Suara.com - Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.), tanaman obat endemik Indonesia yang dikenal sebagai ginseng of Java, menghadapi ancaman kepunahan. Tanaman yang tumbuh alami di dataran tinggi ini berstatus kritis menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN) akibat alih fungsi lahan, eksploitasi berlebihan, dan persaingan dengan komoditas lain.
Padahal, purwoceng mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti sitosterol, stigmasterol, saponin, kumarin, psoralen, dan vitamin E yang telah lama dimanfaatkan sebagai bahan baku obat tradisional.
Untuk menjaga kelestariannya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi pemuliaan tanaman guna menghasilkan varietas purwoceng yang lebih unggul sekaligus mendukung upaya konservasi.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, Otih Rostiana, mengatakan timnya melakukan seleksi sumber daya genetik dan pemurnian galur hingga menghasilkan varietas dengan karakter genetik yang lebih baik.
Varietas tersebut memiliki ciri tulang daun berwarna merah keunguan, kandungan sitosterol yang lebih tinggi, serta mampu beradaptasi pada lokasi budidaya yang lebih rendah dibandingkan habitat alaminya.
"Kami telah menghasilkan varietas unggul yang memiliki karakter genetik lebih baik dan menunjukkan peningkatan kandungan sitosterol serta kemampuan adaptasi yang lebih luas dibandingkan populasi alaminya," kata Otih, dikutip dari laman BRIN, Kamis (16/7).
Ketersediaan bibit masih menjadi tantangan
Meski berhasil menghasilkan varietas unggul, BRIN menilai pengembangan purwoceng masih menghadapi kendala, terutama dalam penyediaan bibit.
Menurut Otih, rendahnya viabilitas benih membuat perbanyakan melalui biji belum optimal. Sementara itu, teknologi kultur jaringan juga masih menghadapi tantangan pada tahap multiplikasi tunas, pembentukan akar, hingga proses aklimatisasi.
Baca Juga: ITS Ciptakan Traktor Perahu Listrik, Bisa Bajak Sawah 1 Hektare Sekali Cas
"Kondisi tersebut membuka ruang bagi penelitian lanjutan guna menghasilkan teknologi perbanyakan tanaman yang lebih efisien dan siap diterapkan secara luas," ujarnya.
Selain pemuliaan konvensional, BRIN juga menerapkan induksi keragaman genetik melalui mutasi buatan untuk menghasilkan tanaman yang lebih adaptif terhadap perubahan lingkungan.
Otih menegaskan bahwa penguatan konservasi sumber daya genetik menjadi fondasi penting agar riset dan pemanfaatan purwoceng dapat terus berlanjut.
Standardisasi dibutuhkan untuk menjaga mutu
BRIN juga menilai keberhasilan pengembangan purwoceng tidak cukup hanya dengan menghasilkan varietas unggul. Standardisasi bahan baku dinilai penting untuk menjamin keamanan, mutu, dan khasiat produk herbal.
Menurut Otih, kualitas purwoceng dipengaruhi oleh identitas tanaman, teknik budidaya, waktu panen, hingga penanganan pascapanen.
Berita Terkait
Terpopuler
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Dua Petinggi Golkar Riau Berseteru, Pendukung Saling Baku Hantam di DPRD
-
Purwoceng Berstatus Kritis, Bisakah Varietas Unggul Menyelamatkannya?
-
Bos Ford Beri Peringatan Keras Industri Otomotif AS Mustahil Halau Laju Mobil China Seterusnya
-
Sensatia Peroleh Persetujuan Dari Cruelty Free International, Perkuat Komitmen Pada Clean Beauty
-
Gudang Amunisi TNI AD di Madiun Meledak, Satu Prajurit Gugur
-
Sayembara Umrah Menteri PU: Politik Klarifikasi di Tengah Tuduhan Nepotisme
-
Klinik Hewan Keliling DKI Resmi Beroperasi, Warga Bisa Akses Layanan Mulai Rp35 Ribu
-
Vonis 10 Tahun Belum Final, Nadiem Makarim Akan Jalani Sidang Banding
-
Purbaya Pastikan Ambil Alih Utang Kereta Cepat, Tinggal Tunggu Danantara
-
Pesaing Vario 125 dari Yamaha, Tampang Bernuansa R1M