Suara.com - Banyak ahli menyarankan tidur minimal delapan jam sehari. Itu berarti, tidur mengambil sepertiga dari hidup kita. Dan kita mulai bertanya-tanya mengapa begitu banyak, dan berapa banyak sebenarnya tidur yang benar-benar kita butuhkan?
Karena kurang tidur tak bagus juga untuk kesehatan tubuh.
Ternyata, jawabannya tak terlalu memuaskan karena tidak ada satu patokan yang tepat yang berlaku umum untuk semua orang. Karena banyaknya tidur yang dibutuhkan benar-benar bervariasi dari orang ke orang.
Anda bisa saja menjadi salah satu dari orang-orang yang sangat jarang mendapatkan benar-benar tidur beberapa jam, atau malah berada di ujung spektrum, apa yang dokter sebut sebagai "tidur panjang, yang mungkin membutuhkan 11 jam semalam.
Tapi ada beberapa fakta tentang tidur, yang mungkin dapat membantu Anda mengetahui berapa banyak tidur yang sebenarnya Anda butuhkan, dan bagaimana mendapatkan istirahat malam yang berkualitas.
Biasanya dokter merekomendasikan untuk tidur selama tujuh sampai sembilan jam. Ini disebut akan membuat badan benar-benar fresh. Tetapi jadwal tidur ini perlu disesuaikan dengan chronotype alami jam tubuh yang menentukan kapan paling nyaman tidur dan terjaga. Dan, setiap orang memiliki chronotype alami, atau
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sebenarnya ada empat chronotypes alami. Yang pertama adalah tipe burung hantu, yakni mereka yang paling nyaman terjaga dan waspada di malam hari.
Tipe kedua adalah tipe burung "Larks" atau dikenal sebagai orang-orang pagi. Masuk dalam kelompok ini adalah mereka yang aktif di pagi hari dan malam adalah waktu yang benar-benar efektif untuk tidur.
Sedangkan dua kelompok lainnya adalah mereka yang memiliki jadwal di antara dua tipe ini. Kelompok ketiga adalah mereka yang ingin tidur sedikit tapi terasa lamban baik pagi dan sore hari. Energi mereka memuncak di siang hari.
Sedangkan kelompok terakhir adalah mereka pergi tidur lebih awal dari tipe burung hantu, tapi memiliki tingkat energi yang tinggi baik pada pagi maupun sore hari.
Jika jadwal Anda tidak selaras dengan chronotype Anda, Anda mungkin akan sulit tidur atau merasa lelah sepanjang hari. (businessinsider.co.id)
Berita Terkait
-
Kenapa Kasur Hotel Selalu Nyaman? Ini Rahasia di Baliknya
-
5 Desain Rumah 6x9 dengan 3 Kamar Tidur, Cocok untuk Lahan Terbatas
-
Menantang Budaya Sibuk: Mengapa Istirahat Sering Kali Terasa Bersalah?
-
3 Cara Aman Tidur di Mobil Saat Perjalanan Jauh: Solusi Tubuh Bugar Tanpa Masuk Angin
-
4 Makanan yang Membantu Meningkatkan Kualitas Tidur
Terpopuler
- 5 Pilihan HP RAM 16 GB Paling Murah, Penyimpanan Besar dan Performa Kencang
- Dari Koruptor Kembali ke Rakyat: Aset Rp16,39 Miliar Kini Disulap Jadi Sekolah hingga Taman di Jabar
- Prabowo Bakal Copot Lagi Pejabat 'Telur Busuk', Hashim Djojohadikusumo: Semua Opsi di Atas Meja
- 35 Link Poster Ramadhan 2026 Simpel dan Menarik, Gratis Download!
- Kronologi Penembakan Pesawat Smart Air di Papua: Pilot dan Kopilot Gugur Usai Mendarat
Pilihan
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
-
Lagu "Cita-citaku (Ga Jadi Polisi)" Milik Gandhi Sehat Ditarik dari Peredaran, Ada Apa?
-
Geger Taqy Malik Dituding Mark-up Harga Wakaf Alquran, Keuntungan Capai Miliaran
-
Kabar Duka: Mantan Pemain Timnas Indonesia Elly Idris Meninggal Dunia
Terkini
-
5 Rekomendasi Baju Cheongsam Anak Laki yang Keren dan Menggemaskan
-
Profil Zian Fahrezi Qori Cilik dari Bima, Juara Dunia MTQ di Irak dan Sederet Prestasinya
-
Dari Sirkuit ke Streetwear, Formula 1 Kini Resmi Jadi Inspirasi Fashion Global
-
Mulai Dibuka Hari Ini, Simak Link dan Cara Tukar Uang Baru via Aplikasi PINTAR BI
-
Ini Dia Drive Thru Kafe Jus Buah Pertama di Indonesia yang Bikin Sehat Makin Praktis
-
Ramalan Keuangan Zodiak 14 Februari 2026: 6 Zodiak Ini Makin Cuan di Hari Valentine
-
30 Link Download Poster Takjil Ramadan, Estetik dan Mudah Diedit Buat Jualan atau Baksos
-
Imlek Perayaan untuk Agama Apa? Begini Makna Aslinya
-
Fokus Konservasi Budaya dan Lingkungan, Siak Perkuat Pariwisata Berkelanjutan
-
Menemukan Diri di Tengah Hutan: Mengapa Ubud Populer Jadi Tempat Healing