Suara.com - Kepala Badan Reserse Kriminal Polri, Komisaris Jenderal Budi Waseso enggan menanggapi dugaan menteri yang merendahkan Presiden Joko Widodo. Dia juga belum bisa mengategorikan apakah hal itu masuk pelanggaran pidana atau tidak.
Namun, ia menegaskan, bila ada pihak yang melaporkan hal itu, pihaknya akan menindaklanjuti.
"Tetapi bila ada laporan tentu akan ditindaklanjuti," kata Budi Waseso usai syukuran HUT Bhayangkara ke 69 di Mabes Polri, Rabu (1/7/2015) malam.
Menurutnya, ada kemungkinan pihak yang akan melaporkan masalah tersebut ke polri. Namun dia juga belum bisa memastikan apakah masalah itu merupakan pelanggaran pidana atau tidak.
"Mungkin nanti Sekretariat Negara (melaporkan). Apakah itu pidana atau tidak nanti tergantung materinya apa," terangnya.
Sementara itu, belakangan telah muncul rekaman suara penghinaan terhadap Presiden Jokowi yang diduga dilakukan oleh seorang Menteri Kabinet Kerja. Namun sampai sekarang belum ada keterangan resmi dari istana atau Menteri Sekretaris Negara mengenai rekaman tersebut.
Secara terpisah, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi enggan menanggapi beredarnya transkrip rekaman tersebut.
"Tanyakan sama yang buka transkrip (rekaman) itu, saya belum bisa berkomentar karena belum tahu kebenarannya," kata Yuddy di Mabes Polri, Rabu malam.
Yuddy mengaku juga belum mengetahui kebenaran rekaman seorang menteri yang tidak menghormati Jokowi tersebut.
"Makanya kita kan tidak tahu transkip itu benar atau tidak. Biar yang buka transkip itu yang menceritakan kebenarannya," kata politikus Partai Hanura ini.
Sebelumnya beredar rumor yang mengatakan bahwa ada menteri yang meremehkan Presiden Jokowi. Sejumlah politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan mengatakan menteri yang meremehkan presiden adalah perempuan. Sementara di media sosial disebutkan bahwa menteri tersebut berisinisial Y.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- DPR Pertanyakan, Pemerintah Menjawab, Dari Mana Datang Isu Kipas Angin Rp1,8 T untuk Kopdes?
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Kulit Sawo Matang Jangan Salah Pilih Warna Lipstik! Ini 8 Pilihan yang Bikin Wajah Cerah Seketika
Pilihan
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
Terkini
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Menembus Macet demi Langit Bersih: Catatan Acara Lintas Komunitas Kemenhub
-
Berawal dari Dapur Rumahan, Camilan BUNCY Kini Mendunia Bersama BRI
-
Terjaring OTT, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini tiba di KPK
-
Banyak Sekolah Rusak? Prabowo Janji Bereskan Semuanya Sebelum 2029
-
Gaji Bukan Hambatan, Pep Guardiola Berpeluang Tangani Timnas Italia
-
Pakar Jelaskan Soal BPA pada Galon Guna Ulang, Benarkah Berbahaya?
-
Green Label Jadi Tren Baru Bangunan, Material Ramah Lingkungan Semakin Diminati
-
Mendagri Tito Heran Banyak Kepala Daerah Kena OTT, Padahal Sudah Ikut Retret
-
Kriminolog: TPPU Pintu Masuk untuk Kasus Eks Jampidsus