Suara.com - Apa cita-citamu saat kecil di era 80-90-an? Tak banyak profesi yang terkumpul di benak kepala orangtua, bahkan Anda saat itu. Dokter, pilot, pengacara, polisi, tentara, dan pegacara menjadi impian 'maksimal' saat itu.
'Anehnya' dalam novel, Sasmito Madrim menampilkan sosok Gayatri, perempuan tukang protes sejak kecil yang bercita-cita menjadi jurnalis. Menarik, lulusan Universitas di Jawa Timur itu pun diterima di salah satu media massa tua dan besar di Jakarta. Apa yang membuat Gayatri diterima? Pasti ada kelebihan 'wow'.
Sasmito meneceritakan kisah GYT dari sisi manis menjadi wartawan. Namun dia juga menceritakan sisi sulit menjadi wartawan baru, tapi sedikit. Gayatri, menurut cerita jurnalis KBR itu adalah sosok yang sempurna. Baca saja dari halaman 5 sampai 120 'mini novelnya'.
Seharusnya bagi Sasmito, tak sulit untuk seorang jurnalis menceritakan suka dan duka mengejar berita sampai dimaki bos karena mendapatkan berita basi. Terlebih Gayatri ini bekerja di media besar yang mengutamakan sisi investigasi sebagai cara kerjanya.
Meski begitu, Sas berhasil membuat pembacanya tidak menyimpan novelnya di rak buku atau laci setelah membaca beberapa lembar. Selembar demi selembar, Sas banyak menceritakan sosok jurnalis yang tidak tergambar di televisi.
Meski saat ini di salah satu TV sudah ada program drama yang menggambarkan ritme kerja di media massa, khususnya televisi. Tapi menjadi jurnalis tidak seindah di acara itu. Bagaimana persoalan kesejahteraan? Gaji kecil dengan ritme kerja 'menggila'.
Babak yang diceritakan Sas pun membuat pembaca penasaran. Sampai pada akhirnya dia ada 1 hal yang begitu menggugah pembaca non jurnalis dalam memandang sebuah profesi.
Permasalahan uang suap atau amplop menjadi problem klasik di kalangan jurnalis. Bahkan salah satu organisasi profesi jurnalis, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mantab bersikap jurnalis tidak boleh menerima imbalan apapun dari narasumber. Haram hukumnya!
Namun bentuk 'amplop' masa kini bukan hanya uang bukan? Bisa pemberian jabatan sampai fasilitas khusus, hingga jurnalis merasa perlu memberitakan satu hal.
GYT adalah novel perdana Sas, dia menerbitkan novelnya sendiri. Mencetak dan mempromosikannya sendiri. Sosoknya kuat diturunkan ke Gayatri, yang suka membaca dari kecil. Bedanya, profesi jurnalis bukan awal kariernya.
Pesan novel itu lewat sasmitomadrim@gmail.com.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
AI Digadang-gadang Mampu Kurangi Emisi Karbon, Benarkah?
-
Stop Stigma Anti-Negara! Kritik Bukan Ancaman, Semua Presiden Wajib Tunduk pada Konstitusi!
-
Benarkah Demo Mahasiswa Ditunggangi? Ini Alasan Mengapa PDIP Dicurigai
-
Wamensos Apresiasi Dukungan ESQ Group untuk Pendidikan dan Karier Siswa Sekolah Rakyat
-
Sekolah Rakyat Ubah Jalan Hidup Aldo, Mantan Tukang Las Kini Punya Impian ke Negeri Sakura
-
Bupati Kediri Apresiasi Capaian Siswa Sekolah Rakyat dalam Open House 2026
-
Rano Karno Janji Tuntaskan Banjir Abadi Joglo: Jalan Ambles Aja Kita Perbaiki
-
Washington D.C. Kalah, Jakarta Masuk Peringkat 53 Kota Terbaik Dunia
-
Gaya Dasco Hadapi Aksi Mahasiswa Dipuji, Peneliti: Dobrak Eksklusivitas Senayan
-
Polisi Tangkap 4 Terduga Pelaku Terkait Tewasnya Dua Pria di Saluran Air Bekasi