Suara.com - Seorang perempuan yang mengaku bernama Khadijah (25) asal Suriah berhasil kabur dari pasukan brigade perempuan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) karena takut melihat aksi pembunuhan dan pemenggalan para sandera.
Seperti dilansir wawancaranya dengan CNN, dia menceritakan perjalanan hidupnya sampai akhirnya bergabung dengan ISIS.
Sebelumnya dia berprofesi sebagai guru SMP di Suriah dan memutuskan bergabung dengan ISIS setelah dibujuk oleh seorang lelaki Tunisia yang dikenalnya melalui jejaring sosial.
Pertama kali dia bertugas berpatroli dengan menenteng senjata di kota Raqqa yang memang dikuasai dan menjadi markas besar ISIS Suriah.
Tapi setelah menyaksikan sejumlah kekerasan, seperti penyaliban yang dilakukan para jihadis termasuk pemenggalan para sandera, dia memilih untuk kabur ke Turki.
Dia tercebur bersama ISIS setelah ikut rangkaian demonstrasi memprotes dan berupaya menjatuhkan penguasa Suriah Presiden Bashar al Assad.
Terlena dengan bujuk rayu lelaki Tunisia itu, dia memutuskan pindah ke Raqqa dan mulai bertugas di Brigade Khansa, satuan militer perempuan ISIS.
Dia mengaku digaji sekitar 200 dolar Amerika, atau lebih dari Rp2 juta perbulan. Kerjanya adalah berpatroli mencari perempuan yang tidak berpakaian baik versi ISIS. Bagi mereka yang melanggar dijamin bakal kena cambukan sebagai hukumannya.
Adapun algojo hukum cambuk ini, menurut Khadija adalah anggota ISIS bernama Umm Hamza.
“Dia bukan perempuan normal. Badannya besar dan membawa AK47, pistol dan menggunakan niqab (jubah khas Timur Tengah),” cerita Khadija.
Tapi belakangan, bukannya melakukan tugasnya dan menerima gaji, dia malah merasa ada yang tak beres dengan ISIS sehabis melihat serangkaian kekerasan dan penyaliban terhadap seorang remaja 16 tahun yang dituduh atas kasus pemerkosaan.
Belakangan, kata Khadijah, anak itu malah dipenggal.
Dia juga menyaksiakan dengan matanya sendiri saat para jihadis ISIS melakukan kekerasan terahdap istri mereka.
Dia juga dipaksa untuk menikah dengan seorang jihadis ISIS lainnya. Ngeri dan takur disiksa, lalu dia mencari jalan untuk kabur ke perbatasan Turki.
“Saya tidak seperti itu. Saya berpendidikan. Saya seharusnya tidak seperti itu. Apa yang terjadi dengan saya? Pikiran apa yang membuat saya terseret hingga ke sana?” tanya Khadija pada dirinya sendiri saat wawancara berlangsung.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Banyak Banget, Intip Hampers Tedak Siten Anak Erika Carlina
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
Pilihan
-
Jusuf Kalla Mau Laporkan Rismon Sianipar ke Polisi! Ini Masalahnya
-
Di Balik Lahan Hindoli, Seperti Apa Perkebunan yang Jadi Lokasi 11 Sumur Minyak Ilegal?
-
Traumatik Mendalam Jemaat POUK Tesalonika Tangerang: Kebebasan Beribadah Belum Terjamin?
-
'Ayah, Ayah!' Tangis Histeris Keluarga Pecah saat Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur Tiba di Tanah Air
-
Tragedi Gas Maut di TB Simatupang: 4 Nyawa Melayang dalam Toren, Proyek 8 Lantai Kini Senyap
Terkini
-
AS-Israel Gempur Wilayah Iran: 15 Orang Tewas, Pasukan IRGC Gugur dan Pilot F-15E Dicari
-
Spesifikasi Pesawat A-10 Thunderbolt II 'Warthog' Milik AS, Hancur Ditembak Iran
-
Gembira Dihampiri Kasatgas PRR, Asa Penyintas di Desa Sekumur Kembali Menyala
-
Polda Riau Bongkar Mafia Solar Subsidi di Pelalawan dan Inhil, Hak Rakyat Kecil Terselamatkan
-
Di momen Ramadhan, Jusuf Kalla mengadakan sejumlah pertemuan dengan beberapa pihak
-
Siasat Cegah Defisit, JK Sarankan Pemerintah Evaluasi Anggaran dan Kurangi Subsidi
-
Jusuf Kalla Bantah Tuduhan Danai Isu Ijazah Jokowi
-
Jusuf Kalla Mau Laporkan Rismon Sianipar ke Polisi! Ini Masalahnya
-
Tiga Prajurit Gugur di Lebanon, KSAD: Mereka Putra Terbaik Bangsa
-
Prabowo Berduka 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Kecam Keras Serangan terhadap Pasukan Perdamaian