Pimpinan dan sejumlah anggota DPD berfoto bersama dengan Senator Kalbar Oesman Sapta Odang yang terpilih mewakili DPD sebagai calon pimpinan MPR seusai voting di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (6/10) malam
Ketua Badan Pengembangan Kapasitas Kelembagaan Dewan Perwakilan Daerah Bambang Sadono mengatakan pemerintah bisa memanfaatkan DPD untuk menyosialisasikan program. Para menteri di Kabinet Kerja, katanya, membutuhkan DPD untuk media komunikasi guna memperoleh respon rakyat di seluruh Indonesia.
"Sosialisasi program yang masif justru membantu penggalangan partisipasi rakyat untuk menyukseskan program pemerintah," kata senator asal Jawa Tengah dalam pernyataan pers yang dikirim kepada suara.com, Jumat (31/10/2014). Hal ini terkait dengan agenda parlemen, baik DPD maupun DPR, yang memasuki masa reses atau kunjungan kerja ke daerah pemilihan di bulan Desember 2014. "Waktunya tersisa sekitar sebulan, maka sebaiknya dimanfaatkan baik-baik."
Mengingat perkembangan di DPR, menurut Bambang yang juga ex officio Ketua Kelompok DPD, dalam sebulan ke depan DPD belum bisa menjalin komunikasi yang produktif bersama pemerintah. Padahal, banyak agenda keparlemenan yang mesti dikomunikasikan seperti pembahasan APBN tahun 2015 dan rancangan perubahannya.
“Banyaknya kementerian yang berubah, digabung atau dipisah, yang menyebabkan dukungan anggarannya juga harus disesuaikan. Dan, tentu saja baru bisa efektif di APBN perubahan. Karena itu, gagasan postur APBN 2015 dan rancangan perubahannya mesti disosialisasikan,” dia menambahkan selaku anggota Komite IV DPD yang melingkupi antara lain masalah APBN dan perimbangan keuangan pusat-daerah (dana transfer dari pusat ke daerah).
Prioritaskan anggaran
Selain masalah anggaran yang mesti disosialisasikan, kata Bambang, program strategis lainnya juga harus segera diketahui masyarakat. Misalnya program sensitif, seperti pengurangan atau penghapusan subsidi bahan bakar minyak, yang bahasa populernya di tengah masyarakat sebagai kenaikan harga BBM.
Dikatakan, pemanfaatan waktu tersisa sebulan ini menjadi penting karena berselang setelahnya anggota parlemen, khususnya para senator, akan menyampaikan beberapa isu itu kepada masyarakat di daerah pemilihan masing-masing. Respon yang berupa masukan masyarakat bisa dibahas pada masa sidang berikutnya di bulan Januari 2015.
Penjelasan juga diperlukan DPD, terutama jajaran menteri bidang perekonomian. Dalam beberapa hari terakhir ini terkesan kurang meyakinkan pasar dan masyarakat umumnya. Pemaparan program yang jelas dan rinci justru mempermudah pemahaman masyarakat yang tahap berikutnya adalah meningkatkan kepercayaan pasar dan masyarakat, kata Bambang.
Apalagi, visi-misi presiden dan wakil presiden akan mewarnai rencana kerja kabinet sehingga diperlukan penjabaran yang lebih lanjut.
“Sebagai resiko tak adanya GBHN atau Garis-garis Besar Halauan Negara, maka kabinet harus kerja, kerja, dan kerja guna menjelaskan programnya, sehingga dimengerti rakyat,” kata Bambang.
DPD siap
Bambang mengaku telah berkomunikasi dengan jajaran pimpinan di DPD yang umumnya menyatakan siap jika pemerintah mendahulukan penyampaiannya ke DPD sembari menunggu kesiapan DPR untuk menyelenggarakan rapat kerja. Apalagi, seluruh alat kelengkapan DPD sudah terbentuk, baik komite sesuai dengan bidangnya masing-masing maupun panitia/badan alat kelengkapan lain, termasuk Panitia Perancang Undang-Undang yang pekan depan akan membahas program legislasi nasional bersama pemerintah.
Kalaupun ada kendala waktu, kata Bambang, itu hanya karena komite/panitia/badan sudah merancang programnya hingga akhir tahun 2014.
"Namun, jika diperlukan, bisa dilakukan penyesuaian mengingat komunikasi dengan Pemerintah ini urusan yang strategis, sebagai bahan bagi para senator untuk berkomunikasi dengan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia saat masa reses nanti. Waktunya terbatas, dan ini harus dimanfaatkan secara produktif,” dia menambahkan.
"Sosialisasi program yang masif justru membantu penggalangan partisipasi rakyat untuk menyukseskan program pemerintah," kata senator asal Jawa Tengah dalam pernyataan pers yang dikirim kepada suara.com, Jumat (31/10/2014). Hal ini terkait dengan agenda parlemen, baik DPD maupun DPR, yang memasuki masa reses atau kunjungan kerja ke daerah pemilihan di bulan Desember 2014. "Waktunya tersisa sekitar sebulan, maka sebaiknya dimanfaatkan baik-baik."
Mengingat perkembangan di DPR, menurut Bambang yang juga ex officio Ketua Kelompok DPD, dalam sebulan ke depan DPD belum bisa menjalin komunikasi yang produktif bersama pemerintah. Padahal, banyak agenda keparlemenan yang mesti dikomunikasikan seperti pembahasan APBN tahun 2015 dan rancangan perubahannya.
“Banyaknya kementerian yang berubah, digabung atau dipisah, yang menyebabkan dukungan anggarannya juga harus disesuaikan. Dan, tentu saja baru bisa efektif di APBN perubahan. Karena itu, gagasan postur APBN 2015 dan rancangan perubahannya mesti disosialisasikan,” dia menambahkan selaku anggota Komite IV DPD yang melingkupi antara lain masalah APBN dan perimbangan keuangan pusat-daerah (dana transfer dari pusat ke daerah).
Prioritaskan anggaran
Selain masalah anggaran yang mesti disosialisasikan, kata Bambang, program strategis lainnya juga harus segera diketahui masyarakat. Misalnya program sensitif, seperti pengurangan atau penghapusan subsidi bahan bakar minyak, yang bahasa populernya di tengah masyarakat sebagai kenaikan harga BBM.
Dikatakan, pemanfaatan waktu tersisa sebulan ini menjadi penting karena berselang setelahnya anggota parlemen, khususnya para senator, akan menyampaikan beberapa isu itu kepada masyarakat di daerah pemilihan masing-masing. Respon yang berupa masukan masyarakat bisa dibahas pada masa sidang berikutnya di bulan Januari 2015.
Penjelasan juga diperlukan DPD, terutama jajaran menteri bidang perekonomian. Dalam beberapa hari terakhir ini terkesan kurang meyakinkan pasar dan masyarakat umumnya. Pemaparan program yang jelas dan rinci justru mempermudah pemahaman masyarakat yang tahap berikutnya adalah meningkatkan kepercayaan pasar dan masyarakat, kata Bambang.
Apalagi, visi-misi presiden dan wakil presiden akan mewarnai rencana kerja kabinet sehingga diperlukan penjabaran yang lebih lanjut.
“Sebagai resiko tak adanya GBHN atau Garis-garis Besar Halauan Negara, maka kabinet harus kerja, kerja, dan kerja guna menjelaskan programnya, sehingga dimengerti rakyat,” kata Bambang.
DPD siap
Bambang mengaku telah berkomunikasi dengan jajaran pimpinan di DPD yang umumnya menyatakan siap jika pemerintah mendahulukan penyampaiannya ke DPD sembari menunggu kesiapan DPR untuk menyelenggarakan rapat kerja. Apalagi, seluruh alat kelengkapan DPD sudah terbentuk, baik komite sesuai dengan bidangnya masing-masing maupun panitia/badan alat kelengkapan lain, termasuk Panitia Perancang Undang-Undang yang pekan depan akan membahas program legislasi nasional bersama pemerintah.
Kalaupun ada kendala waktu, kata Bambang, itu hanya karena komite/panitia/badan sudah merancang programnya hingga akhir tahun 2014.
"Namun, jika diperlukan, bisa dilakukan penyesuaian mengingat komunikasi dengan Pemerintah ini urusan yang strategis, sebagai bahan bagi para senator untuk berkomunikasi dengan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia saat masa reses nanti. Waktunya terbatas, dan ini harus dimanfaatkan secara produktif,” dia menambahkan.
Tag
Komentar
Berita Terkait
-
Stop MBG dan KDMP! Niluh Djelantik Bongkar Gaji Guru PAUD 'Dipotong' Demi Program Baru Pemerintah
-
Bahlil Sumbang Hewan Kurban ke Seluruh DPD Golkar, Totalnya Lebih dari 40 Ekor
-
Polemik PSN Papua Tak Bisa Lagi Dipandang Sebelah Mata, DPD Resmi Bentuk Pansus
-
Bukan Sekadar Fiskal, Pimpinan DPD: Pidato Prabowo Ekspresi Nyata Ekonomi Pancasila
-
Ketua DPD Golkar DKI Sebut Jakarta Darurat Sampah, Warga Diminta Mulai Bergerak dari Rumah
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Cara Mencari Sinyal TVRI di TV Digital dan TV Analog agar Bisa Nonton Siaran Piala Dunia 2026
- 4 SMA di Banten Terpilih Jadi Sekolah Unggul Garuda 2026, Ini Daftarnya
- Milk Cleanser Viva untuk Umur Berapa? Ini Penjelasan dan 5 Pilihan Variannya
- 4 Cushion Terbaik untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Anti Crack Samarkan Garis Halus Seharian
Pilihan
-
Prediksi Argentina vs Aljazair: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
Terkini
-
PSI: Kunjungan Jokowi ke Daerah Bukan Safari Politik, Tapi Memenuhi Undangan
-
1 Warga Tewas Akibat Gempa M6,7 di Sulawesi Tengah, 312 Jiwa Terdampak
-
Apakah 'Nyanyian' Sony Sonjaya Bisa Jadi Kunci Bongkar Akar Korupsi MBG?
-
BEM Bersatu Tuding Ada Sosok Eks Petinggi Militer di Balik Aksi Demo Mahasiswa Tolak MBG
-
Guntur Romli Cium Motif Lain BEM Bersatu: Dari Mana Dana Bikin Konferensi Pers?
-
Gus Ipul: Prof Nasar Jadi Salah Satu Figur Kuat untuk Ketua Umum PBNU
-
Wamendagri Ribka Haluk Dorong Penyelesaian RAP Dana Otsus Tambahan & DTI Tahun 2026
-
BEM Bersatu Ungkap Fortuner Tyo Ardianto Atas Nama Adik Jenderal, Gerakan Mahasiswa Disusupi?
-
BEM Bersatu Tuding Ada Intervensi Politik di Balik Aksi Tolak MBG, Guntur Romli: Cocokologi
-
Puluhan Ribu Jemaah Bakal Padati Monas, Jakarta Gelar Haul Akbar Ulama Betawi Terbesar