Suara.com - Tim bola voli putri Jakarta Pertamina Energi menjadi juara baru setelah di pertandingan grand final BSI Proliga 2014 mengalahkan tim Manokwari Valeria Papua Barat di Istora Senayan Jakarta, Sabtu (15/3/2014) dengan skor 3-0 (25-11, 25-14 dan 25-22).
Anak asuh Octavian ini layak disebut juara baru karena selama keikutsertaannya di kompetisi bola voli tertinggi di Indonesia, tim ini baru merasakan juara satu kali. Jakarta Pertamina Energi juga menerima hadiah uang tunai Rp125 juta.
"Strategi mematikan April sesuai dengan rencana. Kondisi ini membuat pemain bermain dengan lepas. Yang jelas kami bangga dengan pencapaian ini," kata pelatih Jakarta Pertamina Energi, Octavian usai pertandingan, seperti dikutip dari Antara.
Menurut dia, kemenangan yang diraih ini juga berkat pembentukan tim yang bagus. Pemilihan pemain baik lokal maupun asing menjadi kunci sukses saat turun dikompetisi bola voli tertinggi di Tanah Air ini.
"Kami tanya ke manajemen. Mereka punya uang, kenapa tidak membentuk tim bagus?. Manajemen langsung menyetujui. Hasilnya tim ini terbentuk dan juara," kata pelatih yang biasa dipanggil Ook itu.
Sementara itu, pelatih Valeria Papua Barat, Eko Waluyo mengaku tetap puas dengan penampilan anak asuhnya meski gagal menjadi juara.
"Strategi kurang berjalan. Maria Jose yang diandalkan dam block kurang berjalan dengan baik juga. Yang jelas kami sangat mengapresiasi perjuangan anak-anak," kata Eko Waluyo.
Sementara itu untuk peringkat tiga direbut oleh Jakarta Popsivo PGN setelah dipertandingan terakhir mengalahkan Jakarta Electric PLN dengan skor 3-0 (25-20, 26-24, 28-26). Meski kalah telak jika dilihat dari poin pertandingan cukup ketat.
"Kita beberapa kali tertinggal, tapi alhamdulillah bisa mengejar dan menang. Anak-anak terlalu mengandalkan Jutarat sehingga mudah dibaca lawan," kata pelatih Jakarta Popsivo PGN Anshori.
Mampu merebut posisi ketiga kompetisi bola voli terbesar di Indonesia, Jakarta Popsivo PGN berhak mendapatkan hadiah Rp75 juta, sedangkan Jakarta Electric PLN berhak mendapatkan hadiah uang tunia Rp50 juta. (Antara)
Berita Terkait
-
Banjir Pevoli Asing di Proliga 2026, Kompetisi Makin Kuat atau Alarm Pembinaan Lokal?
-
Profil Annie Mitchem: Meledak di Proliga 2026, Tembus 118 Poin untuk Gresik Phonska
-
Popsivo Buka Peluang Lolos ke Final Four Proliga 2026
-
Belum Terbendung, LavAni Kembali Raih Kemenangan atas Medan Falcons
-
Hasil Proliga 2026: Jakarta Popsivo Polwan Bungkam Yolla Yuliana Cs!
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- 26 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 31 Januari 2026: Buru Gullit 117 OVR dan Voucher Draft Gratis
- 5 Mobil Toyota Dikenal Paling Jarang Rewel, Ideal untuk Mobil Pertama
- 5 HP Murah Alternatif Redmi Note 15 5G, Spek Tinggi buat Multitasking
- 6 Moisturizer Pencerah Wajah Kusam di Indomaret, Harga di Bawah Rp50 Ribu
Pilihan
-
Insentif Mobil Listrik Dipangkas, Penjualan Mobil BYD Turun Tajam
-
Pasar Modal RI Berpotensi Turun Kasta, Kini Jepang Pangkas Rekemondasi Saham BEI
-
Jeffrey Hendrik Belum Resmi jadi Pjs Direktur Utama BEI
-
Penghentian Operasi dan PHK Intai Industri Batu Bara Usai Kementerian ESDM Pangkas Kuota Produksi
-
Perilaku Audiens Berubah, Media Diminta Beradaptasi dengan AI dan Medsos
Terkini
-
Guntur Romli Kuliti Jokowi: Demi PSI, Dinilai Lupa Rakyat dan Partai Sendiri
-
Saksi Ungkap Alur Setoran Uang Pemerasan K3 Sampai ke Direktur Jenderal Kemenaker
-
PGRI Miris Penyebutan Honorer Hanya untuk Guru: TNI, Polri, Jaksa, DPR Tak Ada Honorer
-
Mendagri Tegaskan Pemda dan Forkopimda Siap Dukung Implementasi Program Prioritas Presiden
-
Disindir Soal Ingin Tanam Sawit, Prabowo: Semua Pemimpin Negara Minta ke Saya!
-
Video Viral Bongkar Dugaan Manipulasi BAP, Penyidik Polsek Cilandak Diperiksa Propam
-
Sidang Korupsi Digitalisasi Pendidikan Makin Panas, Saksi Beberkan Bagi-Bagi Uang Proyek Chromebook
-
Guntur Romli PDIP Sebut Jokowi Bukan Lagi Teladan, Hanya Mementingkan Syahwat Kuasa dan Dinasti
-
Pernah Dipidana Kasus Terorisme, Jaksa Pertanyakan Izin Beracara Munarman di Sidang Noel Ebenezer
-
Larangan Jelas, Bahaya Nyata: Mengapa Pelanggaran Merokok saat Berkendara Terus Berulang?