Wakil Ketua KPK, Laode M Syarif. [suara.com/Oke Atmaja]
Panitia Penyelenggara atau Steering Committe (SC) Musyawarah Nasional Luar Biasa Partai Golkar telah menentukan uang iuran sebesar Rp1 miliar bagi tiap Calon Ketua Umum yang akan maju dalam bursa Pencalonan Ketua Umum Golkar pada bulan Mei 2016 di Bali. Untuk memastikan angka yang besar tersebut tidak disalahgunakan, pihak panitia penyelenggarapun akan berkonsultasi dengan KPK.
Namun, sebelum hal tersebut disampaikan oleh pihak Partai Golkar, pihak KPK langsung angkat bicara. Menyikapi hal itu, ternyata Pimpinan KPK pun berbeda pandangan. Wakil Ketua KPK, Laode M Syarif mengatakan bahwa syarat sumbangan Rp1 Miliar yang harus disetorkan dari tiap Caketum merupakan bukti politik uang yang nyata dalam partai politik. Dia merasa aneh mengapa dalam kompetisi untuk memperebutkan kursi nomor satu di parpol harus ada sumbangan.
"Itu politik uang yang nyata. Mana ada di dunia kalau mau jadi ketua partai harus nyumbang Rp1 miliar," kata Syarif saat dikonfirmasi wartawan, Rabu(4/5/2016).
Berbeda dengan Laode, sebelumnya Wakil Ketua KPK Saut Situmorang merasa sumbangan Rp1 Miliar yang diwajibkan kepada tiap caketum merupakan suatu inovasi kreatif dan terbuka. Adanya iuran diharapkan akan membangun nilai gotong royong dalam pelaksanaan Munaslub nantinya.
Ditegaskan kembali apakah iuran Rp1 miliar tersebut bagian money politik yang dilakukan Partai Golkar, Saut mengatakan ada beberapa hal yang perlu dicermati.
Menurutnya, iuran dari caketum itu bisa sangat dibutuhkan bagi keperluan operasional jalannya munaslub. Dana itu dapat digunakan untuk beberapa hal seperti menyewa sound system, makan siang, tiket anggota, penginapan, cetak materi dan lain-lain. Hal itu yang ia maksud sebagai gotong royong. Termasuk mendidik kader dibawah untuk melakukan hal yang sama.
"Tapi kalau ngumpul uang itu jadi bagian membeli suara dengan penggiringan dimana nilai nilai demokrasi jadi tidak bebas, tidak jujur, tidak adil, itu namanya tranksaksional,"kata Saut saat dikonfirmasi.
Kendati demikian, menurut mantan Staf Ahli Kepala BIN tersebut patut ditelusuri mengenai sumber dana dari tiap caketum. Termasuk tidak diperbolehkannya sumber dana dari hasil korupsi.
"Kalau dana itu berasal dari sumber sumber memiliki unsur korupsi, itu lain hal. Jelas politik itu cost, yang tidak direkomendasi," kata Saut.
Dia juga berharap para caketum tidak mengintervensi peserta pemilih. Adanya dana tersebut, panitia penyelenggara pun harus mendorong kebebasan bagi peserta untuk bebas memilih sipapun kandidat.
"Jadi peserta munas yang diberi tiket ,namun turut mendorong kebebasan dengan membiarkan setiap kandidat ketua bebas mengemukakan program dan pemilik suara memilih dengan bebas , itu bukan money politik," kata Saut.
Oleh karena itu, menurutnya, sulit mengelola organisasi tanpa dana yang cukup. Sehingga dengan adanya iuran diharapkan tidak ada lagi caketum yang melakukan tindakan yang menyimpang di luar iuran tersebut.
"Dengan iuran masing masing kandidat itu secara terbuka bisa diaudit dan semua kandidat memiliki modal yang sama. Harapanya tidak ada main mata lagi diluar iuran agar fair. Main mata diluar iuran itu mungkin yang lebih sesuai disebut money politik,"kata Saut.
Komentar
Berita Terkait
-
Ditjen Bina Pemdes 'Todong' Pemkab Muna Segera Tata Ratusan Posyandu, Ada Apa?
-
Ada Info soal Jual Beli Titik SPPG, KSP Bakal Lakukan Sidak Cegah Potensi Korupsi di Program MBG
-
Soal Calon Pimpinan KPK: MK Putuskan Tak Perlu Mundur dari Jabatan
-
La Ode Ahmad: Koperasi Merah Putih Harus Jadi Pusat Ekonomi Desa, Bukan Cuma Proyek Fisik
-
Saut Situmorang: OTT Bea Cukai Tak Mengejutkan, Tanpa Reformasi Sistem Hasilnya Akan Stagnan
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Apa Tema Hari Pramuka 2026? Ini Makna dan Filosofi Logo Resminya
-
Unisa Yogyakarta Perkuat Riset Lewat Laboratorium Animal House, Dukung Pengembangan Kandidat Obat
-
Purbaya Mau Tarik Uang Investor Global dari Dubai ke Indonesia lewat PFII
-
Kekeringan Melanda Boyolali, Warga Rela Cari Air di Dasar Sungai
-
Fenomena 'Makan Tabungan', Potret Rapuhnya Ketahanan Kelas Menengah
-
Siapa Lawan Timnas Indonesia Jika Lolos ke Semifinal Piala AFF 2026? Ini Skenarionya
-
6 Sepeda Thrill Paling Murah Terbaik untuk Jalan Perkotaan hingga Jalur Pegunungan
-
Menakar Skenario Gila: Bisakah WNI Tiru Warga Maroko yang Kabur Lewat Laut?
-
Luis Figo Desak Gianni Infantino Mundur, Wacana Jual Saham Piala Dunia Picu Kontroversi
-
Pemberantasan Tramadol Ilegal, Dedi Mulyadi Minta Aparat dan Warga Bergerak Bersama