Suara.com - Empat warganegara Singapura ditahan ISA-lembaga antiteror Singapura, karena dicurigai terlibat dengan sejumlah kelompok radikal di Timur Tengah.
Kementerian Dalam Negeri Singapura baru-baru ini mengumumkan nama-nama orang yang berhasil diamankan. Mereka adalah Mohammad Razif Yahya (27) dan Amirudddin Sawir (53). Keduanya dicurigai akan terbang ke Yaman untuk bergabung dengan kelompok militan Islam di sana.
Dua orang lainnya adalah Mohamed Mohideen Mohamed Jais (25) serta seorang lagi bernama Wang Yuandongyi. Tak satupun dari keempat orang tadi terkait dengan ISIS.
Wang Yuandongyi sebelumnya berencana bergabung dengan pasukan Kurdi untuk melawan ISIS. Menurut staf Kementerian Dalam Negeri Singapura, Wang sangat membenci ISIS dan ingin memeranginya dengan cara bergabung dengan pasukan Kurdi.
Wang diketahui berhubungan dengan militan Kurdi sejak Desember lewat percakapan di internet. Di situ, dia membahas soal jalur yang akan dilalui untuk menuju ke Suriah. Rencana ini gagal karena keburu diendus aparat.
"Pemerintah akan bertindak tegas kepada siapapun yang mendukung, mengampanyekan, melakukan atau membuat persiapan untuk melakukan kekerasan bersenjata, terlepas dimana hal tersebut akan dilakukan," kata pihak kemeterian dalam pernyataan resminya.
"Keterlibatan mereka dalam konflik di luar negeri juga dapat membahayakan kepentingan nasional Singapura, termasuk hubungan bilateral kami. Mereka dianggap menimbulkan ancaman bagi keamanan Singapura, dan akan tegas ditangani sesuai dengan hukum kita," lanjutnya.
Razif diketahui mulai belajar di Yaman pada 2010 lalu, sementara Amiruddin terbang ke sana pada 2013. Keduanya masuk ke salah satu kelompok militan untuk memerangi kelompok Syiah Houthies. Razif dan Amiruddin dilatih sebagai sniper dan terampil menggunakan senjata laras panjang Kalashnikov.
Sementara Mohideen bertugas menjaga persenjataan saat belajar di Yaman sejak 2009 hingga 2013.
"Razif dan Amiruddin telah disiapkan untuk membunuh dan menjadi martir di konflik Yaman," katanya. (Asiaone)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
Pilihan
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
-
90 Menit yang Menentukan! Trump Tak Jadi Pakai Senjata Nuklir ke Iran karena Ditekan?
-
Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata Perang Iran Selama Dua Pekan
Terkini
-
Kapan TNI Ditarik dari Pasukan Perdamaian PBB di UNIFIL?
-
Trump Klaim Menang Telak di Iran Saat Gencatan Senjata Mulai Berlaku Bagi Militer Amerika Serikat
-
China Veto Resolusi Selat Hormuz Karena Ogah Legalkan Aksi Militer Ilegal AS dan Israel
-
Wamen PPPA Soroti Lingkaran Setan Kemiskinan Akibat 'Banyak Anak Banyak Rezeki'
-
Indonesia Sambut Baik Gencatan Senjata Iran dan AS
-
Isu Perombakan Kabinet, Sekjen Partai Golkar Berharap Tidak Ada Kadernya yang Terkena Reshuffle
-
Prabowo Targetkan 3 Tahun Lagi Indonesia Bebas Sampah: Kita Punya Teknologi Buatan Sendiri
-
Lakukan Evaluasi Imbas 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Pemerintah Bakal Tarik Pasukan Perdamaian?
-
Mahasiswa Desak MK Kabulkan Uji Materi UU TNI Terkait Tragedi Andrie Yunus
-
Polemik Kasus Chromebook dan Ancaman Trial by The Press di Era Digital