Suara.com - Danau Turkana di Kenya yang dikenal sebagai tempat lahirnya umat manusia kini airnya telah menyusut dari beberapa milenium terakhir.
Penelitian geologi terbaru dari laporan New Scientist mengungkapkan bahwa perubahan volume air pada danau-danau besar dapat memengaruhi stabilitas kerak bumi di bawahnya.
Di Danau Turkana, penurunan permukaan air tadi berkorelasi dengan peningkatan aktivitas gempa bumi dan letusan gunung berapi.
Mekanisme Tekanan Hidrostatis pada Patahan
Danau Turkana terletak di Great Rift Valley, tempat di mana lempeng benua aktif perlahan-lahan bergerak memisahkan diri, terbelah, dan menyebar. Danau ini adalah danau gurun permanen terbesar di dunia, berisi air asin kehijauan yang dikelilingi semak berpasir dan batuan berangin.
Berdasarkan penelitian yang dipimpin oleh Christopher Scholz dari Syracuse University, volume air danau berfungsi sebagai beban yang memberikan tekanan pada dasar danau. Secara teknis, massa air yang besar memberikan tekanan yang membantu mengunci zona patahan di bawahnya. Sekitar 4.000 hingga 6.000 tahun yang lalu, ketika permukaan air turun hingga 100 sampai 150 meter akibat iklim yang lebih kering, beban tersebut berkurang.
Untuk menentukan dampak perubahan iklim ini, Scholz dan rekan-rekannya mengidentifikasi lapisan sedimen tertentu yang sesuai dengan periode waktu yang berbeda dalam inti sedimen yang sebelumnya telah diambil dari dasar danau.
Temuan dan Dampak di Wilayah Hunian Purba
Tim peneliti menggunakan metode pencitraan sonar untuk memeriksa 27 patahan di dasar danau. Mereka menganalisis lapisan sedimen dari berbagai periode waktu untuk mengukur pergeseran vertikal pada sisi-sisi patahan.
Baca Juga: BMKG Catat 93 Aktivitas Gempa Susulan di Sulut-Malut, Skala M 2,8 hingga 5,8
Data menunjukkan bahwa ketika iklim mengering, laju pergeseran patahan meningkat dengan rata-rata 0,17 milimeter per tahun. Selain aktivitas tektonik, pemodelan komputer juga menunjukkan bahwa pengurangan massa air memungkinkan magma untuk naik melalui kerak bumi. Fenomena ini dianalogikan oleh Ken Macdonald dari Universitas California sebagai proses pengurangan tekanan yang memicu kenaikan magma.
“Ini hampir seperti melonggarkan sumbat botol sampanye,” katanya. “Saat Anda mengurangi tekanan itu, magma lebih mungkin naik ke kerak bumi dan meletus.”
Danau Turkana memiliki nilai arkeologisnya tersendiri. Danau ini menjadi lokasi penemuan fosil dari setidaknya enam spesies hominin yang berusia hingga 4,2 juta tahun. Data penelitian menunjukkan bahwa nenek moyang manusia yang mendiami wilayah ini tidak hanya menghadapi tantangan perubahan iklim yang terus mengering, tetapi juga harus beradaptasi dengan lingkungan yang sering kali tidak stabil akibat peningkatan aktivitas seismik.
Implikasi pada Pengelolaan Air dan Bendungan
Meskipun saat ini curah hujan mulai meningkatkan kembali permukaan air di Danau Turkana, para ahli menekankan bahwa agar tekanan air tersebut dapat secara signifikan menekan kembali aktivitas vulkanik dan gempa bumi, maka diperlukan ribuan tahun untuk menunggunya.
“Mereka seharusnya memasang (seismometer) sebelum melakukan perubahan besar apa pun,” kata Macdonald.
Para penulis studi menyarankan agar penilaian bahaya seismik di masa depan juga mempertimbangkan variabel perubahan permukaan air. Sementara pemerintah juga harus memperhitungkan risiko gempa bumi sebelum membangun dan membongkar bendungan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Batas Penghasilan MBR Rp8 Juta Tak Cukup, Pemerintah Harus Tekan Biaya Hidup
-
Ucapan 'Adikku Sayang' Berujung Penganiayaan Caddy Golf, Pelaku Dibekuk di Lampung
-
Open House Sekolah Rakyat Surabaya, Orang Tua Terharu Lihat Perkembangan Siswa
-
1 Tahun Sekolah Rakyat, Wamensos: Alhamdulillah Cukup Berhasil
-
Bukan Sekadar Kunjungan Biasa, Jokowi Ungkap Alasan Hadiri Rakorda PSI di Lampung
-
Penandaan APBD 2027: Langkah Strategis Kemendagri Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
-
Mendagri: Parade Tenun Belu Jaga Warisan Budaya dan Gerakkan Ekonomi Daerah
-
Dampak Mengerikan Gempa Venezuela, Korban Tewas Bertambah Jadi 589 Orang
-
Bocoran Jokowi untuk Pemilu 2029: Ungkap Alasan PSI Layak Lolos ke Parlemen
-
Dittipideksus Bareskrim dan Kortastipidkor Sinkronkan Penyidikan Kasus PT TSL