Kondisi satu ini menjadikan populasinya mudah meledak serta mendominasi habitat, sehingga lama kelamaan berpotensi menyingkirkan spesies lokal.
2. Perilaku Makan dapat Mengganggu Ekosistem
Perilaku makan ikan sapu-sapu berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem. Tak hanya memakan alga, ikan satu juga mengonsumsi detritus sampai telur ikan lain.
Aktivitasnya pun akan mengikis permukaan dasar sungai serta merusak struktur habitat. Di mana perilaku ini dapat berdampak pada organisme lain yang bergantung terhadap lingkungan itu.
3. Ikan Sapu-Sapu Menciptakan Persaingan Makanan yang Tidak Seimbang
Ikan sapu-sapu bersifat detritivor dan algivor, sehingga dapat mengonsumsi alga dan bahan organik dalam jumlah sangat besar. Hal ini akan menyebabkan berkurangnya sumber makanan bagi ikan lain.
Spesies lokal yang sebelumnya bergantung pada sumber makanannya pun terpaksa harus berebut dengan ikan ini.
Berdasarkan penelitian, keberadaan Pterygoplichthys pardalis bahkan bisa menurunkan pertumbuhan ikan lokal sampai 18–36 persen akibat kompetisi pakan dan ruang.
4. Kebiasaan Menggali Lubang yang Dapat Merusak Sungai
Baca Juga: Mengapa Penangkapan Saja Tak Efektif, Pakar IPB Ungkap Tiga Strategi Kendalikan Ikan Sapu-Sapu
Ikan sapu-sapu mempunyai kebiasaan menggali lubang untuk bersarang di dasar maupun tepi sungai. Lubang yang digalinnya bahkan bisa mencapai kedalaman 120 hingga 150 sentimeter.
Kebiasaan ini bisa memicu erosi tebing sungai, meningkatkan kekeruhan air, hingga mempercepat pendangkalan sungai.
Bahkan, di Sungai Ciliwung, lubang sarang ikan sapu-sapu dilaporkan telaj berkontribusi pada ketidakstabilan tepian sungai. Tak hanga itu, kondisi air yang keruh juga dapat menghambat proses fotosintesis tanaman air.
5. Menurunkan Hasil Tangkapan Nelayan
Tubuh ikan sapu-sapu yang cenderung keras dan siripnya yang tajam kerap kali merusak jaring nelayan. Hal tersebut bisa menyebabkan penurunan hasil tangkapan serta berdampak pada kerugian ekonomi masyarakat.
6. Populasi Ikan Sapu-Sapu Berdampak pada Kesehatan Manusia
Selain berdampak pada lingkungan, ikan sapu-sapu juga meningkatkan risiko kesehatan bagi manusia. Ikan satu ini hidup dan berkembang biak di perairan yang tercemar sehingga resiko mengandung logam berat seperti merkuri (Hg), timbal (Pb), dan kadmium (Cd). Adapun zat-zat itu akan terakumulasi dalam tubuh ikan dan melebihi batas aman layak konsumsi.
Meskipun sejumlah masyarakat mengolahnya menjadi makanan seperti kerupuk ataupun siomay, mengkonsumsi ikan sapu-sapu tetap berisiko menyebabkan keracunan kronis.
Penelitian yang dilakukan di sungai Ciliwung menunjukkan adanya kandungan logam berat yang amat tinggi dalam jaringan ikan sapu-sapu, sehingga perlu hati-hati saat memanfaatkannya.
Ancaman jangka panjang bagi ekosistem Keberadaan ikan sapu-sapu menjadi contoh nyata dampak introduksi spesies asing tanpa pengawasan. Jika tidak dikendalikan, ikan ini berpotensi terus mendominasi perairan Indonesia dan mempercepat kerusakan ekosistem.
Mengingat keberadaan ikan sapu-sapu sangat berdampak besar, maka perlukan kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan perairan. Pendekatan berbasis ilmu pengetahuan serta kebijakan yang tepat menjadi kunci utama untuk mengatasi permasalahan ini. Tanpa adanya upaya yang berkelanjutan dan terstruktur maka ancaman terhadap ekosistem perairan Indonesia akan semakin parah di masa depan.
Demikian tadi ulasan seputar apa dampak buruk ikan sapu-sapu bagi lingkungan? Dimusnahkan Pemprov Jakarta. Semoga upaya ini dapat menekan angka populasi ikan sapu-sapu dinperairan Indonesia.
Kontributor : Putri Ayu Nanda Sari
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
- 3 HP Murah dengan Kamera Underwater Rp2 Jutaan, Cocok Buat Foto dan Video dalam Air
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Pakai Dokumen Palsu untuk Izin Tinggal, 10 WNA Investor Bodong Segera Diadili
-
Transformasi Danantara Dongkrak Laba Pelindo 60 Persen pada Semester I 2026
-
Pedri Percepat Persiapan Musim Baru, Jalani Program Latihan Mandiri Selama Liburan
-
Kapten Kriket India: Warisan Lionel Messi Tak Bisa Dinilai dari Satu Laga Final
-
Daftar Developer dan Skema Bunga KPR Murah di BRI x REI Expo Semarang
-
BGN Tegaskan Motor Listrik SPPG Bukan Barang Korupsi, Bakal Dihibahkan ke Lembaga Lain
-
5 Cara Memilih Lipstik yang Cocok untuk Acara Formal dan Casual
-
Jangan Cuma Blokir Situs, Aktivis Pemuda Dukung Komdigi Sikat Habis Ekosistem Judol
-
Deteksi Dini Pembalakan, Kemenhut Gunakan Drone Canggih Awasi Hutan RI
-
5 Merek Sepatu Lokal Pria Terbaik untuk Gaya Kasual Pekerja Muda