News / Internasional
Sabtu, 04 April 2015 | 06:00 WIB
Tembok ratapan di Israel. (Reuters/Baz Ratner)

Suara.com - Cerita getirnya nasib warga Palestina tidak berhenti di tengah perang. Warga Palestina yang beragama Kristen pun tidak lolos dari perlakuan distriminasi.

Kalangan umat Kristiani Palestina sejak lama mengeluhkan pembatasan akses oleh Pemerintah Israel. Ini terjadi selama beberapa tahun lalu.

Mereka dibatasi masuk Yerusalem untuk mengikuti prosesi Jalan Salib di Jumat Agung. Di mana semua umat berjala di selanjang Via Dolorosa. Pemerintah Israel memperketat perbatasan Palestina dengan Yerusalem.

Selama hampir selama satu dekade, perayaan Paskah di kawasan Palestina dan Israel selalu dihiasi dengan antara warga Kristen setempat dan pasukan Israel.

"Sejak tahun 2005, Israel telah menutup Kota tua Yerusalem bagi kami," kata salah satu jemaat asal Palestina yang juga mantan menteri Palestina, Hind Khoury.

Sebelumnya, tahun 1944 ada 30 ribu Kristiani yang tinggal di Kota Tua Yerusalem. Namun jumlah itu semakin turun menyusul pembatasan ibadah Paskah di sana. Bahkan diskriminasi berujung tidakan kekerasan oleh tentara Israel.

Kawasan yang suka digunakan untuk perayaan paskah adalah di kota Tua bertembok di Yerusalem di Gereja Holy Sepulcher atau Gereja Makam Kudus. Jemaah berdatangan dari seluruh dunia. (aljazeera)

Load More