Pasangan Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat menggelar jumpa pers di Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu (4/3) [Suara.com/Ummi Hadyah Saleh].
Pada waktu pembahasan proyek pembuatan kartu tanda penduduk elektronik di Komisi II DPR, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) duduk menjadi salah anggota RI dari Fraksi Golkar (periode 2009-2014).
Ahok tercatat sebagai anggota dewan yang memprotes pembuatan proyek e-KTP.
Cerita tentang Ahok kembali mencuat begitu Pengadilan Tindak Pidana Korupsi akan memulai persidangan dugaan mega korupsi proyek e-KTP, Kamis (9/3/2017).
"Saya paling keras menolak e-KTP, saya bilang pakai saja Bank Pembangunan Daerah semua orang mau bikin KTP pasti ada rekamnya kok. Saya bilang ngapain habisin anggaran Rp5-6 triliun (buat e-KTP)," ujar Ahok yang kini menjadi calon gubernur petahana Jakarta di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (6/3/2017) lalu.
Sikap keras Ahok ketika itu ternyata membuat anggota Komisi II tidak tenang.
Ahok masih ingat dulu rekan separtainya dari Golkar menemui Ahok untuk menyampaikan keluhan dan pesan yang intinya tak menghendaki Ahok di Komisi II.
"Ya dulu saya ditawarin pindah komisi. Saya bilang mau komisi mana ya sama saja," ujar Ahok usai menghadiri acara di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (8/3/2017).
Ahok menegaskan dimanapun dia dipindahkan, akan tetap membuat pimpinan sakit kepala karena tidak bebas berbuat penyimpangna.
Ahok tercatat sebagai anggota dewan yang memprotes pembuatan proyek e-KTP.
Cerita tentang Ahok kembali mencuat begitu Pengadilan Tindak Pidana Korupsi akan memulai persidangan dugaan mega korupsi proyek e-KTP, Kamis (9/3/2017).
"Saya paling keras menolak e-KTP, saya bilang pakai saja Bank Pembangunan Daerah semua orang mau bikin KTP pasti ada rekamnya kok. Saya bilang ngapain habisin anggaran Rp5-6 triliun (buat e-KTP)," ujar Ahok yang kini menjadi calon gubernur petahana Jakarta di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (6/3/2017) lalu.
Sikap keras Ahok ketika itu ternyata membuat anggota Komisi II tidak tenang.
Ahok masih ingat dulu rekan separtainya dari Golkar menemui Ahok untuk menyampaikan keluhan dan pesan yang intinya tak menghendaki Ahok di Komisi II.
"Ya dulu saya ditawarin pindah komisi. Saya bilang mau komisi mana ya sama saja," ujar Ahok usai menghadiri acara di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (8/3/2017).
Ahok menegaskan dimanapun dia dipindahkan, akan tetap membuat pimpinan sakit kepala karena tidak bebas berbuat penyimpangna.
Ahok mengaku tidak banyak ingat mengenai peristiwa pembahasan proyek pembuatan e-KTP di Komisi II.
Ahok menegaskan salah satu alasan dia bersedia masuk ke Komisi II karena ingin turut memperjuangkan pasal tentang pembuktian harta terbalik masuk ke dalam Undang-Undang tentang Pilkada.
"Jadi kalau mau jadi kepala daerah, kamu daftarkan harta, harus berlaku Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2006, hasil ratifikasi konvensi PBB melawan korupsi," kata Ahok.
Dalam ketentuan tersebut, kata Ahok, jika calon kepala daerah tidak dapat membuktikan asal muasal hartanya, maka akan disita negara.
"Saya bilang kalau mau adil, siapapun mau jadi pejabat harus pertama, membuktikan asal muasal hartanya. Baru lapangan tandingnya rata," kata Ahok.
Komentar
Berita Terkait
-
Praperadilan Paulus Tannos dalam Kasus E-KTP Ditolak Hakim, Ini Alasannya
-
Ahok Adu Mulut dengan Pengacara Kasus LNG, Hakim Sampai Harus Turun Tangan
-
Ahok Ngamuk di Sidang Korupsi LNG Pertamina: Saya Paling Benci Korupsi, Akan Saya Sikat!
-
Ahok Jadi Saksi Sidang Kasus Korupsi LNG Pertamina Rp1,7 Triliun, Irit Bicara Saat Tiba di Tipikor
-
Paulus Tannos Kembali Ajukan Praperadilan dalam Kasus e-KTP, KPK: Tidak Hambat Proses Ekstradisi
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
-
Kapal Perang AS Dihantam 2 Rudal karena Coba Masuk Selat Hormuz, Klaim Iran
Terkini
-
Letjen TNI Agus Widodo Dikabarkan Resmi Jabat Wakil Kepala BIN, Gantikan Komjen Imam Sugianto
-
Nyawa di Ujung Shift: Mengungkap Jam Kerja Tak Manusiawi Dokter Internship dan Regulasi Kemenkes
-
Sama dengan TNI, Prabowo Batasi Jabatan Anggota Polri di Luar Institusi
-
Komitmen ESG Meningkat, Mengapa Data Logistik Masih Jadi Tantangan di Lapangan?
-
KPK Ingatkan Tunjangan Hakim Ad Hoc Harus Beriringan dengan Perbaikan Sistem Peradilan
-
AI Diklaim Bisa Jadi Solusi Mitigasi Banjir Rob dan Krisis Air Bersih, Gimana Caranya?
-
Indonesian Proposal Jadi Fokus Pertemuan Indonesia dan United Kingdom Intellectual Property Office
-
Idul Adha 2026 Tanggal Berapa? Penetapan Versi Muhammadiyah dan Pemerintah Diprediksi Sama
-
33 Tahun Kasus Marsinah Stagnan, Aktivis: Keadilan Tidak Bisa Digantikan Seremoni Gelar Pahlawan!
-
Daftar Harga Kambing Kurban 2026 Terbaru Mulai Rp1 Jutaan, Cek Rekomendasinya di Sini!