Suara.com - Otoritas Panama menyita puluhan arsip digital dalam penggeledahan kantor firma hukum Mossack Fonseca yang berlangsung selama 27 jam. Mosscak Fonseca jadi pusat perhatian dunia setelah jutaan dokumen yang dikenal dengan sebutan "Panama Papers" bocor ke publik.
Otoritas pemerintah, dalam hal ini Kejaksaan Agung Panama, mengakui bahwa penggeledahan dilakukan untuk mencari bukti kemungkinan adanya aktivitas ilegal yang dilakukan Mossack Fonseca. Kendati demikian, pihak berwenang tidak melakukan penangkapan sama sekali.
"Panama Papers", dokumen yang menyeret nama-nama kepala negara, mantan kepala negara, politisi, hingga pengusaha menghebohkan publik sejak pekan lalu. Atas bantuan Mossack Fonseca, sebagian nama tersebut dituding menyembunyikan harta kekayaannya di luar negeri demi menghindari pajak.
Jaksa Agung Panama Javier Caraballo, yang memimpin penggeledahan, mengatakan bahwa saat ini pihak berwajib telah memiliki akses masuk ke 100 "server virtual" dan server fisik yang berisi catatan perusahaan Mossack Fonseca. Caraballo mengakui, pihaknya tengah menganalisa catatan-catatan tersebut.
"Kami belum memerintahkan untuk membekukan akun-akun tersebut saat ini," kata Caraballo.
"Saat ini, kami belum memiliki bukti meyakinkan yang bisa dijadikan dasar membuat keputusan," lanjutnya.
Mossack Fonseca, yang memiliki spesialisasi mendirikan perusahaan offshore di luar negeri bagi para nasabahnya, tidak memberikan komentar.
Sebelumnya, salah satu pendiri Mossack Fonseca, Ramon Fonseca mengatakan bahwa perusahaannya sama sekali tidak melanggar hukum. Ramon juga mengaku tidak menghilangkan barang bukti dan mengklaim bahwa seluruh operasi yang mereka lakukan legal.
Pemerintah negara-negara di seluruh dunia mulai melakukan penyelidikan atas kemungkinan pelanggaran yang dilakukan para pejabat dan pengusahanya yang masuk dalam "Panama Papers". Kebocoran dokumen ini bahkan telah 'menelan korban', yakni Perdana Menteri Islandia Sigmundur Gunnlaugsson yang sudah mengundurkan diri setelah mendapat desakan dari rakyat karena kedapatan menggunakan jasa Mossack untuk membuat perusahaan offshore. (Reuters)
Terpopuler
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- 7 Lukisan Pembawa Hoki Menurut Feng Shui untuk Dipajang di Ruang Tamu
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 12 Sepeda Gunung United Detroit Lengkap dengan Harga dan Spesifikasinya
- 5 Rekomendasi Rice Cooker Digital, Nasi Tetap Pulen hingga 48 Jam
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Jatuh dari Tongkang di Sungai Baung OKI, Dua Korban Ditemukan Meninggal
-
Karhutla Dekati Runway Bandara Atung Bungsu, Penerbangan Pagar Alam Masih Normal?
-
Baru 2 Hari Direhab, Anak Mantan DPRD Muratara Kabur Usai Dobrak Pintu Yayasan
-
Program Cetak Sawah Berhadapan dengan Karhutla, Api Membakar Lahan di Muara Enim
-
Kebakaran Bromo Meluas hingga 520 Hektare, Destinasi Wisata Probolinggo Disebut Masih Aman
-
Pernah Jadi Anak Buah Nadiem, Pakar Minta Kejagung Ganti Jaksa Chatarina di Kasus Eks Jampidsus
-
Puluhan Kios di Bawah Jembatan Babat Terbakar, Polisi Selidiki Dugaan Pembakaran Sampah
-
30 Ribu Kopdes Merah Putih Dikebut Sebelum 17 Agustus, Siapa yang Akan Mengelola?
-
Bangga! Prestasi Apik Ditorehkan Kevin Diks di Awal Musim Bundesliga 2026/2027
-
Prabowo Puji Sepatu Inovasi BRIN Berbahan Limbah Sawit, Harganya Cuma 60 Ribuan!