Paska Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 Indonesia harus kembali menghadapi kehadiran Netherlands Indies Civil Administration (NICA) atau Pemerintahan Sipil Hindia Belanda yang membonceng pasukan sekutu pada September 1945, berhasrat menguasai kembali Indonesia. Indonesia terpecah menjadi dua wilayah, yaitu wilayah yang dikuasai Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan yang diduduki Belanda di bawah NICA. Situasi yang tidak kondusif membuat Ibukota RI harus dipindah ke Yogyakarta.
NICA kala itu dengan cepat mengambil alih sektor ekonomi, di antaranya mengubah Nanpo Kaihatsu Ginko (NKG) menjadi De Javasche Bank (DJB) pada 10 Oktober 1945. Pengukuhan DJB sekaligus memulihkan kembali bank yang pernah direbut Jepang tersebut menjadi bank sirkulasi. Pada 6 Maret 1946, NICA juga menerbitkan mata uang sendiri, yaitu uang NICA. Masyarakat kala menyebutnya ‘uang merah’ karena warna dominannya. Kurs penukaran saat itu diputuskan, 1 uang rupiah Jepang bernilai sama dengan 3 sen Uang Merah. Pada 30 September 1945 diputuskan, peredaran Uang Merah ini dilakukan pertama kali di luar Jawa.
Kehadiran Uang NICA membuat uang yang beredar di masyarakat semakin bertambah, bersamaan dengan uang De Javasche Bank (DJB), uang pemerintah Hindia Belanda, dan Rupiah Jepang. Situasi tersebut semakin tidak menguntungkan kedaulatan ekonomi RI. Pada 2 Oktober 1945, pemerintah Indonesia mengeluarkan maklumat agar masyarakat tidak menerima uang NICA ini.
Sejak awal kemerdekaan, pemerintah RI memang telah menginginkan memiliki mata uang sendiri. Adalah Sjafruddin Prawiranegara, anggota Badan Pengurus Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) orang pertama yang mengusulkan penerbitan mata uang RI. Sjafruddin meyakinkan Hatta bahwa Indonesia perlu mengeluarkan uang baru sebagai salah satu atribut negara merdeka dan berdaulat.
Akhirnya Menteri Keuangan A.A. Maramis melalui Surat Keputusan No.SS/1/25 tanggal 29 Oktober 1946 mengambil langkah bersejarah dengan memutuskan mengeluarkan Uang Putih atau ORI. Pada malam 29 Oktober 1946 di Yogyakarta, Wakil Presiden Mohammad Hatta berpidato melalui RRI untuk mengumumkan bahwa ORI secara resmi berlaku pada 30 Oktober 1946 sebagai mata uang yang sah di wilayah Republik Indonesia.
Terbitnya ORI disambut dengan gegap gempita oleh rakyat Indonesia. Harian Belanda Nieuwsgier, 1 November 1946 kala itu mewartakan kegembiraan terjadi di mana-mana. Mereka menyebut ORI sebagai ‘uang putih’.
Kehadiran Uang Putih ini menandai dimulainya perang valuta atau perang mata uang di wilayah Indonesia. Dengan kawalan ketat, peredaran Uang Putih mulai memasuki daerah-daerah pendudukan, untuk menandingi Uang Merah. Di sisi lain NICA terus berusaha menjegal peredaran ORI. NICA bahkan memalsukan ORI untuk membuat nilai ORI jatuh akibat inflasi. Selain itu, NICA juga kerap mengintimidasi masyarakat yang menyimpan ORI. Namun di sisi yang lain, jika masyarakat menyimpan uang NICA, pejuang pro-Republik akan menuduh mereka sebagai mata-mata NICA.
Duel antara ORI (uang putih) dengan uang NICA (uang merah) terus berlangsung hingga digelarnya Konferensi Meja Bundar pada 1949. Saat perundingan dimulai, Belanda meminta uang NICA atau Uang Merah ditetapkan sebagai alat pembayaran yang sah. Permintaan ini segera ditolak mentah-mentah oleh Indonesia. Meski demikian Sri Sultan Hamengkubowono IX mempersilahkan Belanda melakukan jajak pendapat untuk mengetahui respons masyarakat terhadap dua mata uang yang berlaku.
Hasil jajak pendapat di daerah-daerah pendudukan membuktikan bahwa masyarakat menolak tegas keberadaan Uang Merah atau uang NICA, dan lebih menghendaki ORI atau Uang Putih sebagai alat pembayaran yang sah. Dengan demikian ORI tidak hanya berperan sebagai alat bayar tapi juga alat perjuangan bangsa dan simbol kedaulatan negara.
Berita Terkait
-
7 Cara Membedakan Sepatu Ortuseight Asli dan KW agar Tidak Salah Beli
-
Cara Membedakan Sepatu Melissa Ori dan KW, Awas Tertipu Barang Palsu
-
Update Harga Sepatu Onitsuka Tiger Ori Terbaru 2026, Jangan sampai Tertipu Barang KW!
-
5 Sepatu New Balance Ori Lagi Promo Spesial Ramadan, Diskon sampai 50 Persen!
-
7 Sepatu Running Lokal Kembaran Asics Ori, Bukan KW tapi Kualitas Dunia
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Babak Belur Emiten Kaesang: Hanya Mampu Bayar Buruh Harian dan Operasikan Satu Pabrik
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
Terkini
-
3 Foundation Brand Jepang dengan Hasil Glowing, Lengkap Review Pengguna
-
Persaingan Appi vs IAS Memanas! Bahlil Akan Buka Musda Golkar Sulsel
-
AI Mengubah Cara Kerja Generasi Muda: Peluang atau Malah Ancaman?
-
Explainer: Menteri PU 'Dinas Bareng Keluarga' ke Amerika Bertepatan Final Piala Dunia
-
Mengapa Penebangan Hutan Bisa Membuat Banjir Semakin Sering Terjadi?
-
BEI Akan Ajak Ngobrol S&P Dow Jones Indices Setelah Indonesia Diancam Turun Kelas
-
Said Iqbal Minta Purbaya Naikkan Ambang Batas Saldo JHT Kena Pajak Jadi Rp 400 Juta
-
Oppo Reno16 Series Resmi Dijual di Indonesia, Harga Mulai Rp7 Jutaan dan Banjir Promo
-
Bukan Cuma Kartu Pokemon, Fenomena Scalper Kini Mengancam Pernak-pernik Piala Dunia
-
KPK Periksa Kepala Divisi LPEI Terkait Dugaan Korupsi Kredit yang Rugikan Negara Rp11 Triliun