Suara.com - Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan menyerahkan data berisi dugaan adanya yayasan di luar negeri yang mendanai terorisme di Indonesia kepada Mabes Polri. Detasemen Khusus 88 Antiteror akan menindaklanjuti data tersebut.
"Kami mendalami berkaitan aktivitas apa. Kan informasinya sudah ada. Nanti tinggal kerjasama dengan PPATK dan asal uang-uang itu dikirim," kata Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Boy Rafli di Mabes Polri, Jakarta Selatan, hari ini.
Boy masih merahasiakan yayasan mana saja yang diberikan label Foreign Terrorist Figthers oleh PPATK.
"Tentu tidak bisa diungkapkan dulu. Nanti aliran dana ini menjadi informasi penting untuk dilakukan langkah-langkah pendalaman terhadap informasi itu," katanya.
Boy menambahkan aliran dana mencurigakan banyak mengalir dari Australia, Turki, dan beberapa negara di Asia.
Kepolisian Indonesia akan bekerjasama dengan kepolisian negara tersebut untuk mengungkapnya.
"Datanya, kan baru sebatas data. Perlu ditindaklanjuti dengan proses pengumpulan fakta-fakta yang lebih detail lagi," ujarnya.
Aliran dana tidak hanya menggunakan jalur bank, kurir juga bisa dimanfaatkan.
"Kalau melalui jalur yang sifatnya konvensional melalui kurir dan sebagainya, nanti harus dilengkapi dan cross check. Kepada siapa melalui siapa, kapan, apakah ada alat bukti lain yang mendukung aliran dana. Pokoknya pasti ditelusuri. Cuma belum bisa diceritakan," kata Boy.
Polisi dan PPATK akan bekerjsama untuk mengungkap jaringan ini.
"Itu juga nantinya akan dilakukan kerjasama dengan PPATK aliran-aliran yang mencurigakan itu. Berkaitan dengan support atau bersumber dari organisasi yang memiliki network pada kelompok terorisme di Indonesia," kata dia. [Erlangga Bregas Prakoso]
Berita Terkait
-
Pendiri Telegram Pavel Durov Masuk Daftar Buronan Terorisme Rusia
-
Densus 88 Tangkap Teroris di Ciamis dan Lampung, Bongkar Propaganda Medsos
-
'Kutuk Aksi 'Boti Hunter', Negara Didesak Lindungi Martabat dan Hak Aman Komunitas Trans
-
Geger Eks Napiter Ledakkan Lapak di Tasik, Pengamat Bongkar Celah Pengawasan yang Bolong
-
Mendagri Dorong Penguatan Penggunaan Soft Approach dalam Mencegah Ekstremisme & Terorisme
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- KPAI Desak Audit Total MBG: Tata Kelola Gagal, Anak-anak Jadi Korban Ambisi Program
- Ramalan Shio 9 Agustus 2026: 5 Shio Bakal Buang Kesialan dan Buka Jalan Keberuntungan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Dedi Mulyadi Ancam Tahan Bantuan Desa, Ini Penyebabnya!
-
Viral Pungli Wisata Air Panas Karo Berujung Blokade Jalan, 3 Orang Ditangkap
-
KPK Tahan 4 Tersangka Korupsi Dana Iklan Bank BJB, Kerugian Negara Rp223,6 Miliar
-
Mengenal Spesifikasi Isuzu New mu-X SUV Tangguh yang Siap Melibas Berbagai Medan
-
Bukan Cuma Gizi, Ini 4 Fondasi Utama Tumbuh Kembang Anak di 1.000 Hari Pertama
-
Olahraga Jadi Cara Pelaku Industri Panas Bumi Bangun Koneksi
-
Jaga Pasokan Energi Subsidi, Pengurus Hiswana Migas DPC Bogor Temui Ketua DPRD Kota Bogor
-
Pemadaman Kebakaran Hutan di Palangka Raya Terkendala Minimnya Sumber Air
-
Satelit AI Lampung-1 Meluncur dari China, Canggih Tapi Berisiko Data Leak?
-
336 Ribu Berebut 5.500 Kuota HUT RI di Istana, Warga yang Belum Pernah Hadir Diprioritaskan