- Wakil Ketua DPD RI, Yorrys Raweyai, prihatin isu kekerasan Papua sulit diangkat ke panggung nasional.
- Pernyataan ini disampaikan saat menerima laporan audiensi mengenai Tragedi Gearek Desember 2025, menewaskan seorang anak.
- DPD RI melalui Komite I akan bertemu Menko Polkam untuk menyampaikan fakta kondisi Papua secara jujur.
Suara.com - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Yorrys Raweyai mengungkapkan keprihatinannya atas sulitnya mengangkat isu kekerasan di Papua ke panggung nasional di tengah tekanan informasi yang kian hebat.
Hal tersebut disampaikan Yorrys saat menerima laporan audiensi terkait Tragedi Gearek 2025 yang menelan korban jiwa, di ruang pimpinan DPD RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (9/2/2026).
Tragedi Gearek yang terjadi pada Desember 2025 itu dilaporkan melibatkan serangan enam helikopter militer yang menjatuhkan mortir di sebuah kampung di Papua.
Insiden tersebut mengakibatkan seorang anak laki-laki meninggal dunia dan memaksa sekitar 600 warga setempat mengungsi dari tempat tinggal mereka.
Yorrys mengakui bahwa kekerasan di Papua sejatinya sudah menjadi rahasia umum. Namun, ia merasakan perbedaan signifikan dalam upaya membawa isu-isu tersebut menjadi perhatian nasional dibandingkan masa lalu.
"Kekerasan yang terjadi ini bukan rahasia umum. Cuma ini kan sulit sekali untuk kita mengkapitalisasi dia ke tingkat nasional seperti dulu. Dulu kita mampu mengkapitalisasikan itu, terangkat dibicarakan. Sekarang ini kan ditekan sampai begitu hebat," ujar Yorrys di Kompleks Parlemen, Senayan, Senin (9/2/2026).
Kendati demikian, Yorrys menegaskan bahwa tekanan tersebut tidak akan menjadi penghambat. Sebaliknya, hal itu justru menjadi dorongan bagi DPD RI untuk mencari momentum yang tepat.
"Ini menjadi dorongan. Kita tinggal bersinergi dan berkolaborasi karena semua kerja ini tidak bisa kita serahkan masing-masing," imbuhnya di hadapan Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid.
Sebagai langkah konkret, Yorrys menyampaikan bahwa Komite I DPD RI yang dipimpin oleh Wakil Ketua Ratu Hemas dijadwalkan bertemu dengan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) pada Selasa (10/2/2026).
Baca Juga: Terima Laporan Tragedi Gearek, Yorrys Raweyai Singgung Era Jokowi: Ini Tukang Bohong Atau Apa
Yorrys meminta tim yang hadir dalam pertemuan tersebut untuk menyampaikan fakta-fakta terkait kondisi di Papua secara jujur. Ia sendiri memilih untuk tidak hadir langsung guna menjaga efektivitas komunikasi institusi melalui jalur surat resmi.
"Besok Komite Satu yang dipimpin oleh Ibu Ratu Hemas akan ketemu dengan Menko Polhukam. Tolong sampaikan (kondisi sebenarnya). Saya sebetulnya mau hadir, tapi dalam kapasitas sebagai pimpinan, kami sedang buat surat juga," jelasnya.
Secara diplomatis, Yorrys juga menyinggung kondisi pemerintah saat ini yang menurutnya tengah menghadapi berbagai persoalan kompleks. Ia menilai pendekatan DPD RI harus tetap tegas namun terukur.
"Apalagi sekarang pemerintah lagi pusing menurut Pak Usman. Pemerintah lagi pusing, jadi kita jangan terlalu mendesak mereka. Tapi hal-hal ini (Tragedi Gearek) saya pikir semua paham, semua tahu. Jadi tolong dicatat untuk disampaikan besok apa sebetulnya yang terjadi," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Terima Laporan Tragedi Gearek, Yorrys Raweyai Singgung Era Jokowi: Ini Tukang Bohong Atau Apa
-
Joo Changuk DRIPPIN Umumkan Tanggal Wajib Militer, Jadi Pekerja Sosial
-
Ringankan Beban Orang Tua, Program Pendidikan Gratis Gubernur Meki Nawipa Disambut Positif
-
Teman Tegar Maira: Film Inspiratif tentang Cinta Alam dan Persahabatan
-
Program Makan Bergizi Gratis Tuai Pujian UNICEF: Jangkau 60 Juta Orang, Sasar Masa Depan Papua
Terpopuler
- Hadir ke Cikeas Tanpa Undangan, Anies Baswedan Dapat Perlakuan Begini dari SBY dan AHY
- 7 Rekomendasi Bedak Tabur yang Bagus dan Tahan Lama untuk Makeup Harian
- 30 Kode Redeem FF 25 Maret 2026: Klaim Bundle Panther Gratis dan Skin M14 Sultan Tanpa Top Up
- 5 Rekomendasi HP Samsung Terbaru Murah dengan Spek Gahar, Mulai Rp1 Jutaan
- Panas! Keluarga Bongkar Aib Bunga Zainal, Sebut Istri Sukhdev Singh Pelit hingga Nikah tanpa Wali
Pilihan
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
Terkini
-
PM Malaysia Anwar Ibrahim ke Jakarta, Ingin Bertemu Prabowo Bahas Dampak Konflik Asia Barat
-
Imbauan Hemat LPG dari Menteri ESDM Tuai Respons Pedagang: Kalau Diirit Bisa Kacau Jualannya!
-
DPR Ingatkan RI Jaga Politik Bebas Aktif di Tengah Ketegangan di Selat Hormuz
-
Kecelakaan di Jatim Melonjak 78 Persen Saat Lebaran, Kapolda: Seimbang dengan Pergerakan Arus
-
Indonesia Siapkan Draft Element Paper untuk Perbaiki Tata Kelola Royalti Digital Global
-
Uni Emirat Arab: Amerika Harus Tuntaskan Iran, Tak Boleh Gencatan Senjata
-
Tergiur Penggandaan Black Dollar, WNA Korea Tertipu Duo Liberia di Jakarta
-
1.251 Dapur MBG Kena Sanksi, DPR Desak Pengawasan dan Sertifikasi Diperketat
-
Bisakah Pertanian Masyarakat Adat Menjawab Krisis Pangan Global? Ini Temuan Terbarunya
-
Transformasi Pengelolaan Kendaraan Operasional: Dari Beli ke Sewa