Suara.com - Beberapa titik daerah di Provinsi Sumatera, kini tengah mengalami bencana banjir bandang. Selain menelan banyak korban jiwa, peristiwa tersebut juga menyebabkan berbagai kerusakan rumah, hingga hanyutnya fasilitas umum. Sejumlah warga kini harus mengungsi di tempat yang lebih aman.
Tak tinggal diam, pemerintah langsung bergerak cepat untuk mengatasi bencana yang terjadi di Sumatera. Bantuan pun terus disalurkan. Lantas apa penyebab banjir Sumatera? Berikut ini Suara.com telah merangkum penyebab utamanya.
Penyebab Banjir Sumatera
Menurut Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (Dirjen PDASRH), Dyah Murtiningsih, penyebab banjir besar di Sumatera karena hujan ekstrem akibat fenomena siklon tropis.
Lebih lanjut, Dyah menyatakan bahwa sebagian besar Daerah Aliran Sungai (DAS) terdampak terletak di Areal Penggunaan Lain (APL). Karena kondisi inilah, ia mengklaim jika wilayah itu lebih rentan mengalami bencana hidrometeorologi.
Meski demikian, Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sumatera Utara (Sumut) menilai bahwa penyebab banjir bandang dan tanah longsor di Sibolga dan Tapanuli tidak sepenuhnya karena cuaca ekstrem. Menurut WALHI, bencana itu tidak bisa lepas dari campur tangan manusia.
Manajer Advokasi dan Kampanye WALHI Sumut Jaka Kelana Damanik menentang anggapan jika bencana yang mengetikan itu, hanya disebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi tanpa keterlibatan tangan manusia.
Jaka memaparkan saat banjir terjadi, berbagai material terutama kayu yang sebelumnya sengaja ditebang terbawa arus. Citra satelit pun menunjukkan kondisi hutan di sekitar lokasi bencana yang tampak gundul. Jaka Kelana mengklaim, campur tangan manusia juga terjadi melalui keputusan politik serta kebijakan yang berlandaskan pada pembangunan serta ekonomi di wilayah tersebut.
Oleh sebab itu, bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sibolga-Tapanuli bukan hanya sekadar fenomena alam biasa, namun merupakan bencana ekologis. Jaka menganggap jika negara telah gagal mengelola lingkungan hingga menyebabkan krisis ekologis yang berujung pada kerusakan alam.
Mengingat, banjir bandang dan longsor di Sibolga–Tapanuli bukanlah pertama kali terjadi. Jaka menuturkan, bahwa bencana serupa muncul setiap tahun, terutama ketika memasuki musim hujan.
Baca Juga: Banjir Ganggu Pasokan BBM di Sumatera, Bahlil: Kita Lagi Putar Otak
Terjadinya bencana ini, membuat WALHI Sumut gencar mendesak pemerintah untuk memberi perhatian intens terhadap ekosistem Batang Toru yang kadi hutan tropis terakhir di wilayah Sumut. Ekosistem tersebut tersebar di Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, serta kaya akan flora dan fauna yang tergolong langka.
Dapat disimpulkan bahwa, selain faktor cuaca, kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan jadi penyebab signifikan banjir di wilayah Sumatera.
Wilayah yang Terdampak Banjir dan Jumlah Korban
Banjir bandang setidaknya menerjang 13 daerah di Sumatera Utara, antara lain yaitu Langkat, Tapanuli Tengah, Sibolga, dan Mandailing Natal. Lalu ada Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Padangsidempuan, Pakpak Bharat, Nias Selatan, Humbang Hasundutan, Binjai, Medan, dan Deli Serdang.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memaparkan perkembangan penanganan bencana di Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat. Data terbaru BNPB menunjukkan total ada 35 orang di Aceh yang meninggal dunia akibat terdampak banjir bandang. Berikut adalah data terkini korban yang dipaparkan BNPB:
- Bener Meriah: 11 tewas dan 13 hilang
- Aceh Tenggara: 6 tewas, 7 hilang dan 5 luka-luka
- Aceh Tengah: 15 tewas
- Gayo Lues: 1 tewas dan 2 hilang
- Aceh Tamiang: 3 luka-luka
- Subulussalam: 1 tewas
- Lhokseumawe: 1 tewas dan 3 hilang.
Demikian uraian mengenai penyebab banjir Sumatera. Kini pemerintah terus berupaya keras menyalurkan bantuan darurat.
Kontributor : Putri Ayu Nanda Sari
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
Pilihan
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
Terkini
-
Puteri Indonesia 2026 Jadi Arena Pemberdayaan Perempuan, Finalis Didorong Bangun Dampak Nyata
-
Apakah Body Lotion Bisa Bikin Tumbuh Rambut? 5 Rekomendasi yang Ampuh Cerahkan Kulit
-
Fakta Menarik Rencana Muhammadiyah Bangun Pabrik Infus Raksasa di Indonesia, Target 2028 Rampung
-
Belajar dari Kasus Mahasiswa FH UI, Grup Chat WA Berisi Chat Mesum dan Dark Jokes Bisa Dipidana?
-
5 Sunscreen yang Tidak Bikin Kulit Kusam, Bebas White Cast untuk Sehari-hari
-
Kulit Kusam Pakai Sunscreen Apa? Ini 5 Pilihan agar Kulit Lebih Cerah dan Glowing
-
Berapa Jumlah dan Siapa Saja Korban Pelecehan 16 Mahasiswa FH UI?
-
Bedak Tabur Apa yang Tahan Lama untuk Kondangan? Ini 5 Pilihannya agar Makeup Flawless
-
5 Sepeda Lipat Ukuran 24 untuk Harian, Kokoh dan Nyaman Mulai Rp800 Ribuan
-
Selain Grup Chat Mesum 16 Mahasiswa FH UI, Ini 15 Bentuk Kekerasan Seksual Lain yang Jarang Disadari