Suara.com - Duta besar (Dubes) Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia, Roberth O Blake menyebut Papua sangat penting bagi Ameriks Serikat (AS) sehingga pihaknya sehingga melakukan kunjungan kerja di Bumi Cenderawasih.
"Dubes AS mengatakan kepada kami, bahwa Papua itu penting bagi Amerika makanya dia merasa penting untuk berkunjung ke tanah Papua," kata Ketua Sekretariat Keadilan Pedamaian dan Keutuhan Ciptaan (SKPKC) Yuliano Languwuyo di Kota Jayapura, Papua, Rabu (20/1/2016).
Dubes Blake, kata Languwuyo, ingin mendengar bagaimana situasi politik dan HAM di tanah Papua, selain perkembangan lainnya ketika bertemu di Restoran Yougwa, Sentani, Kabupaten Jayapura, pada Selasa (19/1/2016) malam.
"Kami menyampaikan situasi politik di 2014 hingga 2015. Kami sampaikan situasi HAM di tanah Papua tidak ada perubahan, walaupun dipertengahan 2014 orang bilang kita akan mempunyai pimpinan sipil yang kami harapkan," katanya.
"Tetapi harapan kekuasaan militerisme itu akan turun jika angka kekerasan yang dilakukan oleh aparat dan militerisme juga turun, hanya ternyata kenyataan itu tidak juga terjadi, meski orang sipil berkuasa," lanjutnya.
Lebih lanjut, Languwuyo mengatakan kepada Dubes Blake, bahwa pengaruh militerisme masih dominan terutama kepada investor besar di Papua yaitu Freeport dan BP di Teluk Bintuni, Papua Barat.
"Dimana terlihat pemakaian militerisme sangan besar di dua perusahaan itu guna menjaga areal investasi. Dan itu berdampak buruk kepada masyarakat Papua juga kepada masyarakat yang tinggal sekitar masyarakat perusahaan, karena militer benar-benar menjaga daerah tambang," katanya.
Sehingga banyak kasus-kasus kekerasan yang terjadi di sekitar daerah tambang baik itu di Freeport dan BP.
"Dan kami mempertanyakan kepada Dubes Blake, apa Freeport punya kontrol atau melihat aparat keamanan yang menjaga keamanan apa punya perspektif HAM dalam menjalankan tugasnya atau tidak," katanya.
Sebab, lanjut Languwuyo, dalam penjelasan Kepala Kantor Perwakilan Komnas HAM Papua, Frits Ramandey, perusahaan Freeport dan BP, memberikan pelatihan tentang apa itu HAM kepada TNI dan polisi dengan harapan mereka punya perspektif soal HAM, sehingga dalam penanganan pengamanan tidak menggunakan cara-cara kekerasan.
"Pertanyaan itu kami sampaikan kepada Freeport namun kami tak mendapat jawaban dan Dubes Blake mempertanyakan balik, apakah itu merupakan hal yang penting? Dan kami bilang itu penting baik polisi dan militer," katanya.
Mengenai berbagai kekerasan yang terjadi di Papua, kata dia, Dubes Blake mengaku tahu soal kekerasan yang terjadi di Papua.
"Dubes juga bertanya bagaimana pendapat soal Presiden Jokowi? Kami katakan Presiden Jokowi orang yang baik, tapi pemerintahan sekarang masih dikontrol oleh militer. Pak Frits Ramandey juga menyatakan kepada Dubes Blake untuk merekomendasikan kepada Pemerintahan Jokowi agar menyelesaikan kasus Paniai dan kekerasan lainnya di Papua," katanya.
Sejumlah tokoh Papua bertemu dengan Duta Besar (Dubes) Amerika Serikat (AS) Robert Blake yang dikemas dalam acara makan malam bersama di Restauran Yougwa, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Selasa (19/1/2016) malam.
Pantauan terhadap situasi di lapangan, tokoh Papua yang bertemu dengan Dubes AS itu diantaranya Kepala Kantor Perwakilan Komnas HAM Papua Frits Ramandey, Ketua LSM Jaringan Kerja Rakyat (Jerat) Septer Manufandu, Koordinator Jaringan Damai Papua (JDP) Neles Tebay dan Ketua Sekretariat Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (SKPKC) Papua Yuliana Languwuyo. [Antara]
Berita Terkait
-
Program KNMP Dongkrak Produktivitas Nelayan hingga Dua Kali Lipat
-
Deforestasi Indonesia Melonjak 66 Persen di 2025, Papua hingga Kalimantan Paling Terdampak
-
Satgas Damai Cartenz Ringkus Dua Anggota Jaringan Senjata dan Amunisi Ilegal di Jayapura
-
Banjir Akibat Danau Sentani Meluap
-
Duka di Maybrat: Dua Prajurit TNI AL Gugur Usai Kontak Tembak dengan KKB, Senjata Dirampas
Terpopuler
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
- 6 Smartwatch di Bawah Rp1 Juta, Fitur Premium untuk Aktivitas Sehari-hari
- Kata Anak Pinkan Mambo Usai Tahu Sang Ibu Ngamen di Jalan: Downgrade Semenjak Nikah Sama Suaminya
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
Pilihan
-
Tak Ganggu Umat Muslim, Pihak Yayasan Pastikan Rumah Doa Jemaat POUK Tesalonika Jauh dari Masjid
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
Terkini
-
Cerita Warga di Mereudu Gotong Royong Bareng Pemerintah dalam Pemulihan Pasca Bencana
-
Jejak Berdarah Pulan Wonda: Anggota OPM Penembak Jenderal Tito Karnavian Ditangkap di Puncak Jaya
-
Innova Venturer Ringsek Tak Berbentuk Dihantam KRL di Bogor, Sopir Raib Misterius Usai Tabrakan
-
Perombakan Besar Militer AS, Pete Hegseth Pecat Jenderal Randy George di Tengah Perang Iran
-
Bahas Isu Terkini, Seskab Teddy Bertemu Wapres Gibran 1,5 Jam di Istana Sambil Bawa Catatan
-
Misi Gelap WNA Rusia Selundupkan 202 Reptil Digagalkan Gakkum Kemenhut! Pelaku Terancam 10 Tahun Bui
-
Rudal Ghadr Hantam Kapal Induk AS, Balas Dendam Iran Atas Gugurnya Khamenei Benar-Benar Pecah
-
Dukcapil: Hampir 35 Persen Pendatang ke Jakarta Cari Kerja, Didominasi Usia Produktif
-
Godzilla El Nino Ancam Ketahanan Pangan, Padi dan Jagung Paling Rentan Gagal Panen
-
Radar THAAD Senilai Rp2 Triliun Hancur Total Diserang Iran Bikin Hubungan AS dan NATO Kini Memanas