- Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, membentuk pasukan khusus PPSU guna mengatasi ledakan populasi ikan sapu-sapu di perairan Jakarta.
- Data menunjukkan dominasi ikan sapu-sapu mencapai lebih dari 60 persen, yang mengancam kerusakan ekosistem air wilayah tersebut.
- Pemerintah berhasil menangkap 6,5 ton ikan invasif dan akan menyesuaikan prosedur pemusnahan sesuai masukan dari pihak MUI.
Suara.com - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan komitmennya untuk terus menangani ledakan populasi ikan sapu-sapu di perairan Jakarta yang dinilai sudah merusak ekosistem.
Pramono berencana membentuk pasukan khusus di bawah naungan Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) untuk membersihkan spesies invasif tersebut secara berkala.
Pramono mengungkapkan, berdasarkan data yang ia terima, dominasi ikan sapu-sapu di ekosistem air Jakarta telah mencapai tingkat yang tinggi.
"Memang ikan sapu-sapu ini di biotik air Jakarta sudah lebih dari 60 persen. Bahkan KKP sebenarnya melaporkan ke saya lebih dari 70 persen, tapi saya belum terlalu meyakini dan saya menyampaikan kemarin lebih dari 60 persen," ujar Pramono kepada para wartawan, Minggu (19/4/2026).
Langkah pembersihan yang telah dimulai menunjukkan hasil yang signifikan. Hanya dalam waktu satu hari pembersihan di wilayah Jakarta Selatan, petugas berhasil menjaring lebih dari 3,5 ton ikan sapu-sapu. Secara total, diketahui sebanyak 6,5 ton ikan sapu-sapu telah berhasil ditangkap.
Pramono menilai penanganan ikan sapu-sapu tidak bisa dilakukan secara parsial atau hanya sekali waktu. Ia menjanjikan adanya skema pembersihan rutin yang dilakukan oleh tenaga profesional.
"Jakarta akan punya PPSU untuk secara berkala membersihkan ikan sapu-sapu di Jakarta. Sebab kalau tidak, maka ekosistem air di Jakarta pasti akan rusak," tegasnya.
Tanggapi Kritik MUI Terkait Tata Cara Pemusnahan
Selain teknis pembersihan, Pramono juga menanggapi kritik dan saran dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengenai tata cara pembuangan bangkai ikan yang dinilai tidak sesuai dengan syariat Islam karena langsung dikubur tanpa proses tertentu.
Menanggapi hal tersebut, Pramono mengaku terbuka terhadap masukan dan akan melibatkan ahli untuk mengkaji ulang prosedur pemusnahan agar tetap menghormati nilai-nilai agama dan lingkungan.
Baca Juga: Pemprov DKI: Hentikan Pembongkaran Bangunan di Jalan Teuku Umar Menteng
“Mengenai saran dan kritik dari MUI, nanti saya minta kepada yang ahli untuk menyesuaikan tata caranya,” ujarnya.
Reporter: Tsabita Aulia
Berita Terkait
-
Pemprov DKI: Hentikan Pembongkaran Bangunan di Jalan Teuku Umar Menteng
-
Jangan Cuma Jago Kandang, Pramono Anung Tantang BUMD DKI Ekspansi ke Pasar Global
-
Ini Bahaya Tersembunyi Ikan Sapu-Sapu yang Mengancam Ekosistem Jakarta
-
Tekan Konsumsi BBM, Pramono Anung Genjot Penggunaan Solar Panel di Jakarta
-
Pramono Anung Bakal Pangkas Pajak Warga Jakarta, Ini Bocoran Kebijakan Barunya
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- DPR Pertanyakan, Pemerintah Menjawab, Dari Mana Datang Isu Kipas Angin Rp1,8 T untuk Kopdes?
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Kulit Sawo Matang Jangan Salah Pilih Warna Lipstik! Ini 8 Pilihan yang Bikin Wajah Cerah Seketika
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Episode Gagal Bayar Korporasi RI Berlanjut
-
Literasi Digital: Keterampilan Baru yang Wajib Dimiliki Siswa
-
Terowongan PLTA Meledak, 9 orang Tewas dan 27 Lainnya Terjebak di Pegunungan Himalaya
-
Di Balik Jendela KRL: Pelajaran yang Tak Pernah Diajarkan Dosenku di Dalam Kelas
-
Tarif Lepas WNI Rp5 Juta, Harusnya Fokus Kenapa Banyak Warga yang Ingin Lepas Kewarganegaraan
-
Apakah Setelah Pakai Viva Milk Cleanser Perlu Cuci Muka? Ini Panduan yang Benar
-
Dear Pemerintah, Kenapa Tidak Maksimalkan Program yang Sudah Ada?
-
Stop Facial Tiap Bulan, Pakai 4 Serum Rekomendasi Dokter untuk Kecilkan Pori-pori
-
Menemukan 'Healing' Tipis-Tipis di Balik Jendela MRT dan LRT
-
Di Tengah Ancaman PHK, Investasi Baru di Jateng Buka 650 Lapangan Kerja