Suara.com - Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Nusa Tenggara Barat Brigadir Jenderal Polisi Srijono mewacanakan penertiban lahan dan bangunan milik warga negara asing yang mengatasnamakan warga lokal. Praktik pembelian lahan ini dinilai merugikan pemerintah daerah dari sisi penerimaan pajak.
"Kami akan bekerja sama dengan pemerintah daerah, tapi saya baru mewacanakan sebagai bentuk kepedulian saya karena yang paling dirugikan pemerintah daerah," katanya di Mataram, Jumat (1/5/2015).
Meskipun lahan dan bangunan atas nama orang lain, menurut dia, warga negara asing tersebut tetap bisa mengelola dan menikmati lahan dan bangunannya. Mereka sewaktu-waktu bisa datang ke NTB untuk menikmati liburan selama berhari-hari, tanpa harus menginap di hotel karena memiliki lahan dan bangunan yang bisa ditempati.
"Kalau dia berlibur tidak menginap di hotel karena dia punya lahan sendiri. Lalu siapa yang dirugikan, mestinya kalau dia menginap harus bayar," ujarnya.
Srijono mengaku belum memiliki data secara pasti terkait dengan warga negara asing yang memiliki lahan dan bangunan dengan mengatasnamakan warga daerah. Namun, ia memperkirakan jumlahnya relatif banyak karena NTB saat ini menjadi daerah primadona bagi para wisatawan domestik maupun mancanegara.
"Kalau soal data silakan tanya ke Dinas Pariwisata dan Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah. Saya baru tahu satu dua, yang tahu datanya pemerintah daerah. Tapi diperkirakan banyak," katanya.
BERITA MENARIK LAINNYA:
24 Jam Berpelukan dengan Mayat Korban Gempa Nepal
Muncul Video Penyesalan Andrew Chan karena Terjerumus Narkoba
Misteri Muasal Air Terjun Darah di Antartika Terpecahkan
Lelaki yang Tidak Pernah Melihat Matahari Selama 18 Tahun
Lihat Deh Isi Apartemen Terjorok di Singapura Ini
Tag
Berita Terkait
-
AI hingga Sertifikasi Internasional, Kunci Cetak Generasi Unggul di Industri Pariwisata Global
-
Siapa Sebenarnya Saleh Daulay? Pria yang Cecar Menpar Widiyanti saat Rapat DPR Soal Anggaran
-
Bisakah Pariwisata Indonesia Tetap Tumbuh Tanpa Merusak Lingkungan?
-
Geger Penemuan UUV Diduga Asal China di Gili Trawangan, Laut Indonesia Dimata-matai?
-
Pariwisata RI Kembali Bergairah Awal 2026, Didominasi Turis China
Terpopuler
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Sepeda Polygon Paling Murah Tipe Apa? Ini 5 Pilihan Ternyaman dan Tahan Banting
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- Pakar UGM Bongkar 'Dosa' Satu Dasawarsa Jokowi: Aturan Dimanipulasi Demi Kepentingan Rente
Pilihan
-
Cek Fakta: Viral Pengajuan Pinjaman Koperasi Merah Putih Lewat WhatsApp, Benarkah Bisa Cair?
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
Terkini
-
Dosen UGM Jadi Penasihat Daycare Little Aresha, Kampus Tegaskan: Bukan Representasi Institusi
-
Siapa Cole Tomas Allen? Guru Terbaik Diduga Pelaku Penembakan Trump, Pendukung Partai Demokrat
-
Donald Trump Buka Tangan ke China Bantu Konflik di Selat Hormuz, Tapi Tidak Berharap Banyak
-
Bom Meledak di Bus Kolombia Hingga Ciptakan Kawah Besar, 20 Orang Tewas
-
BEM KSI: Dasco Selesaikan Masalah Dana Umat Katolik Secara Bijak, Isunya Jadi Tak Melebar
-
Anak 14 Tahun Tewas Dirudal Israel di Palestina
-
Identitas dan Kronologis Penangkapan Penembak di Acara Gala Dinner Donald Trump
-
Thailand Tangkap Mastermind Hybrid Scam Asal Indonesia, Tipu Investor AS di Aplikasi Kencan Online
-
Menteri PPPA Turun Tangan, Korban Kasus Daycare Little Aresha Dapat Pendampingan Psikososial
-
2 Eks PM Israel Bersatu Mau Gulingkan Benjamin Netanyahu