Tempat pemakaman di daerah Kalibata [suara.com/Agung Sandy Lesmana]
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Jupan Royter menegaskan akan menertibkan semua bentuk atribut yang bernuansa SARA. Hal itu ditegaskan Jupan ketika diminta menanggapi adanya pemasangan spanduk bertuliskan "masjid ini tidak mensholatkan jenazah pendukung dan pembela penista agama" yang dipasang di sejumlah masjid dan spanduk bertuliskan "pemakaman ini ga nerima bangke orang munafik/pendukung dan pembela penista agama" di salah satu pemakaman keluarga di daerah Pulo Kalibata, Jakarta Selatan.
"Itu apapun nggak bisa mas. Kalau kami jujur, itu tetap nggak bisa. Kan nggak bisa dong yang bersifat SARA. Mau di tanah wakaf dan rumah pribadi, nggak dong. Ini kan sudah mempengaruhi masyarakat," kata Jupan kepada Suara.com, Minggu (5/3/2017).
Jupan mengatakan spanduk berisi pesan seperti itu harus ditertibkan karena dapat memunculkan keresahan di tengah masyarakat.
"Itu apapun nggak bisa mas. Kalau kami jujur, itu tetap nggak bisa. Kan nggak bisa dong yang bersifat SARA. Mau di tanah wakaf dan rumah pribadi, nggak dong. Ini kan sudah mempengaruhi masyarakat," kata Jupan kepada Suara.com, Minggu (5/3/2017).
Jupan mengatakan spanduk berisi pesan seperti itu harus ditertibkan karena dapat memunculkan keresahan di tengah masyarakat.
"Itu pemikiran yang salah. Coba di rumah kamu sendiri bisa seenaknya itu menyalakan suara speaker kencang. Tetangga bisa komplain dong. Kita kan bertetangga," kata dia.
Spanduk-spanduk bertuliskan "masjid ini tidak mensholatkan jenazah pendukung dan pembela penista agama" telah ditertibkan Satpol PP.
Sedangkan spanduk bertuliskan "pemakaman ini ga nerima bangke orang munafik/pendukung dan pembela penista agama" yang pasang di pagar pemakaman keluarga di daerah Pulo Kalibata sudah dicopot Ketua RT 7, RW 5, Zulkifli, pada Jumat (3/3/2017).
Warga bernama Syukri (43) mengaku sebagai pemasang spanduk bertuliskan "pemakaman ini ga nerima bangke orang munafik/pendukung dan pembela penista agama."
"Jadi sebenarnya bukan mau saya sendiri, tapi dari pihak keluarga. Dipasangnya saya lupa tanggal berapa. Kalau dicopotnya sih kemarin malam," kata Syukri kepada Suara.com.
Ide membuat spanduk tersebut, kata Syukur, berawal dari maraknya spanduk bertuliskan "masjid ini tidak mensholatkan jenazah pendukung dan pembela penista agama" yang dipasang di sebagian masjid di Jakarta.
"Jadi memang masalah ada spaduk itu. Mungkin pemikirannya dari viral itu, jadi timbul insiatif kami. Ya suda pasang saja," kata dia.
Kini, Syukri tidak mempermasalahkan pencopotan spanduk tersebut.
Dia menjelaskan tujuan memasang spanduk tersebut sebenarnya untuk memberi pesan kepada keluarga besarnya agar jangan membela orang-orang yang telah menistakan agama Islam. Keluarga besar Syukri menetap di pemukiman tersebut sejak lama. Warga yang tinggal di RW 5 sebagian besar masih memiliki ikatan saudara.
"Ya saya juga nggak masalah itu dicopot, yang penting pesannya udah sampai. Saya juga imbau bukan untuk, ini buat keluarga saya aja. Mungkin karena turun temurun, hampir separuh daerah sini masih keluarga," katanya.
Dulu, Syukri mengakui mendapat permintaan dari pengurus rukun warga agar mencopot sendiri spanduk tersebut agar jangan memperkeruh suasana menjelang pilkada Jakarta putaran kedua yang situasinya panas.
"Tapi karena suasananya lagi panas. Diminta ketua RW untuk dicopot. Diminta untuk tidak memperkeruh suasana," kata dia.
Syukri membantah aksinya memiliki kepentingan dengan pilkada Jakarta.
"Jadi sebenarnya bukan mau saya sendiri, tapi dari pihak keluarga. Dipasangnya saya lupa tanggal berapa. Kalau dicopotnya sih kemarin malam," kata Syukri kepada Suara.com.
Ide membuat spanduk tersebut, kata Syukur, berawal dari maraknya spanduk bertuliskan "masjid ini tidak mensholatkan jenazah pendukung dan pembela penista agama" yang dipasang di sebagian masjid di Jakarta.
"Jadi memang masalah ada spaduk itu. Mungkin pemikirannya dari viral itu, jadi timbul insiatif kami. Ya suda pasang saja," kata dia.
Kini, Syukri tidak mempermasalahkan pencopotan spanduk tersebut.
Dia menjelaskan tujuan memasang spanduk tersebut sebenarnya untuk memberi pesan kepada keluarga besarnya agar jangan membela orang-orang yang telah menistakan agama Islam. Keluarga besar Syukri menetap di pemukiman tersebut sejak lama. Warga yang tinggal di RW 5 sebagian besar masih memiliki ikatan saudara.
"Ya saya juga nggak masalah itu dicopot, yang penting pesannya udah sampai. Saya juga imbau bukan untuk, ini buat keluarga saya aja. Mungkin karena turun temurun, hampir separuh daerah sini masih keluarga," katanya.
Dulu, Syukri mengakui mendapat permintaan dari pengurus rukun warga agar mencopot sendiri spanduk tersebut agar jangan memperkeruh suasana menjelang pilkada Jakarta putaran kedua yang situasinya panas.
"Tapi karena suasananya lagi panas. Diminta ketua RW untuk dicopot. Diminta untuk tidak memperkeruh suasana," kata dia.
Syukri membantah aksinya memiliki kepentingan dengan pilkada Jakarta.
Komentar
Berita Terkait
-
Ahok Adu Mulut dengan Pengacara Kasus LNG, Hakim Sampai Harus Turun Tangan
-
Ahok Ngamuk di Sidang Korupsi LNG Pertamina: Saya Paling Benci Korupsi, Akan Saya Sikat!
-
Ahok Jadi Saksi Sidang Kasus Korupsi LNG Pertamina Rp1,7 Triliun, Irit Bicara Saat Tiba di Tipikor
-
Kesaksian Ahok di Kasus Korupsi Pertamina Bikin Geger, Sentil Menteri BUMN
-
Pakar UGM Bongkar Akar Masalah BUMN: Titipan Politik Bikin Rugi dan Rawan Korupsi
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
Terkini
-
Kelakuan Donald Trump Ubah Selat Hormuz Jadi Selat Trump, Harga Minyak Dunia Meledak
-
Nyawa Murah di Balik Tembok Kos: Mengusut Tragedi PRT Loncat dari Lantai 4 di Jakarta
-
Perang Iran Berakhir? USS Gerald Ford Pulang Kandang Setelah 300 Hari di Laut
-
1.793 Personel Dikerahkan Amankan May Day 2026, 200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas
-
Usai Insiden di Rel Bekasi, Korlantas Kumpulkan Pengusaha Taksi Listrik
-
Hilirisasi Tahap II Dimulai, Pengamat INDEF: Peluang Besar Transformasi Industri Berkelanjutan
-
Banding Ditolak Pengadilan, Pelaku Penembakan Masjid Christchurch Tetap Dipenjara Seumur Hidup
-
Tak Terluka, Korban KRL Bekasi Meninggal Diduga Syok di Ambulans: Ini Kesaksian Sang Anak
-
Kronologis Polisi Arab Saudi Tangkap 3 WNI di Makkah karena Penipuan Paket Haji Fiktif
-
Guncang Pasar Energi Dunia, Mengapa UEA Nekat Tinggalkan OPEC Setelah 60 Tahun?