Suara.com - Sebanyak 37 tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Jawa Timur mengalami masalah yang cukup berat, salah satunya terancam hukuman mati, sehingga pemerintah akan berupaya mendampingi mereka.
"Di Jatim ada 37 TKI yang mengalami masalah besar. Kami akan kumpulkan keluarga TKI dengan Menlu untuk diskusi mencari solusi lebih baik," kata Ketua Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Nusron Wahid di Nganjuk, Jumat (10/7/2015).
Ditemui di sela Safari Ramadhan di Desa Cengkok, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk tersebut, Nusron mengatakan dari 37 TKI tersebut masalah mereka beragam, seperit ancaman hukuman mati, hukuman seumur hidup, narkotika, sampai terkena kasus pembunuhan.
Ia mengatakan pihaknya sudah berencana mengadakan pertemuan dengan keluarga TKI yang mendapatkan masalah itu. Nantinya, pada 27 Juli akan mengundang keluarga TKI yang dipertemukan dengan Kementerian Luar Negeri, guna melakukan diskusi mencari solusi lebih baik.
Selain agenda itu, Nusron juga mengatakan pemerintah dengan BNP2TKI juga akan berusaha melobi pemerintahan di tempat TKI tersebut terkena masalah. Pemerintah juga akan menyiapkan pengacara guna mendampingi TKI yang terkena masalah di luar negeri.
"Kami juga minta maaf pada keluarga korban, bahkan jika ada diyat kami bantu diyatnya," ujarnya.
Nusron mengatakan sebenarnya aspek perlindungan kepada TKI semakin baik, namun masih ada beberapa masalah yang merupakan peninggalan sebelumnya, misalnya terkait dengan pemalsuan dokumen maupun umur, sehingga berdampak pada TKI yang negara tempat ia bekerja berpotensi terjadi masalah.
Saat ini, pemerintah mengkaji model alternatif agar TKI di luar negeri menjadi lebih aman. Pemerintah akan menghentikan pengiriman TKI untuk rumah tangga dan menggantinya dengan sektor lain, seperti di perusahaan.
Ia berharap TKI yang bekerja di luar negeri dipenuhi dengan keterampilan. Selain keamanan mereka lebih terjamin, hak mereka juga dipastikan lebih aman.
"Semua yang domestik akan ganti sistem, nanti menjadi pelayan toko, perusahaan. Untuk pembantu rumah tangga diperbolehkan, tapi tinggal di luar dan tidak menyatu (ikut di dalam rumah majikan)," ujarnya.
Saat ini, pemerintah masih mengkaji rencana tersebut dan nantinya akan dibicarakan dengan negara tempat tujuan TKI. Ia berharap negara yang menjadi tujuan TKI bisa menerima konsep tersebut.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf mengatakan pemerintah memang akan mengurangi porsi TKI yang bekerja di domestik atau di dalam rumah tangga.
Pemerintah juga tidak melakukan pembatasan TKI yang bekerja, tapi akan membekali mereka dengan keterampilan, sehingga mempunyai bekal yang lebih baik saat di luar negeri.
"Kalau pembatasaan dengan keterampilan. Kami ingin tenaga kerja formal, bukan informal," kata Wagub. (Antara)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 HP Xiaomi RAM 8 GB Termurah di Februari 2026, Fitur Komplet Mulai Rp1 Jutaan
- 7 HP Murah Terbaru 2026 Buat Gaming: Skor AnTuTu Tinggi, Mulai Rp1 Jutaan!
- Baru! Viva Moisturizer Gel Hadir dengan Tekstur Ringan dan Harga Rp30 Ribuan
- 6 Tablet Murah dengan Kamera Jernih, Ideal untuk Rapat dan Kelas Online
- 5 HP Infinix Terbaru dengan Performa Tinggi di 2026, Cek Bocoran Spefikasinya
Pilihan
-
Geger Taqy Malik Dituding Mark-up Harga Wakaf Alquran, Keuntungan Capai Miliaran
-
Kabar Duka: Mantan Pemain Timnas Indonesia Elly Idris Meninggal Dunia
-
Cibinong Mencekam! Angin Kencang Hantam Stadion Pakansari Hingga Atap Rusak Parah
-
Detik-Detik Mengerikan! Pengunjung Nekat Bakar Toko Emas di Makassar
-
Lika-liku Reaktivasi PBI JK di Jogja, Antre dari Pagi hingga Tutup Lapak Jualan demi Obat Stroke
Terkini
-
Kemensos dan BPS Lakukan Groundcheck 11 Juta PBI-JKN yang Dinonaktifkan, Target Tuntas Dua Bulan
-
Bupati Buol Akui Terima Rp 160 Juta dan Tiket Konser BLACKPINK, KPK Siap Usut Tuntas!
-
KPK Dalami Hubungan Jabatan Mulyono di 12 Perusahaan dengan Kasus Restitusi Pajak
-
Saksi Ahli Berbalik Arah! Mohamad Sobary Dukung Roy Suryo Cs dalam Kasus Ijazah Palsu Jokowi
-
Gus Yaqut Praperadilan: Ini Tiga Alasan di Balik Gugatan Status Tersangka Korupsi Kuota Haji
-
Kampung Nelayan Merah Putih Diubah Jadi 'Mesin Ekonomi' Baru, Ini Rencananya
-
Jadi Saksi Ahli Dokter Tifa Kasus Dugaan Ijazah Palsu Jokowi, Din Syamsuddin Diperiksa Selama 4 Jam
-
Israel Resmi Gabung BoP, Pakar UGM Sebut Indonesia Terjebak Diplomasi 'Coba-Coba' Berisiko Tinggi
-
Polemik Adies Kadir Memanas: Apakah MKMK 'Mengambil Alih' Keputusan DPR?
-
Kejagung Geledah Sejumlah Perusahaan di Sumatra Terkait Korupsi Ekspor CPO