Lifestyle / Komunitas
Kamis, 04 Juni 2026 | 11:55 WIB
Katydid, Belalang Daun yang sembunyi di Pohon Jambu dan memakan hama-hama kecil di kebun (Instagram/sendalu.permaculture)

Alih-alih melihat tantangan tersebut sebagai hambatan, Sendalu memilih menjadikannya sebagai alasan untuk memperluas dampak.

Selain mengembangkan kebun, Gibran dan timnya mulai menelusuri kembali berbagai pengetahuan lokal yang berkaitan dengan pengelolaan alam di wilayah Depok. Mereka ingin praktik permakultur yang dijalankan tidak sekadar mengadopsi konsep dari luar negeri, tetapi juga berakar pada kearifan lokal.

Semangat itu juga tercermin dalam logo Sendalu yang bergambar kura-kura dengan daun di atas cangkangnya.

Bagi Gibran, simbol tersebut menggambarkan gagasan sederhana: ke mana pun manusia pergi, ia bisa membawa kehidupan bersamanya.

Karena itu, Sendalu tidak hanya menjual bibit dan mengoleksi benih. Mereka berupaya mendorong lahirnya lebih banyak kebun kecil di tengah kota, baik di halaman rumah, sekolah, maupun ruang-ruang komunitas.

“Yang ingin kami lakukan adalah membawa kehidupan. Membawa kebun baru di tempat-tempat lain di kota,” ujarnya.

Penulis: Vicka Rumanti

Load More