Suara.com - Sudah banyak kesaksian yang menyebutkan khasiat daun ganja menyembuhkan berbagai macam penyakit. Tapi, hukum di Indonesia tidak mengizinkannya. Bahkan, orang sampai dihukum karena berusaha menolong nyawa orang lain dengan memakai daun ganja, sementara medis konvensional dan pengobatan alternatif tak banyak bisa diharapkan.
Kasus terakhir dialami Fidelis Ari Sudarwoto. Fidelis, yang menanam ganja dan memakai daunnya untuk mengobati penyakit Syringomyelia yang diderita istri, Yeni Riawati. Yeni menderita penyakit langka yang menyerang tulang belakang, dimana kista berisi cairan (syrinx) muncul dalam sumsum tulang belakang. Usaha penyembuhan dengan memakai ekstrak ganja belakangan berdampak positif bagi Yeni, tetapi kemudian dia meninggal setelah Fidelis tak bisa mengurusnya karena ditangkap Badan Narkotika Nasional.
Atas dasar itu semua, Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat meminta pemerintah melakukan peninjauan kembali regulasi pelarangan pemanfaatan ganja untuk kepentingan medis serta pengembangan ilmu pengetahuan.
"Kasus Fidelis ini menyentuh hati nurani kita, begitu dahsyatnya situasi yang mereka hadapi. Mari meletakkan posisi sebagai seseorang yang sedang memperjuangkan nyawa hidup. Jadi kami minta regulasi soal ganja ditinjau kembali," ujar Analis Kebijakan Narkotika LBH Masyarakat Yohan Misero di kantor LBH Masyarakat, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (2/4/2017).
Direktur Eksekutif Yayasan Sativa Nusantara Inang Winarso mengatakan sudah mengusulkan rancangan peninjauan kembali aturan ke Kementerian Kesehatan sejak tahun 2014.
"Dulu pernah kami kasih draft-nya ke kemenkes, tapi sampai sekarang nggak ada kelanjutannya. Penyerahan itu kan dimaksudkan agar pemerintah bisa mengetahui manfaat ganja apa saja, tapi nggak ada kelanjutannya," katanya.
Momentum kasus Fidelis akan dimanfaatkan untuk mengingatkan pemerintah lagi. Inang akan kembali melakukan pertemuan dengan Kementerian Kesehatan untuk membahas kelanjutan rancangan yang pernah dia usulkan tahun 2014. Inang berharap kasus Fidelis menjadi perhatian serius agar di kemudian hari tak muncul lagi.
"Karena kan yang dilakukan oleh Fidelis ini dengan alasan kesehatan untuk istrinya, dan Fidelis juga negatif menggunakan narkotika. Jadi kami akan meminta pemerintah meninjau regulasi soal ganja ini," ujarnya.
Hal senada diungkapkan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Unika Atma Jaya Asmin Fransiska. Asmin mengatakan sudah seharusnya pemerintah melakukan kajian kembali terkait UU tentang Narkotika.
"Kalau berdasarkan Konvensi Narkotika 1961, penggunaan ganja untuk kepentingan medis dan iptek itu diperbolehkan. Sudah banyak negara bagian di Amerika yang meregulasi penggunaan ganja untuk medis," katanya.
Berita Terkait
-
Polisi Bongkar Pabrik Vape THC Milik WNA di Bali, Transaksi Pakai Kripto
-
Ironi Ganja Medis, Saat KUHP Baru 'Keok' Lawan UU Narkotika yang Usang
-
Sasaran Turis Bali! 18 Kg Ganja Asal Amerika-Rusia Diselundupkan Lewat Trik Kompartemen Koper
-
Tinggalkan Ganja, BNN Bakal Sulap Petani di Aceh Jadi Pengusaha Kopi Produktif
-
Bongkar Modus Mi Instan Isi 5,2 Kg Ganja! Bareskrim Tangkap Pengedar Sugiono di Malang
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan