Suara.com - Amnesty International mengecam penangkapan ribuan aktivis politik pro-kemerdekaan Papua oleh kepolisian pada awal Mei. Jakarta dinilai diskriminatif karena merepresi para aktivis yang menggelar unjuk rasa damai, tetapi membiarkan kelompok separatis lain yang menggunakan cara kekerasan.
Dalam pernyataan resminya yang diterima di Jakarta, Rabu (4/5/2016), organisasi hak asasi manusia yang bermarkas di London, Inggris itu mengatakan bahwa sudah ribuan aktivis politik Papua ditangkap di Indonesia sejak akhir April lalu.
Pada 29 April dan 1 Mei sebanyak 50 aktivis Papua ditangkap di Jayapura, Wamena, dan Merauke. Para aktivis ditangkap karena membagikan selebaran berisi ajakan untuk berdemonstrasi mendukung United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), sebuah kelompok pendukung kemerdekaan Papua.
Sementara pada 2 Mei ada sekitar 1.700 orang ditangkap karena berpartisipasi dalam unjuk rasa damai di Jayapura, Merauke, Fakfak, Sorong, Wamena, Semarang, dan Makassar.
"Meski hampir semua dari mereka yang ditangkap telah dibebaskan tanpa dakwaan setelah satu hari, penangkapan semena-mena ini menampilkan lingkungan represif yang terus dihadapi oleh para aktivis politik di Papua," tulis Amnesty.
Amnesty mengatakan penangkapan semena-mena yang meluas di Papua menunjukkan kegagalan Pemerintah Indonesia membuat pembedaan antara para aktivis yang mendukung kemerdekaan Papua lewat aksi damai, dengan mereka yang terkait kelompok-kelompok bersenjata pro-kemerdekaan yang mengejar cita-cita lewat penggunaan atau ancaman kekerasan.
"Amnesty International mengakui Pemerintah Indonesia perlu menjaga keamanan publik di wilayahnya, tetapi juga harus menghormati kebebasan berekspresi dan berkumpul secara damai, sesuai dengan kewajiban Indonesia di bawah hukum HAM internasional, termasuk Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik (ICCPR)," tegas Amnesty.
ULMWP kini tengah berupaya agar diterima menjadi anggota Melanesian Spearhead Group (MSG), sebuah organisasi negara-negara Melanesia seperti Fiji, Papua Nugini, Kepulauan Salomon, dan Vanuatu. Pada Juni 2015, Indonesia diterima sebagai associate member dan ULMWP menjadi anggota pengamat (observer) MSG.
"Amnesty prihatin akan ada penangkapan lebih lanjut terhadap para pengunjuk rasa damai dalam beberapa minggu ke depan menjelang pertemuan puncak MSG yang secara tentatif dijadwalkan antara akhir Mei dan awal Juni, yang akan membahas permohonan ULMWP untuk menjadi anggota penuh MSG," tutup organisasi tersebut.
Berita Terkait
-
Wamendagri Wiyagus Apresiasi Pengobatan Gratis dan Donor Darah oleh Pemprov Papua
-
Kunjungan Gibran ke Asmat, Pantau Museum hingga Pembangunan Gereja
-
Wamendagri Ribka Tegaskan Hilirisasi Kakao Bukti Nyata Keberhasilan Dana Otsus Papua
-
Dinilai Langkah Berani! Gibran Ajak Mahasiswa Ikut Kunker ke Papua demi Buka Ruang Dialog?
-
Gibran Rakabuming Gandeng Mahasiswa Pantau Langsung Tata Kelola MBG di Indonesia Timur
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
Terkini
-
Antrean 1.000 Pencari Kerja di Malaysia Jadi Alarm, Indonesia Terancam Hadapi Situasi Serupa!
-
Revisi Aturan Outsourcing, Wamenaker Jamin Tak Ganggu Iklim Investasi
-
Mahasiswa Kembali Geruduk DPR, Tuntut Evaluasi Total Kabinet Merah Putih
-
Bantah Ada Operasi Politik Tekan PDIP, PKB: Kami Bukan Koordinator Koalisi!
-
Dari Ulat di Sayuran hingga Korupsi, Warga Ini Tetap Kukuh MBG Harus Jalan
-
Respons PDIP, Waketum PKB Tegaskan Istilah Partai Penyeimbang Tak Dikenal Dalam Konstitusi
-
Sekelompok Warga Jakarta Gelar Aksi Dukung MBG: Program Harus Lanjut, Koruptor Wajib Ditangkap
-
Dunia Pelototi Kasus Pembunuhan Jurnalis Rico Pasaribu: Investigasi Bongkar Kejanggalan Serius
-
DPRD DKI Gelar Rapat Paripurna HUT ke-499 Kota Jakarta
-
Polemik Ijazah Jokowi Dinilai Memperkeruh Situasi Nasional, Komunikasi Presiden Ikut Tersorot