Suara.com - Rumah Persemayaman Abadi yang berlokasi di Jalan Daan Mogot, KM 2, Jakarta Barat, mendadak terkenal. Rumah persemayaman yang dipimpin Evan Lesmana menjadi sorotan publik setelah menjadi tempat persinggahan dua jenazah terpidana kasus narkotika asal Australia yang dieksekusi di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, pada Rabu (29/4/2015) dini hari, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran.
Kedua jenazah disemayamkan di Rumah Persemayaman Abadi sejak sekitar pukul 12.00 WIB kemarin hingga hari ini.
Menurut informasi, lokasi yang letaknya cukup jauh dipilih atas permintaan Kedutaan Australia yang tidak menginginkan kedua warganya diekspose oleh media secara langsung.
Sejak kedatangan jenazah, wartawan dilarang petugas meliput di dalam rumah persemayaman atas perintah Kedutaan Australia.
Muncul pertanyaan di tengah-tengah hiruk pikuknya pemberitaan, yakni tentang berapa biaya yang dikeluarkan Kedutaan Australia untuk menyewa Rumah Persemayaman Abadi.
Seorang narasumber yang dulu pernah menyewa rumah Abadi memberikan gambaran. Pada tahun 2010 saja, kata dia, menyewa selama tiga hari dan dua malam, membayar lebih dari Rp80 juta.
"Saya sudah tidak asing lagi dengan Rumah ini mas, saya sering pakai rumah ini dulu, pada tahun 2010, daripada ditempatkan di rumah lebih baik taruh di sini. Di sini memang pelayanannya sangat kekeluargaan, tapi ya sesuai juga dengan harganya. Waktu itu keluarga saya tiga hari dua malam itu 80-an juta," kata lelaki yang tinggal di Taman Kota, Jakarta Barat, kepada suara.com, Rabu (29/4/2015) malam.
Biaya tersebut cukup mahal, tapi sebanding dengan layanannya.
"Tetapi kan waktu itu saya beruntung ya, karena namanya kita berduka pasti banyak yang memberikan bantuan. Karena mereka, kan berpikir, memberi bantuan kepada orang yang sedang berduka seperti itu, akan mendapat pahala yang besar, banyak manfaatnya. Ya waktu itu, kira-kira 90-an juta ya mas," katanya sambil tertawa mengenang kejadian lima tahun silam.
Berdasarkan ongkos yang dikeluarkan pada tahun 2010, lantas lelaki yang salah satu anaknya bekerja di Singapura tersebut membandingkan dengan biaya yang dikeluarkan Kedutaan Australia sekarang.
Dia memperkirakan harga sewa saat ini mencapai miliaran rupiah, apalagi jenazah kedua terpidana mati asal Australia ditempatkan di ruang paling istimewa selama dua hari satu malam. Belum lagi biaya peti mati yang disiapkan pengelola Rumah Persemayaman Abadi.
"Ya bisa sampailah mas, hampirlah satu miliar, tapi pastinya kita tidak tahu ya. Mereka kan dua orang, di tempat VIP lagi kan, Room A itu VIP mas, sekarang tahun 2015, coba bayangkan, belum kalau petinya dibuat pihak sini dari kayu nomor satu. Uang miliaran ga ada artinyalah bagi kedutaan demi warganya," katanya.
Meskipun begitu, lelaki itu mengagumi pengelola rumah Abadi, karena terkadang mereka tidak memaksakan ongkos bagi keluarga yang tidak mampu. Seperti dirinya dulu, pernah diberi keringanan hingga 20 persen.
"Tapi kalau tidak mampu, tidak dipaksa mas, tapi nanti ada saja yang sumbang. Saya pernah dapat diskon hingga 20 sampai 30 persen," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 2 Juli 2026, Ada Kuda hingga Anjing
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Bayar Rp200 Ribu Sebulan Bisa Naik Transjakarta Setiap Hari? Begini Skemanya
-
PBNU Masih Survei Lokasi Muktamar ke-35 NU, Persiapan Teknis Terus Dikebut
-
'Daripada Liburan Mending Melawan', Ibu-ibu di Jogja Geruduk Bundaran UGM Gugat Kebijakan Korup
-
Dalami Amplop dari Bupati Kuansing, KPK Buka Peluang Periksa Menhut Raja Juli
-
PLN Klaim Pemadaman Listrik di Kalbar Bukan karena Krisis Batu Bara, Ini Penyebabnya
-
Said Iqbal Beri Deadline Disnakertransgi DKI, Senin Harus Ada Keputusan Soal Kasus Mau Print
-
Pengusaha Kalbar Rugi Akibat Listrik Padam, DPRD Desak PLN Lebih Terbuka
-
PLN Sebut Bukan Karena Batu Bara, DPRD Minta Penyebab Pemadaman Listrik di Kalbar Dibuka ke Publik
-
PAN Tegaskan Kasus Syah Afandin Bukan 'Dosa' Partai: Itu Tanggung Jawab Pribadi!
-
Teka-teki Lokasi Muktamar NU, 5 Provinsi Ini Bersaing Ketat