Suara.com - Komisi Pemberantasan Korupsi menemukan uang belasan ribu dollar Singapura di kantor pengusaha impor daging Basuki Hariman di Sunter, Jakarta Utara, dalam penggeledahan yang dilakukan Jumat (27/1/2017). Uang tersebut diduga berkaitan dengan perkara yang menjerat Basuki dan hakim Mahkamah Konstitusi nonaktif Patrialis Akbar.
"Selain stempel dan cap disita, kita temukan brankas dilakukan penyitaan isinya baru saja dibuka setelah ditemukan yang 11.300 dollar Singapura. Uang ini diduga terkait dengan perkara sedang disidik KPK saat ini," kata juru bicara KPK Febri Diansyah di gedung KPK, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa (31/1/2017).
Febri belum dapat mengetahui apakah uang tersebut termasuk dalam komitmen fee untuk Patrialis dan Kamaludin atau tidak. Namun, ada indikasi uang tersebut berkaitan dengan perkara.
"Uang tersebut terkait dalam hal apa, belum bisa sebutkan secara rinci, tetapi itu susah kita sita sebagai bentuk publik informasi itu brankas uang. Karena itu indikasikan terkait perkara ini, dilakukan penyitaan," katanya.
Ketika ditanya apakah dalam dokumen keuangan perusahaan Basuki tercatat pengeluaran khusus untuk perkara, Febri belum bisa berkomentar.
Dia hanya mengatakan bahwa dokumen dan uang yang ditemukan terindikasi saling melengkapi.
"Penyitaan terhadap dokumen sudah disampaikan, tidak bisa rinci tetapi dokumen keuangan lebih lengkap dari dokumen keuangan saat kita OTT, tetapi ini keuangan perusahaan nilai berharga di sana. Temukan juga cap dan stempel tulisan ada kementan, kemendag, dan lembaga urus sertifikasi halal distempel cap itu. Masih kita dalami dan di brankas 11.300 dollar Singapura," kata Febri.
Basuki yang kini telah ditetapkan menjadi tersangka menegaskan bahwa tidak pernah menyuap Patrialis -- bekas Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
"Kalau menurut saya Pak Patrialis nggak terlibat dalam hal ini," kata Basuki usai diperiksa, Jumat (27/1/2017).
Pengusaha impor daging tersebut menjelaskan bahwa Patrialis hanya mendengarkan penjelasan darinya terkait begitu banyaknya daging dari India yang masuk ke Indonesia.
"Jadi saya jelaskan kepada Pak Patrialis biar beliau mengerti. Begitu dia mengerti, dia coba pelajari. Tetapi saya tidak pernah memberikan uang apa-apa," katanya.
Kemudian dia menjelaskan kemana uang yang dikeluarkan mengalir.
"Itu ada, namanya, Kamal. Dia teman saya dan juga dekat dengan Pak Patrialis, gitu. Saya memberi uang kepada dia (Kamal)," kata Basuki. Kamal yang dia maksud adalah Kamaludin yang juga menjadi tersangka dalam kasus ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
Terkini
-
China Wajibkan AI di Sekolah: Semua Siswa Wajib Kuasai Kecerdasan Buatan dalam 5 Tahun
-
Misteri Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi Beijing, Pemerintah Bungkam Sensor Ketat
-
Taruna Akmil akan Dampingi Siswa Sekolah Rakyat Belajar Mandiri di Asrama Selama 5 Hari
-
Tak Lagi 'Macan Ompong', RUU HAM Beri Komnas HAM Kewenangan Penyidikan
-
Menuju Kota Global, Jakarta Kejar Target Bebas Buang Air Sembarangan
-
Jangan Terkecoh! Pendakian Gunung Merapi Masih Ditutup, Abaikan Ajakan di Medsos
-
Jadi Otak Penyekapan, Bos Percetakan di Senen Perintahkan Anak Buah Pasung Kaki Korban
-
Bertemu Dony Oskaria, KPK Minta Pejabat BUMN Bandel Tak Lapor LHKPN Disanksi
-
Gelar Budaya Jokowi Disorot, Dinilai Jadi 'Senjata' Politik Incar Masyarakat Paternalistik
-
Satu Tahun Menuju 5 Abad, Apakah Jakarta Sudah Layak Kota Global?