Analis Kebijakan Narkotika Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat Yohan Misero tangani kasus Fidelis [suara.com/Dian Kusumo Hapsari]
Analis Kebijakan Narkotika Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat Yohan Misero meminta Badan Narkotika Nasional menghentikan penyidikan kasus Fidelis Ari Sudarwoto. Fidelis, lelaki asal Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, yang ditangkap BNN karena menanam 39 batang ganja dengan alasan untuk diekstrak sebagai obat penyakit istri bernama Yeni Riawati.
"Kami minta dengan kerendahan hati BNN untuk menghentikan penyidikan ini atas dasar kemanusiaan. Apa yang dilakukan oleh Fidelis ini kan jelas untuk kesehatan istrinya, jadi tidak bisa disalahkan begitu saja," kata Yohan di kantor LBH Masyarakat, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (2/3/2017).
Yohan juga berharap kepada pemerintah membuka kesempatan bagi peneliti untuk meneliti zat yang terkandung dalam daun ganja. Belajar dari kasus Fidelis, Fidelis menanam ganja agar dapat mengekstraknya karena dianggap memilik khasiat untuk menyembuhkan penyakit Syringomyelia atau pertumbuhan kista dalam sumsum tulang belakang yang dialami Yeni.
"Jadi bisa diteliti lagi manfaat ganja lebih dalam. Apakah benar bisa menyembuhkan penyakit, penyakitnya apa saja. Pokoknya yang berkakaitan dengan kesehatan," katanya.
Menurut Yohan apa yang dilakukan Fidelis bukan sepenuhnya kesalahan Fidelis semata. Sebab, setiap warga negara berhak untuk mendapatkan kesehatan dengan difasilitasi pemerintah.
Salah satu aspek pemenuhan hak kesehatan kepada warga yaitu ketersediaan akses dan terjangkau.
Lebih jauh, Yohan berharap kasus ini menjadi momentum bagi pemerintah untuk kembali merumuskan kebijakan.
"Agar ke depan bagi seluruh rakyat Indonesia terjamin ketersediaan dan keterjangkauan akan hak atas kesehatan. Kita yakin Indonesia bisa mampu lebih baik," ujarnya.
"Kami minta dengan kerendahan hati BNN untuk menghentikan penyidikan ini atas dasar kemanusiaan. Apa yang dilakukan oleh Fidelis ini kan jelas untuk kesehatan istrinya, jadi tidak bisa disalahkan begitu saja," kata Yohan di kantor LBH Masyarakat, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (2/3/2017).
Yohan juga berharap kepada pemerintah membuka kesempatan bagi peneliti untuk meneliti zat yang terkandung dalam daun ganja. Belajar dari kasus Fidelis, Fidelis menanam ganja agar dapat mengekstraknya karena dianggap memilik khasiat untuk menyembuhkan penyakit Syringomyelia atau pertumbuhan kista dalam sumsum tulang belakang yang dialami Yeni.
"Jadi bisa diteliti lagi manfaat ganja lebih dalam. Apakah benar bisa menyembuhkan penyakit, penyakitnya apa saja. Pokoknya yang berkakaitan dengan kesehatan," katanya.
Menurut Yohan apa yang dilakukan Fidelis bukan sepenuhnya kesalahan Fidelis semata. Sebab, setiap warga negara berhak untuk mendapatkan kesehatan dengan difasilitasi pemerintah.
Salah satu aspek pemenuhan hak kesehatan kepada warga yaitu ketersediaan akses dan terjangkau.
Lebih jauh, Yohan berharap kasus ini menjadi momentum bagi pemerintah untuk kembali merumuskan kebijakan.
"Agar ke depan bagi seluruh rakyat Indonesia terjamin ketersediaan dan keterjangkauan akan hak atas kesehatan. Kita yakin Indonesia bisa mampu lebih baik," ujarnya.
Keluarga Yeni selama ini sudah berjibaku dengan berbagai upaya medis konvensional dan alternatif. Keluarga ini akhirnya mencoba ekstrak ganja untuk mengobati penyakit Syringomyelia yang menimpa Yeni. Penyakit langka ini menyerang tulang belakang, di mana kista berisi cairan (syrinx) muncul dalam sumsum tulang belakang.
Upaya menggunakan ganja medis ini pun berdampak baik pada kesehatan Yeni sehingga dia bisa berinteraksi kembali dengan keluarga. Namun sayangnya, hukum melarang penggunaan ganja untuk tujuan medis. Atas nama hukum pula, BNN kemudian menahan Fidelis hingga sekarang. Beberapa hari tanpa asupan obat yang Yeni butuhkan karena suaminya ditahan, mengakibatkan kesehatan Yeni turun drastis.
Hingga akhirnya dia menghembuskan nafas yang terakhir pada Sabtu (25/3/2017).
Kasus ini memang dilematis. Penyidik BNN menangkap Fidelis karena tidak begitu saja percaya dengan alasannya menanam ganja.
Kasus tersebut sekarang menjadi diskusi hangat tentang pemanfaatan ganja untuk kepentingan medis,
Komentar
Berita Terkait
-
Polisi Ciduk Pengedar Ganja 6,2 Kilogram di Depok usai Dapat Laporan Warga
-
Tak Picu Kriminal! Anggota DPR Hinca Panjaitan Usul Maluku Jadi 'Kawasan Ekonomi Khusus' Ganja Medis
-
Sihir, Ganja, Miras, Buku, dan Islam: Membongkar Pola Berpikir yang Dianggap Final oleh Masyarakat
-
Polda Metro Jaya Gagalkan Peredaran 10 Kg Ganja di Grogol, Dua Pemuda Ditangkap
-
Modus Transaksi di Kamar Hotel Tanah Abang Terbongkar! Dua Pria Diciduk saat Edarkan 3 Kg Ganja
Terpopuler
- 5 HP Xiaomi yang Awet Dipakai Bertahun-tahun, Performa Tetap Mantap
- Tak Perlu Mahal! Ini 3 Mobil Bekas Keluarga yang Keren dan Nyaman
- Sejumlah Harga BBM Naik Hari Ini, JK: Tidak Bisa Tahan Lagi Negara Ini, Keuangannya Defisit
- Bedak Sekaligus Foundation Namanya Apa? Ini 4 Rekomendasi yang Ringan di Wajah
- Sudah 4 Bulan Ditahan, Bupati Pati Sudewo Sampaikan Pesan Rindu dari Rutan KPK
Pilihan
-
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, IRGC: Amerika Serikat Perompak!
-
Selat Hormuz Kembali Ditutup? Iran Dituding Tembak Kapal Tanker di Dekat Oman
-
BREAKING NEWS! Iran Resmi Buka Blokade Selat Hormuz Sepenuhnya
-
Kisah di Balik Korban Helikopter Sekadau, Perjalanan Terakhir yang Tak Pernah Sampai
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
Terkini
-
Pramono Anung Ungkap Cara Putus Rantai Kemiskinan di Jakarta: Kunci di Pendidikan
-
Pasukan Perdamaian Prancis Gugur, RI Tegas: Serangan ke UNIFIL Tak Bisa Diterima
-
Skorsing 19 Hari, Siswa yang Acungkan Jari Tengah ke Guru Terancam Tidak Naik Kelas
-
Gudang Bulog Penuh, Presiden Sebut Negara Hadir Penuhi Kebutuhan Dasar Rakyat
-
Ketua Golkar Malra Nus Kei Tewas Ditikam, Polisi Tangkap 2 Terduga Pelaku
-
Uya Kuya Polisikan Akun Threads Soal Hoaks 750 Dapur MBG, Ini Detail Laporannya
-
10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
-
KPK Bongkar Motif Korupsi Kepala Daerah: Bukan Cuma Biaya Politik, Ada yang Demi THR Pribadi
-
Selat Hormuz Kembali Ditutup, Ini Penjelasan Kemlu SOal Nasib 2 Kapal Tanker Pertamina
-
Viral Makanan Tak Layak Prajurit Marinir, Menteri Perang AS Ngamuk Serang Media