KPK menahan Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho dan istri Evy Susanti dalam kasus dugaan suap terhadap hakim dan panitera Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) di Kota Medan. [Suara.com/Oke Atmaja]
Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang juga Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho sudah terjaring dalam tiga kasus korupsi sekaligus oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Kasus pertama adalah dugaan suap hakim dan panitera PTUN Medan, kemudian kasus pemberian hadiah terhadap Mantan Sekjej Nasdem, Patrive Rio Capella untuk mengamankan penanganan kasus Bansos do Kejati Sumut dan atai Kejagung, dan yang teranyar adalah kasus suap anggota DPRD Sumut untuk memuluskan laporan pertanggungjawabannya sebagai Gubernur Sumut dan juga terkait pembahasan dan pengesahan APBD Sumut Tahun 2014 dan 2015.
Kalau berkaca pada beberapa pada tindakan beberapa partai politik lain yang langsung memecat atau menyarankan kadernya yang terlibat kasus pidana korupsi mengundurkan diri, PKS justru mengambil jalan lain. Pihakmya masih memberikan toleransi terhadap kadernya, selama putusan bersalah di Pengadilan belum ada.
"Oh kalau sudah turun putusan, harus ada keputusan, akan ada keputusan, tetapi harus kedepankan asas preasumsion of innocent," kata Wakil Sekjen PKS Mardani Sera di Gado-Gado Boplo Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu(7/11/2015).
Dia pun menjelaskan alasan kenapa pihaknya tidak langsung memecat kadernya yang terjerat korupsi seperti dilakukan partai lain. Dirinya menjelaskan bahwa setiap orang yang ingin masuk ke PKS bukan karena dia itu ingin berkuasa. Dan hal itu berbeda dengan partai lain yang dinilainya hanya menginginkan kekuasan.
"Kalau sekarang gini, di PKS ini kita tegaskan, kenapa kita nggak cepat cepat memecat Pak Gatot, kan orang gabung ke PKS itu bukan kaya partai lain yang pengen dapat kekuasaan," kata Mardani.
Dia meneceritakan bahwa terkait Gatot, bahwa dirinya sudah mengenalnya sejak lama. Karenanya, dia tidak mau, waktu yang lama tersebut dapat dihapus oleh waktu setahun saja hanya karena kasus korupsi.
"Saya mengenal Gatot sejak masih muda, 15 tahun yang lalu saya sudah kenal Gatot, istrinya luar biasa mendampingi. Bahwa kemudian sekarang manusia khilaf ya janganlah tiba-tiba 15 tahun kontribusi, kemudian dengan khilaf yang sedikit ini kita langsung menistakan Pak Gatot. Pak Gatot bahwa dia salah monggo," katanya.
Meski begitu, dirinya tetap menjadikan kejadian yang menimpa salah satu kadernya tersebut menjadi pelajaran bagi partai selanjutnya.
"Ya ini jadi masukan untuk kita, bagaimana pun ini mahal harganya, kami akan perbaiki," tutupnya.
Komentar
Berita Terkait
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Usut Korupsi Rp35,7 M, KPK Bedah Keuangan KSO Pembangun Gedung Pemkab Lamongan
-
Jangan Coba Intervensi! KPK Pasang Badan untuk Saksi Kasus Bea Cukai yang Diintimidasi
-
Bobby Nasution Jenguk Murid Korban Keracunan MBG Karo di RS Haji, Pastikan Penanganan hingga Pulih
-
KPK Cecar Pejabat Bulog, Dalami Pembentukan Harga Beras dalam Kasus Korupsi Bansos
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi