News / Nasional
Rabu, 15 Juli 2026 | 12:08 WIB
Web/ Argokomplekskita

Suara.com - Selama ini, malapari (Pongamia pinnata) lebih dikenal sebagai tanaman yang tumbuh di kawasan pesisir dan hutan mangrove.

Namun, di balik kemampuannya bertahan di lahan marginal, tanaman asli Indonesia ini menyimpan potensi besar sebagai sumber energi terbarukan yang hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal.

Biji malapari menghasilkan minyak nabati yang dapat diolah menjadi biodiesel, bahkan berpeluang menjadi bahan baku sustainable aviation fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan.

Potensi tersebut dipamerkan dalam Capacity Building dan Expo Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (ORHL) melalui etalase tematik Kelompok Riset Teknologi Makropropagasi, Pusat Riset Botani Terapan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Danu, mengatakan malapari berpotensi menjadi salah satu komoditas strategis untuk mendukung pengembangan bioenergi nasional.

"Malapari merupakan salah satu tanaman penghasil minyak nabati yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel. Bahkan, minyaknya juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau sustainable aviation fuel (SAF)," ujarnya.

Menurut Danu, BRIN tidak hanya mengembangkan teknologi pengolahan, tetapi juga membangun rantai pasok bahan baku agar pengembangan malapari dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Saat ini, BRIN bekerja sama dengan sejumlah perusahaan dan instansi untuk mengembangkan kawasan penanaman malapari di beberapa lokasi. Pengembangan kebun dilakukan secara paralel dengan pembangunan fasilitas pengolahan sehingga pasokan bahan baku dan industri dapat tumbuh bersamaan.

"Kami mengembangkan penanaman malapari di beberapa lokasi sebagai sumber bahan baku (feedstock). Pengembangannya dilakukan secara paralel dengan pembangunan fasilitas pengolahan sehingga ketika pasokan bahan baku sudah tersedia, industri pengolahannya juga telah siap beroperasi," kata Danu.

Baca Juga: Energi Bersih Jadi Kunci Tingkatkan Nilai Ekonomi Masyarakat Pesisir

Selain menghasilkan minyak nabati, malapari dinilai memiliki keunggulan karena mampu tumbuh di lahan kritis maupun lahan pesisir yang kurang produktif untuk tanaman pangan. Kondisi ini membuatnya berpotensi mendukung rehabilitasi lahan sekaligus menyediakan sumber energi terbarukan tanpa bersaing dengan lahan pertanian.

BRIN juga mengembangkan bibit unggul malapari untuk mendukung perluasan budidaya. Setelah kawasan inti memiliki luas tanam dan kapasitas produksi yang memadai, pengembangannya akan diperluas melalui kemitraan dengan masyarakat.

Tak hanya bijinya yang bernilai ekonomi, hampir seluruh bagian tanaman malapari juga dapat dimanfaatkan. Ampas hasil ekstraksi biji berpotensi menjadi pakan ternak, sementara daunnya dapat diolah sebagai bahan baku produk kecantikan melalui kerja sama dengan mitra industri.

Danu mengatakan pendekatan tersebut diharapkan tidak hanya mendukung transisi energi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

"Kami telah berhasil menghasilkan biodiesel dari malapari. Harapannya masyarakat semakin mengenal tanaman ini dan tertarik untuk ikut mengembangkannya. Bahkan, minat dari perusahaan-perusahaan luar negeri, termasuk Jepang, terhadap malapari sudah cukup tinggi. Ini menunjukkan bahwa tanaman yang tumbuh di Indonesia memiliki potensi besar menjadi komoditas bioenergi yang kompetitif di tingkat global," ujarnya.

Dengan kemampuan tumbuh di lahan marginal, nilai ekonomi yang dimiliki hampir di seluruh bagian tanaman, serta peluang sebagai bahan baku biodiesel dan SAF, malapari dinilai dapat menjadi salah satu alternatif untuk mendukung transisi energi sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi hijau di Indonesia.

Penulis: Chairunisa

Load More