Suara.com - Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang membidangi penerbangan akan mengajukan standar peraturan bagi pesawat komersial untuk melaporkan posisi mereka tiap 15 menit. Ini merupakan langkah inisiatif pelacakan setelah hilangnya pesawat Malaysia Airlines MH370 pada tanggal 8 Maret 2014 silam.
Hilangnya MH370 memicu desakan internasional untuk dibuatnya sebuah sistem untuk melacak rute dan lokasi terakhir dari sebuah pesawat.
Seorang juru bicara ICAO, hari Selasa (6/1/2015) mengatakan bahwa standar tersebut, jika disahkan, akan diterapkan dalam waktu dekat karena tidak memerlukan teknologi baru pada pesawat. Para anggota ICAO berencana mendiskusikan proposal terkait hal itu dalam sebuah konferensi keamanan penerbangan di Montreal, Kanada, bulan depan.
Tahun lalu, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) berjanji akan memimpin sebuah satuan tugas industri terkait masalah tersebut. IATA juga secara sukarela meningkatkan kemampuan pelacakan sementara ICAO menggodok standarnya itu.
Pada bulan Desember, satuan tugas itu merekomendasikan maskapai untuk mulai melacak pesawat-pesawatnya dalam interval waktu setidaknya 15 menit dalam 12 bulan. Namun, IATA tidak menetapkan batasan waktu bagi maskapai untuk menerapkan teknologi tersebut.
Juru bicara ICAO, Anthony Philbin, menyebut skema ICAO yang tengah dikembangkannya sebagai "standar pelacakan penerbangan dasar". Badan tersebut tengah mengembangkan rekomendasi pelacakan yang lebih ketat.
"Jika (anggota negara) menyetujui standar tersebut, konferensi keamanan penerbangan akan pula ditanyai soal seberapa cepat standar itu akan diimplementasikan dan apakah ICAO berniat mempercepat prosesnya," terang Phiblin.
ICAO dapat 'memaksa' maskapai untuk segera menerapkan standar tersebut. Pasalnya, standar tersebut menjadi persyaratan regulasi di 191 negara yang menjadi anggota ICAO. Kendati demikian, ICAO akan lebih mementingkan konsensus melalui konferensi yang akan digelar pada Februari mendatang.
Banyak maskapai yang sudah melacak pesawat-pesawat mereka dengan sistem satelit. Namun, dalam praktiknya, perangkat tersebut tidak selalu aktif dan di beberapa lokasi, termasuk rute di dekat wilayah kutub, yang tidak terjangkau sinyal satelit. (Reuters)
Berita Terkait
-
Tanker Gas Amerika Serikat di Mesir Diserang Drone, Meledak Keras
-
Today History 29 Juli: Hari Harimau Internasional hingga Serangan Udara Pertama AURI
-
Prabowo Guyur Insentif Baru, Bea Masuk Impor MRO dan LPG Dipangkas Jadi 0%
-
11 Orang Selamat dalam Kecelakaan Pesawat di Washington
-
Pesawat Kecelakaan dan Terbakar di Teluk Shallow Amerika Serikat
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- KPAI Desak Audit Total MBG: Tata Kelola Gagal, Anak-anak Jadi Korban Ambisi Program
- Ramalan Shio 9 Agustus 2026: 5 Shio Bakal Buang Kesialan dan Buka Jalan Keberuntungan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Pengacara Yoyok Sukawi Bantah Aset Disita, Kuasa Jual Juga Ditolak PN Semarang
-
10 Momen Kece yang Wajib Kamu Tahu sebelum Nonton Spider-Man: Brand New Day
-
2 Rekomendasi Cushion Hanasui untuk Kulit Berminyak Sesuai Klaim dan Review Pembeli
-
Prabowo Pilih Destry Jadi Calon Tunggal Gubernur BI, Airlangga Blak-blakan di Balik Keputusan Ini?
-
Review House of the Dragon Season 3: Hancurnya Moralitas Para Penguasa!
-
Sungai Musi Surut! Tinggi Muka Air Kini Cuma 0,88 Meter
-
Sungai Musi Surut! Tinggi Muka Air Kini Cuma 0,88 Meter
-
Pasokan Semen Aceh Tertekan, SIG Perkuat Pabrik dan Distribusi
-
Karhutla 200 Hektare di OKI Belum Sepenuhnya Padam, Tim Kejar Ekor Api
-
Bukan Sekadar Jumpscare, Aghniny Haque Ungkap Horor Berbeda di "Bisikan Desa Gringsing"