Suara.com - Pengamat hukum internasional dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Dr Dhey Wego Tadeus mendukung empat kesepatan yang dihasilkan dari pertemuan trilateral antara Menlu dan Panglima TNI, Malaysia dan Filipina pada Kamis (5/5/2016) di Yogyakarta.
"Meskipun deklarasi empat pokok pembahasan yang disepakati Indonesia, Filipina, dan Malaysia masih abstrak karena baru akan diatur lebih lanjut, namun untuk saat ini kesepakatan yang intinya akan melakukan patroli laut secara terkoordinasi untuk bersama-sama menjaga keamanan kawasan perlu didukung," katanya di Kupang, Jumat (6/5/2016).
Dosen hukum internasional pada Fakultas Hukum Undana Kupang ini mengatakan hal tersebut menanggapi pertemuan trilateral yang dilaksanakan di Yogyakarta, Kamis (5/5/2016), dan menghasilkan empat pokok pembahasan yang disepakati Indonesia, Filipina, dan Malaysia.
Dalam pertemuan itu juga disepakati bahwa semua negara yang berpartisipasi dalam pertemuan itu sepakat untuk memberikan bantuan ketika melihat kapal dalam keadaan terancam atau memerlukan pertolongan.
Selanjutnya, saling bertukar informasi menjadi kesepahaman bersama yang nantinya akan diberikan kepada para intelijen negara guna menanggapi situasi darurat lalu segera merancang saluran komunikasi khusus yang ditujukan untuk mempercepat komunikasi saat ada kondisi yang mengancam.
Menurut Dhey Wego Tadeus empat kesepakatan itu tidak secara jelas menyentil empat WNI yang tengah dalam penyanderaan pihak kelompok Abu Sayyaf kapan dan seperti apa lagi mereka harus melepaskan para sandera.
Karena sesungguhnya pertemua trilateral itu dilakukan menyusul adanya sandera 14 WNI dimana 10 orang telah dibebaskan dan masih tertinggal empat orang lagi yang tengah dalam genggaman kelompok Abu Sayyaf.
Menurut Tadeus, dalam waktu pendek ini harus disepakati juga upaya pembebasan empat WNI itu sementara deklarassi empat kesepakatan di Gedung Agung Yogyakarta, Kamis, untuk jangka menengah dan panjang.
"Jadi empat deklarasi dari pertemuan trilateral itu lebh cenderung mencegah dan mengatasi kejahatan dari kelompok teroris terhadap aktivitas di perairan tiga negara khusunya dan umumnya di kawasan ASEAN," katanya.
Tetapi untuk jangka pendek mestinya pertemuan trilateral itu secara tegas menyepakati upaya pembebasan terhadap empat WNI itu karena Kepala Badan Intelijen Negara Sutiyoso sendiri mengatakan pihak penyandera empat Warga Negara Indonesia anak buah kapal Tugboat Henry belum menghubungi pemerintah Indonesia.
Indonesia akan menentukan upaya pembebasan setelah ada informasi lengkap mengenai keadaan WNI dan penyandera "Saat ini kami baru sebatass membuka "crisis center" masalah penyanderaan yang berada di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, menjadi pusat informasi mengenai isu terkait.
Menurut Tadeus, situasi dan kondisi saat ini terkait penyendaraan yang dilakukan kelompok Abu Sayyaf dalam keadaan darurat dan perlu segera dilakukan pembebasan, tetapi gaya diplomasi versi Indonesia masih seperti itu.
Pemerintah menggunakan upaya diplomasi total untuk membebaskan sepuluh sandera yang saat ini sudah kembali ke kediaman masing-masing. (Antara)
Berita Terkait
-
Mengintip Kehidupan Dua Negara dari Wisata Patok Perbatasan Sebatik
-
Penantian 18 Tahun Terbayar, 5 Ribu Penggemar 'Karaoke Massal' di Konser Peterpan Malaysia
-
John Herdman Ingin Timnas Indonesia Hadapi Malaysia di AFF 2026, Kenapa?
-
Review Boboiboy Movie 2: Definisi Masterpiece Animasi yang Melampaui Ekspektasi!
-
Kmy Kmo dan Luca Sickta Gandeng Niken Salindry di Lagu 'Tinggi': Pesan Budaya yang Mendalam
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
- 3 HP Murah dengan Kamera Underwater Rp2 Jutaan, Cocok Buat Foto dan Video dalam Air
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Media Italia Bongkar Ada Kontrak Lebih dari Rp25 T di Balik Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi
-
Prabowo Masih Menimbang-nimbang Siapa Jampidsus Baru Pengganti Febrie Adriansyah
-
Didukung Bebi Romeo dan Once Mekel, Janner Clay Siahaan Rilis 6 Karya Sekaligus
-
DBL Indonesia Buka Musim Baru dengan Gebrakan Besar, 31 Kota Jadi Rumah bagi Para Pengejar Mimpi
-
Hasto Kritik TNI-Polri Ikut Awasi Pajak: Penyalahgunaan Kekuasaan
-
3 Lipstik Inez yang Halal dan Tahan Lama, Warnanya Intens dan Tak Bikin Bibir Kusam
-
Fenomena Gaji Numpang Lewat: Gaya Hidup dan Tekanan Sosial yang Bikin Boros
-
Spesifikasi Kapal Induk Tua Italia ITS Giuseppe Garibaldi: Dipensiunkan Sejak 1971
-
Densus 88 Tangkap Teroris di Ciamis dan Lampung, Bongkar Propaganda Medsos
-
Marko Simic Ternyata Punya Peran Besar di Balik Kedatangan 2 Pemain Asing Persija