Suara.com - Anggota Komisi III Fraksi Partai Demokrat Erma Suryani Ranik mempertanyakan penangkapan pegawai negeri sipil asal Kabupaten Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat Fidelis Ari kepada Kepala Badan Nasional Narkotika (BNN) Komisaris Jenderal Budi Waseso. Hal itu ditanyakan Erma dalam rapat kerja Komisi III DPR bersama Kepala BNN, Selasa (11/4/2017).
Fidelis ditangkap karena kedapatan menanam ganja sebagai obat untuk istrinya Riawati (39) yang menderita penyakit sumsum tulang belakang atau yang biasa dikenal Syringomyelia.
"Saya mengkritik anak buah bapak, ada foto anak buah bapak, BNN Kabupaten Sanggau. Fidelis sedang berkonsultasi dengan anak buah bapak karena sedang mengobati istrinya," kata Erma di dalam rapat, Jakarta, Selasa (11/4/2017).
Dia bahkan menunjukan bukti digital, yaitu foto yang diunggah dalam akun Facebook Fidelis. Dalam unggahan itu, Fidelis terlihat tengah berada di kantor BNN Kabupaten Sanggau untuk berkonsultasi soal aturan penanaman tanaman ganja yang digunakannya sebagai obat untuk sang istri.
Erma menerangkan, foto itu diunggah Fidelis pada 14 Februari, namun pada tanggal 19 Februari Fidelis ditangkap BNN Sanggau dan bahkan membawa wartawan.
"Saya tidak yakin kalau ada orang niat jahat, malah melakukan konsultasi. Ini logis saja," kata dia.
Dia meminta Buwas, sapaan akrab Budi Waseso, mengevaluasi tindakan anak buahnya itu. Apalagi, Fidelis sebelumnya dinyatakan negatif, namun saat ditangkap menjadi positif ganja.
"Saya berharap ini tidak terjadi, mari memberantas narkoba sesuai dengan porsinya. Mana ada orang lagi usaha, konsultasi ke BNN, ditangkap dengan hal berita seorang PNS ditangkap tanam 11 pohon ganja. Bapak harus tahu kinerja anak buah Bapak," tandas Erma.
Menanggapi kritikan Erma, Buwas mengatakan kasus Fidelis masih didalami oleh BNN. Dia pun menyerahkan proses ini kepada Inspektorat Utama BNN untuk menindaklanjuti bila ada kesalahan prosedur yang dilakukan anak buahnya.
"Tentu ini akan kami tindaklanjuti. Ada Irtama yang akan langsung mendalami dan menindaklanjuti," tutur Budi.
Untuk masalah ganja sebagai pengobatan, Buwas menerangkan, BNN sudah berkoordinasi dengan Menteri Kesehatan Nila Moeloek. Menurutnya, Menteri Kesehatan menyatakan belum ada hasil riset yang menunjukkan ekstrak ganja bisa digunakan untuk keperluan medis.
"Dan kita sudah koordinasi dengan Menkes apakah ganja ini memang bisa untuk penyembuhan, katanya secara medis belum ada," ujarnya.
Di sisi lain, Buwas khawatir, yang dilakukan Fidelis dengan menanam ganja untuk keperluan penyembuhan istrinya akan dijadikan alasan bagi lembaga swadaya bmasyarakat untuk melegalkan narkotika golongan I tersebut. Karenanya, dia mengatakan harus hati-hati dalam menyikapi permasalahan ini.
"Permasalahan ganja untuk kesehatan ini, ada Lingkar Ganja Nasional (LGN), LSM yang selalu mendemo saya berusaha untuk ganja dilegalkan di Indonesia," katanya.
"Inilah yang menimbulkan pertanyaan kami. Mereka selalu cari kesempatan. Saya yakin mereka didanai negara lain untuk melegalkan ganja di indonesia suapay ada percepatan legal ganja dan narkoba di Indonesia," ujar Buwas menambahkan.
Baca Juga: Gaji Tak Dibayar Setahun, Mantan Pelatih PBR Lapor Polisi
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan