Suara.com - Situasi politik nasional memanas setelah demonstrasi 4 November 2016, terutama setelah muncul isu penggulingan terhadap pemerintahan yang sah.
Semenjak itu, Presiden Joko Widodo konsolidasi dengan kalangan ulama, militer, dan para ketua partai.
Pertama-tama, Jokowi makan siang, lalu naik kuda bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di rumah Prabowo, Hambalang, Bogor, Jawa Barat. Prabowo merupakan rival di pemilihan presiden 2014. Pertemuan mereka berlanjut di Istana beberapa pekan kemudian.
Jokowi juga bertemu Ketua Umum Partai Nasional Demokrat Surya Paloh, Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto, Ketua Umum PAN Rohamurmuziy, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Bahkan, Megawati yang merupakan ketua partai pendukung Jokowi ikut turun gunung menemui para ketua partai pendukung pemerintah untuk membantu meredam suhu politik yang panas.
Namun yang menjadi pertanyaan publik, kenapa Jokowi tak menemui Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Yudhoyono merupakan mantan Presiden dua periode berturut-turut.
Menurut pengamat politik dari lembaga Lingkar Madani, Ray Rangkuti, saat ini Jokowi sedang berada pada posisi memilih antara merangkul poros Yudhoyono atau poros Prabowo.
Sebab, kata Ray, Jokowi tidak mungkin bisa menyatukan dua kekuatan politik tersebut karena pengaruh sejarah politik Yudhoyono dan Prabowo.
"Anda bisa bayangkan, kalau kita tanya kembali riwayat pertemuan antara Prabowo dengan SBY, itu adalah riwayat politik yang tidak akur. Sejak mereka di TNI. Kemudian 2004 mereka bersaing. 2009 juga bersaing waktu itu Bapak Prabowo pasangan dengan Ibu Mega," kata Ray dalam diskusi politik dengan tema Peta Politik Paska 4/11: Mempertanyakan Loyalitas Partai-Partai Pendukung Jokowi di kantor PARA Syndicate, Jalan Wijaya Timur, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (25/11/2016).
Selain itu, kata Ray, di pilkada Jakarta periode 2017-2022, kedua tokoh itu lagi-lagi berbeda kepentingan politik. Yudhoyono mengsung putra sulungnya, Agus Harimurti Yudhoyono, menjadi calon gubernur berpasangan dengan Sylviana Murni, sementara Prabowo dan PKS mengusung Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.
"2014 tentu keduanya tidak ada persaingan. Tapi mereka ada persaingan di pilkada DKI Jakarta. Itu juga bisa kita pahami kenapa kemudian gerbong non Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) itu tidak bisa satu kelompok, karena ada aktornya. salah satunya adalah Partai Demokrat dalam hal ini Pak SBY, yang kalau kita baca lagi-lagi sejarahnya hampir sulit kelihatan mereka bertemu, antara Pak Prabowo dan Pak SBY," ujar Ray.
Ray mengatakan faktor sejarah itulah yang kemudian membuat Jokowi memilih mendekati salah satu tokoh yaitu Prabowo.
Menurut Ray, Jokowi telah berhitung kedua tokoh itu tidak akan pernah kompak.
"Sebetulnya yang sulit ketemu itu bukan Pak SBY dengan Pak Jokowi, tapi yang sulit itu adalah mempertemukan Pak Prabowo dengan Pak SBY dalam satu ruangan. Itu pilihan pertamanya. Oleh karena itu Pak Jokowi lebih memilih Pak Prabowo," tutur Ray.
Namun, menurut Ray, faktor itu bukan satu-satunya penyebab Jokowi tidak mau bertemu dengan Yudhoyono.
"Tapi bukan karena itu alasan tunggalnya, bukan karena sulit mempertemukan dua mantan Jenderal ini di dalam satu meja. Tapi tentu ada juga kecenderungan politik Pak Jokowi memilih bertemu Prabowo," kata Ray.
Berita Terkait
-
Prabowo dan Luhut Bahas Ketahanan Ekonomi, GovTech Dipercepat agar Bansos Lebih Tepat Sasaran
-
Prabowo Hanya Mengangguk Dapat Laporan Biaya Haji 2027 Diusulkan Naik
-
Analis Sebut Prabowo Alami Miopi Politik: Hanya Tahu yang Baik-baik Saja
-
Hanya Jawab Singkat, Begini Respons Kapolri Usai Dikritik Mahfud MD Soal Kasus Febrie
-
JCW Cium Aroma 'Barter Kasus' di Balik Penghentian Pendataan SPPG Bermasalah oleh Kejaksaan
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
Terkini
-
Bukan Buang Duit, Ini Alasan Sewa Mobil Dinas Tangsel Lebih Hemat Ketimbang Beli
-
Kapolri Temui Jaksa Agung dan Panglima TNI, Redam Friksi Kasus Febrie Adriansyah
-
Terungkap! Motif Siswa Padang Ledakkan Bom, Dendam Dibully Sejak SD
-
Adian Napitupulu Terima Buku Anotasi KUHAP, Ini Fungsinya
-
Tragedi di Balik Tembok Pesantren: Mengurai Kasus Santri Dibakar di Lombok
-
Bupati Mojokerto Berangkatkan 30 Siswa Sekolah Rakyat ke Kediri untuk Tahun Ajaran 2026/2027
-
Rugikan Masyarakat, Gubsu Bobby Minta Pertamina Bereskan Persoalan Distribusi BBM Dalam Dua Hari
-
Menhut Raja Juli Soal Inpres Gajah: 9 Menteri Wajib Jaga Habitat Nona Seroja dan Bang Domang
-
Legislator PDIP Tegaskan RUU Perampasan Aset Jalan Terus: Kita Geber Sampai Sah!
-
Teror Bom di SD Srengseng, Wakil Ketua Komisi X Desak Polisi Usut Tuntas