Suara.com - Proses pencarian jenazah korban kecelakaan Pesawat AirAsia QZ-8501 secara total telah dihentikan. Ini setelah Badan SAR Nasional (Basarnas) melakukan pencarian selama sepekan untuk tambahan waktu dari tanggal penghentian itu.
Namun, selesainya pekerjaan Basarnas tidak lantas berimbas pada pekerjaan Tim "Disaster Victim Identification" (DVI) Kepolisian Daerah Jawa Timur. Sebab masih ada sepuluh bagian tubuh yang hingga kini belum teridentifikasi.
Kepala Humas Polda Jatim Kombes Pol Awi Setiyono mengatakan sepuluh potongan tubuh tersebut ada 3 di antaranya berada di ruang pendingin jenazah Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim. Sementara 7 lainnya berada di Mabes Polri, Jakarta.
"Tujuh potongan tubuh yang berada di Jakarta masih dalam identifikasi DNA oleh Mabes Polri, dan merupakan potongan tubuh yang ditemukan bersama bangkai badan pesawat, atau menempel di bagian badan pesawat diangkat itu," ucapnya.
Awi menegaskan bahwa pekerjaan Tim DVI tidak akan pernah berhenti selama ada jenazah atau potongan tubuh korban Pesawat AirAsia QZ 8501 ditemukan. Ia menegaskan tim masih akan terus berusaha mencari kecocokan data dengan pihak keluarga korban dan segera mengumumkan bila terdapat kecocokan.
"Kita tidak akan berhenti sebab masih ada sepuluh potongan tubuh berupa tulang kaki, dan tim masih mengalami kesulitan untuk mencocokkan dengan data DNA keluarga korban yang dimiliki DVI," katanya.
Sementara, Kepala Tim DVI Polda Jatim Kombes Pol Budiyono pun mengatakan hal yang sama, meski proses pencarian jenazah dihentikan secara total, tim yang dipimpinnya selalu siap terus bekerja. Timnya selalu siaga untuk menjaga sewaktu-waktu ditemukan jenazah atau potongan tubuh korban oleh warga atau nelayan yang ada di sekitar lokasi jatuhnya pesawat.
Meski demikian, pihaknya menjelaskan proses identifikasi tidak lagi dilakukan oleh ratusan anggota tim seperti saat awal. Sebab keberadaan anggota tim dikurangi jumlahnya.
Pada awal proses identifikasi, jumlah anggota tim DVI yang bekerja mencapai ratusan. Termasuk anggota dari luar negeri. Namun setelah proses pencarian jenazah resmi dihentikan, maka jumlah anggota yang berjaga di RS Bhayangkara hanya 20 anggota.
"Iya jumlah anggota Tim DVI kini ada 20 orang dari awalnya ratusan yang berjaga, karena proses pencarian korban kecelakaan mulai dihentikan oleh Basarnas," ucapnya.
Budiyono berjanji meski jumlah anggota timnya berkurang tidak akan mengurangi ketelitian dalam melakukan identifikasi jenazah yang tiba. Awal Identifikasi Identifikasi adalah proses akhir dari bagian evakuasi jenazah kecelakaan Pesawat AirAsia QZ 8501.
Dari proses identifikasi bisa diketahui identitas, asal jenazah maupun jenis kelaminnya. Sehingga proses ini disebut sebagai proses penting karena jenazah akan diserahkan kepada keluarga korban yang kemudian dikebumikan.
Budiyono mengakui tidak mudah melakukan identifikasi jenazah untuk korban AirAsia QZ 8501. Sebab sebagian besar jenazah yang ditemukan sudah tidak utuh, bahkan sebagian hanya ditemukan dalam beberapa potongan tubuh. Meski demikian perwira tiga melati yang juga menjabat Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan RS Bhayangkara Polda Jawa Timur itu mengaku tetap berusaha mengidentifikasi setiap jenazah yang ditemukan.
"Dalam proses identifikasi kita utamakan adalah ketelitian dan bukan kecepatan. Oleh karena itu setiap proses identifikasi membutuhkan waktu lama untuk mencocokkan dengan data DNA keluarga korban," katanya.
Sebelumnya, Pesawat AirAsia QZ 8501 dengan rute Surabaya-Singapura yang kehilangan kontak di Perairan Selat Karimata pada 28 Desember 2014 membawa total 166 penumpang beserta kru. Total jenazah dan potongan tubuh yang telah ditemukan Basarnas sebanyak 104 bagian. (Antara)
Berita Terkait
-
AirAsia Optimalkan Rute Favorit di Tengah Gejolak Harga Avtur Global
-
Pasar Pengalaman Wisata Diproyeksi Tembus 342 Miliar Dolar, Atraksi Jadi Daya Tarik Baru Traveler
-
Tren Liburan 2025: Dari Lonjakan Pemesanan Hotel hingga Peran Teknologi Booking Cerdas
-
Daftar Maskapai RI yang Pakai Airbus A320
-
Gen Z Malaysia Jatuh Cinta pada Indonesia: Rahasia Promosi Wisata yang Tak Terduga!
Terpopuler
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Pengakuan Lengkap Santriwati Korban Pencabulan Kiai Ashari di Lingkungan Pesantren Pati
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 7 Sepatu Lari Lokal untuk Jalan Jauh dan Daily Run Mulai Rp100 Ribuan, Tak Kalah dari Hoka
- 5 HP Terbaru 2026 untuk Budget di Bawah Rp3 Juta, Ada yang Support 5G dan NFC
Pilihan
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
Terkini
-
Ngeri! Calon Saksi di PN Jakarta Barat Dikejar dan Dianiaya, Videonya Viral di Medsos!
-
Jadi Mobil Prabowo Selama KTT di Filipina, Maung Garuda Ternyata Diterbangkan Pakai Airbus TNI AU
-
Nyempil di Antara 320 WNA, Satu WNI 'Alumni' Kamboja Jadi CS Judi Online Markas Hayam Wuruk!
-
Hercules Semprot Amien Rais soal Prabowo-Teddy: Jangan Bicara Kayak Preman Pasar!
-
Menaker Dorong Talenta Muda Jadi Inovator melalui Talent & Innovation Hub
-
Operasi SAR Dukono Ditutup! 3 Pendaki Termasuk 2 WNA Ditemukan Tewas Tertimbun Pasir Vulkanik
-
Tolak Ratusan Miliar dari Jenderal demi Setia ke Prabowo, Hercules: GRIB Itu Petarung!
-
Hercules Ngaku Ditawari Jenderal Ratusan Miliar agar Tak Dukung Prabowo di Pilpres 2024
-
Nobar Persija vs Persib: 13 Titik di Jakpus Dijaga TNI-Polri
-
Terungkap! Ini Alasan Ahmad Dedi Lari Hindari Wartawan Usai Diperiksa KPK Kasus Korupsi Bea Cukai