Suara.com - Di tengah isu perombakan kabinet, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti ngetwit di @susipudjiastuti. Susi mendengar ada pihak yang menginginkannya untuk mundur. Nilai tawaran agar dirinya tak lagi di Kabinet Kerja mencapai Rp5 triliun.
"Saya dapat kabar 5T untk saya walk away. Nilai yg sangat banyak. Saya bangga tarif untk seorang lulusan SMP begitu mahal," tulis Menteri Susi di Twitter @susipudjiastuti, Rabu (13/5/2015).
Menanggapi hal itu, pakar psikologi politik dari Universitas Indonesia Dewi Haroen menilai Menteri Susi sudah kehilangan kepercayaan dari masyarakat.
"Itu statusnya dia (Menteri Susi di Twitter) bahwa sebetulnya, artinya dia kehilangan muka, kan di sana dia pasti ada penawaran politik apa-apa juga. Kan ada isu reshuffle kan, dan salah satunya menelusuri menteri yang kurang baik. Kan sekarang perikanan menurun," kata Dewi kepada suara.com, Kamis (14/5/2015).
Lebih jauh, Dewi mengaku tidak yakin ada orang yang menawarkan uang sampai Rp5 triliun hanya untuk meminta seorang menteri keluar dari kabinet.
"Ya saya gak yakin, artinya segitu-gitunya, saya gak yakin Rp5 triliun segala macem, untuk apa? terus apa gunanya, kan belum tentu juga," ujar Dewi.
Kemudian terkait salah satu survei yang menempatkan Menteri Susi sebagai menteri terpopuler dan banyak diberitakan media massa, menurut Dewi, itu bukan berarti kinerjanya bagus.
"Survei yang mana dulu mas? survei kan bisa dibuat, survei itu, kan hanya dari (pemberitaan) media, tapi kalau tingkat kepuasan masyarakat apa iya bisa dibuat, misal dia bagus dari survei tapi kinerjanya itu dari masyarakat kondisi ekspor menurun misalnya, kan menimbulkan keresahan di masyarakat juga," kata dia.
Dewi enggan memberikan penilaian terhadap kinerja Menteri Susi.
"Penilaian itu bisa dilihat dari angka-angka ekspor, angka nelayan, saya gak mau menilai orangnya, bukan juga dari survei lagi, tapi rapor aslinya. Kan pencapaian ekspor, saya lebih suka real penilaian di masyarakat, kondisi dampak kerjanya gimana, menenggelamkan kapal ada dampaknya gak sih? jadi kita lihat itu semua," kata Dewi.
Dewi menduga Menteri Susi merupakan salah satu dari beberapa menteri yang masuk daftar diganti.
"Ya kemungkinan (Susi akan di reshuffle). Karena angka-angka dia, kan angka perekonomian, kan semua ini akan hancur kalau perekonomian gak jalan, jadi Pak Jokowi akan bermasalah kalau perekonomian gak jalan apalagi menyangkut nelayan," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Henri Curiga Kasus Roy Suryo Dikebut, Sebut Ada Upaya Cegah Ijazah Jokowi Diuji di Pengadilan
-
Di Tengah Sorotan Ekonomi, Prabowo Minta Rosan Buka Data Masuknya Investasi Asing ke Indonesia
-
Sentil Polri di Kasus Roy Suryo, Henri Subiakto Sebut UU ITE Dipakai Tutupi Isu Ijazah Jokowi
-
Di Tengah Gelombang Kritik, Prabowo Sebut Investasi Asing ke Indonesia Terus Mengalir
-
Henri Subiakto Sebut Pasal yang Menjerat Roy Suryo Tak Masuk Akal, Status P21 Dipertanyakan
-
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Segera Ditandatangani, Teheran Beri Sinyal Berbeda
-
Apa Itu Restitusi? Wamen PPPA Tegaskan Korban Bullying Berhak Dapat Ganti Rugi
-
Bangun Spiritualitas Warga Jawa Barat, KDM Prioritaskan Bangun Tajuk di Lingkungan
-
Kejahatan Digital Kian Mengintai, Pemerintah Minta Anak Muda Hati-hati di Internet
-
Veronica Tan Soroti Pemberdayaan Perempuan di NTT: Kunci Putus Rantai Kemiskinan dan Kekerasan