Suara.com - Kearifan lokal masyarakat Tengger di kawasan Bromo-Tengger-Semeru menyimpan pengetahuan tentang hubungan manusia dan alam. Melalui cerita rakyat dan mantra, masyarakat mewariskan nilai-nilai menjaga lingkungan sekaligus membangun kesadaran terhadap kondisi alam di wilayah rawan bencana gunung api.
Sebuah penelitian berjudul “Women in Mount Tengger Folklores: Their Presence, Position and Environmental Knowledge of Disaster Mitigation” mengungkap bahwa tradisi lisan masyarakat Tengger juga memuat nilai ekologis dan pengetahuan lokal yang relevan dengan mitigasi bencana.
Penelitian etnografi tentang folklor Tengger ini menggunakan perspektif ekofeminisme, ekokritik, dan folklor. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, serta dokumentasi.
Salah satu temuan penelitian tersebut adalah posisi perempuan yang kuat dalam tradisi lisan masyarakat Tengger. Perempuan digambarkan sebagai sosok yang dihormati, berpengetahuan, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
Perempuan Berperan dalam Menjaga Lingkungan
Dalam cerita rakyat maupun mantra Tengger, perempuan ditempatkan sejajar dengan laki-laki. Kesetaraan tersebut, menurut penelitian, tidak hanya muncul dalam narasi folklor, tetapi juga tercermin dalam kehidupan sosial masyarakat.
Perempuan bekerja berdampingan dengan laki-laki, baik dalam urusan rumah tangga maupun aktivitas di ruang publik.
Penelitian itu juga menemukan bahwa perempuan Tengger memiliki pengetahuan mengenai pentingnya alam bagi kehidupan manusia. Pengetahuan tersebut mencakup aspek fisik dan psikologis.
Secara fisik, alam menyediakan berbagai kebutuhan untuk menunjang kehidupan. Sementara secara psikologis, lingkungan dipandang sebagai sumber ketenangan dan keseimbangan batin.
Pandangan tersebut membentuk hubungan manusia dengan alam yang tidak semata-mata berorientasi pada pemanfaatan sumber daya, melainkan juga tanggung jawab untuk menjaganya.
Cerita Rakyat sebagai Pengetahuan Mitigasi
Nilai ekologis dalam folklor Tengger juga berkaitan dengan kehidupan masyarakat di kawasan gunung api aktif Bromo-Tengger-Semeru.
Cerita rakyat, mantra, larangan, dan pantangan adat menjadi media untuk mewariskan pesan tentang pentingnya menghormati alam. Pengetahuan tersebut membantu masyarakat mengenali batas-batas perilaku yang dianggap dapat mengganggu keseimbangan lingkungan.
Dalam konteks kebencanaan, tradisi lisan dapat menjadi salah satu sarana membangun kesadaran masyarakat terhadap lingkungan tempat mereka tinggal.
Pengetahuan lokal tersebut tidak menggantikan kajian ilmiah, pemantauan aktivitas gunung api, maupun sistem peringatan dini. Namun, nilai-nilai yang diwariskan melalui tradisi dapat melengkapi upaya pengurangan risiko bencana melalui kebiasaan dan pemahaman yang tumbuh di tengah masyarakat.
Melibatkan Perempuan dalam Mitigasi Bencana
Temuan penelitian ini juga menunjukkan pentingnya melibatkan perempuan dalam pengelolaan lingkungan dan perencanaan kebencanaan.
Pengetahuan perempuan mengenai alam, yang diwariskan melalui cerita rakyat dan praktik kehidupan sehari-hari, dapat menjadi bagian dari edukasi lingkungan bagi masyarakat, termasuk generasi muda.
Di tengah perubahan iklim dan meningkatnya perhatian terhadap risiko bencana, kearifan lokal dapat menjadi sumber pengetahuan yang perlu didokumentasikan dan diwariskan.
Pelestarian folklor Tengger pun memiliki relevansi lebih luas daripada menjaga tradisi budaya. Di dalamnya terdapat nilai kesetaraan, pengetahuan ekologis, serta cara masyarakat memahami hubungan manusia dengan lingkungan.
Dengan demikian, perempuan dan tradisi lisan memiliki peran dalam membangun kesadaran menjaga alam di kawasan rawan bencana. Keduanya dapat melengkapi pendekatan ilmiah dan kebijakan dalam upaya mengurangi risiko bencana.
Penulis: Inesia Dian