bertemu keluarga besar. Tapi, sebenarnya bagaimana kita akhirnya akrab dengan mudik jelang hari raya?

Fenomena sosial ini ternyata telah menjadi ciri khas jelang Lebaran sejak awal tahun 1970-an sebagai dampak dari migrasi penduduk ke kota-kota besar. Jika dirunut berdasarkan sejarah di masa lalu, mudik telah menjadi kebiasaan sejak zaman kerajaan Majapahit. 

Mengutip Suara.com, konon, kegiatan mudik jadi tradisi para petani Jawa pulang ke daerah asal mereka untuk membersihkan makam leluhur.

Hingga pada awal abad ke-21, tujuan mudik mulai bergeser dari motif tradisionalistik, yakni pulang ke kampung untuk mengisi kegiatan dan pola kehidupan tradisional, menjadi lebih rasional atau melakukan aktivitas mudik sebagai rekreasi.

Selain itu, mudik jadi ajang pertemuan keluarga besar lantaran momen tersebut dinilai lebih praktis dan efisien. Sedangkan secara bahasa, mudik dalam bahasa Jawa merupakan singkatan dari 'mulih diluk' yang berarti pulang ke kampung halaman sebentar. Sementara dalam bahasa Betawi, mudik adalah singkatan dari 'mulih udik' atau pulang kampung.

Berdasarkan riset Universitas Indonesia, mudik secara sosiologis memiliki dua keuntungan. Pertama, sebagai sarana pemerataan sosial-ekonomi. Kedua, mudik dapat membuat seseorang mengisi kembali energi produktifnya.

Seakan telah mengakar sebagai kebiasaan menjelang Hari Raya Idul Fitri, mudik menjadi tradisi tak terpisahkan bagi masyarakat Indonesia. Apalagi, banyak faktor membuat mudik menguntungkan secara sosial-kultural hingga sarana pemerataan ekonomi.

Load More