Indotnesia - Mudik selalu mewarnai perayaan Hari Raya Idul Fitri. Namun, pandemi Covid-19 sempat membuat tradisi tahunan tersebut dibatasi, bahkan dilarang. Kini,sekitar 85 juta orang akan melakukan perjalanan ke kampung halaman menyambut Lebaran.
Mudik atau pulang kampung biasanya menjadi ajang silaturahmi untuk bertemu keluarga besar. Tapi, sebenarnya bagaimana kita akhirnya akrab dengan mudik jelang hari raya?
Fenomena sosial ini ternyata telah menjadi ciri khas jelang Lebaran sejak awal tahun 1970-an sebagai dampak dari migrasi penduduk ke kota-kota besar. Jika dirunut berdasarkan sejarah di masa lalu, mudik telah menjadi kebiasaan sejak zaman kerajaan Majapahit.
Mengutip Suara.com, konon, kegiatan mudik jadi tradisi para petani Jawa pulang ke daerah asal mereka untuk membersihkan makam leluhur.
Hingga pada awal abad ke-21, tujuan mudik mulai bergeser dari motif tradisionalistik, yakni pulang ke kampung untuk mengisi kegiatan dan pola kehidupan tradisional, menjadi lebih rasional atau melakukan aktivitas mudik sebagai rekreasi.
Selain itu, mudik jadi ajang pertemuan keluarga besar lantaran momen tersebut dinilai lebih praktis dan efisien. Sedangkan secara bahasa, mudik dalam bahasa Jawa merupakan singkatan dari 'mulih diluk' yang berarti pulang ke kampung halaman sebentar. Sementara dalam bahasa Betawi, mudik adalah singkatan dari 'mulih udik' atau pulang kampung.
Berdasarkan riset Universitas Indonesia, mudik secara sosiologis memiliki dua keuntungan. Pertama, sebagai sarana pemerataan sosial-ekonomi. Kedua, mudik dapat membuat seseorang mengisi kembali energi produktifnya.
Seakan telah mengakar sebagai kebiasaan menjelang Hari Raya Idul Fitri, mudik menjadi tradisi tak terpisahkan bagi masyarakat Indonesia. Apalagi, banyak faktor membuat mudik menguntungkan secara sosial-kultural hingga sarana pemerataan ekonomi.
Berita Terkait
-
Takbiran Idul Adha Berapa Hari? Ini Perbedaannya dengan Takbir Idul Fitri
-
Jelang Idul Adha, Stasiun Pasar Senen Dipadati Penumpang Kereta Jarak Jauh
-
Perbedaan Takbir Idul Adha dan Idul Fitri: Durasi, Waktu, dan Hukumnya
-
Fakta Sidang Isbat: Kenapa Idul Adha Bisa Kompak tapi Idul Fitri Beda Hari?
-
Rindu yang Terbayar: Perjuangan Mudik Guru Sekolah Rakyat Kepulauan Anambas
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Sudaryono Copot 137 Kepala Dapur MBG, Penyebabnya Keracunan hingga Ngentit Uang
-
Seni Jathilan 'Gemparkan' Pasar Ngijon, Ketika Budaya Gerakkan Roda Ekonomi
-
Kabar Bagus! Harga Minyak Dunia Turun Usai AS - Iran Mau Berunding Lagi
-
15 Ide Lomba 17 Agustus yang Cocok untuk Semua Usia, Seru dan Tidak Membosankan
-
Berburu Kursi Empuk, Trik Pragmatis Golkar 'Anti-Oposisi' Demi Amankan Kekuasaan
-
Harda Tak Soal Isu Kenaikan Gaji Kepala Daerah, Jamin Tak Ada PHK PPPK
-
Cerita dari Taman Puring: Begini Serunya Mengikuti Latihan Komunitas Parkour Jakarta
-
Apakah Implora Jelly Tint Tahan Lama? Ini Klaim dan Review Jujur Pengguna
-
Buntut Sidak Jalan Suryakencana, Wawali Jenal Mutaqin Evaluasi Bagi Hasil Juru Parkir
-
Misteri Kematian Mantan Istri Polisi di Medan, Propam Dalami Peran Brigadir IH