Suara.com - Mobil kepresidenan yang dipakai Presiden Joko Widodo mogok di tengah jalan ketika kunjungan kerja ke Kalimantan Barat pada Sabtu (18/3/2017).
Belakangan ketahuan ternyata mobil Mercedes Benz S-600 Pullman Guard tersebut merupakan mobil lama. Mobil tersebut dibeli diera Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Menurut Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Fahri Hamzah pengadaan fasilitas kendaraan untuk Presiden harus dievaluasi. Dia meminta pemerintah jangan membiarkan Presiden tetap memakai mobil yang bisa menghambat mobilitas.
"Saya konsennya pada keamanan Presiden. Sebab presiden itu dalam undang-undang keprotokoleran, itu harus ada sistem yang baik. Di antaranya cara kita atur keamanan presiden, kendaraan itu harus aman. Kalau mogok berarti kendaraan itu nggak aman. Maka harus dievaluasi," kata Fahri di DPR, Rabu (22/3/2017).
Fahri tidak ingin keamanan Presiden menjadi taruhan.
"Iya kalau mogoknya di tempat aman, kalau mogoknya ditempat nggak aman? Ini Soal keamanan Presiden, jadi harus dievaluasi. Semua alat yang digunakan Presiden, helikopter, pesawat, mobil, semua harus dievaluasi," tuturnya.
Fahri mengatakan semua kendaraan mempunyai batas waktu pamakaian, apalagi mobil untuk mendukung kegiatan Kepala Negara.
"Pemerintah jangan bilang ini karena sudah lama. Soal mogok itu kan ilmiah, karena itu ilmu mesin. Mesin kapan ausnya, onderdil kapan gantinya. Itu ada ilmunya. Jadi ini harus dievaluasi," kata Fahri.
Menurut Fahri pengadaan mobil untuk urusan negara sebenarnya bukan masalah bagi pemerintah. Apalagi, nilai APBN mencapai ribuan triliun.
"Masa yang gini-gini jadi isu sih. Ini negara Republik Indoneisa, APBN 2000-an triliun. (Mobil) ini kan urusan semiliar-dua miliar nggak usah jadi isulah. Beresinlah. Istana harus ada manajemen yang baik. Nggak usah begini-begini jadi isu. Kita harusnya bicara kapan kita ke bulan, kapan kita kirim satelit yang ngawasin Nusantara, nah ini urusan mobil mogok," kata dia.
Jokowi menolak
Presiden Jokowi menolak untuk mengganti mobil dinas Kepresidenan menjadi lebih baru, meski mobil yang digunakan selama ini sering mogok saat dipakai untuk kunjungan kerja ke daerah.
"Kalau tanya Pak Presiden, selalu bilang enggak usah. Ngapain? Enggak apa-apa. Tapi, kalau urusan kayak begini enggak tahulah nanti," kata Menteri Sekretaris Negara Pratikno di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (21/3/2017).
Presiden Jokowi selalu menolak jika ditanya tentang pengadaan mobil dinas baru. Padahal, menurut Pratikno, mobil Presiden sudah waktunya ganti yang baru.
"Kalau saya melihat ada urgensi luar biasa untuk pembaruan ini. Tapi, sampai sekarang Presiden enggak mau. Kalo saya minta konsultasi, enggak usah," katanya.
Pratikno menyatakan pengadaan mobil dinas bagi Presiden sebenarnya tidak harus melalui persetujuan Presiden karena melalui mekanisme pengadaan biasa sehingga melalui keputusan menteri saja dianggapnya cukup.
"Jadi, ya saya melihat ada urgensi luar biasa. Sangat tidak layak. Sudah beberapa kali mogok kok. Di Banjarnegara pernah mogok, di Kalimantan pernah, di Jawa Timur, Ponorogo, kalau enggak salah. Jadi, sudah ada urgensi. Cuma kalau tanya Presiden, enggak usah," katanya.
Berita Terkait
-
Jokowi Siap Hadir Tunjukan Ijazah di Persidangan Roy Suryo dan dr Tifa
-
Jokowi Tak Ambil Pusing Soal Penahanan Roy Suryo dan dr Tifa, Kuasa Hukum Sentil Dugaan Intervensi
-
Roy Suryo dan Dokter Tifa Resmi Dilimpahkan ke Kejari Jaksel
-
Suasana Cair! Kaesang Guyon soal Foto Jokowi Rakorwil PSI Kaltim
-
Kasus Ijazah Jokowi, Roy Suryo Resmi Ditahan Polda Metro
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
Terkini
-
Sejarah Baru! Rakyat Bisa Pilih Sendiri Logo HUT ke-81 RI, Prabowo Siapkan Hadiah Undangan ke Istana
-
Kemensos Gandeng TNI, 1.000 Taruna Akmil Siap Bina Siswa Sekolah Rakyat
-
LPSK Siap Lindungi Korban Lain Taufik Hidayat: Jangan Takut, Segera Lapor!
-
Terpilih dari 600 Pendaftar, 9 Siswa Indonesia Lanjut Kuliah ke Jepang dengan Beasiswa Penuh
-
Ada Upaya 'Jurang Pemisah' Prabowo-Gibran? Gerindra Buka Suara Soal Isu Suap BEM UBK
-
Tak Berhenti di 13 Orang! Polisi Beri Sinyal Tersangka Baru di Kasus Daycare Little Aresha
-
Cari Keadilan, Arief Pramuhanto Bakal Ajukan PK ke Mahkamah Agung
-
Penertiban Aset GBK, Marinus Gea Minta Pemerintah Buktikan Manfaatnya Bagi Negara
-
KPK Serahkan Rp153,6 Miliar Hasil Rampasan Korupsi Eks Dirut Taspen
-
Demo Mahasiswa di Patung Kuda Memanas, Orator Teriak Minta Massa dan Polisi Mundur