Ketua Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI), Ade Komarudin mengatakan isu Suku, Ras, Agama dan Antar Golongan (SARA) sangat dapat membahayakan kesatuan bangsa. Sebaiknya pemerintah dapat mempertimbangkan adanya penyusunan aturan agar peserta Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) mendatang tidak membawa - bawa isu SARA dalam berkampanye.
"Sebaiknya mungkin kita harus membuat peraturan. Bisa saja dimulai dari peraturan pemerintah atau mendorong DPR agar kontestan Pilkada tidak mengusik hal mendasar soal SARA. Jika dibiarkan, hal itu akan membahayakan persatuan kita," kata Ade di acara HUT, ke - 57 Soksi, di Menara Citicon, Slipi, Jakarta Barat, Sabtu (20/5/2017).
Mantan Ketua DPR RI itu juga mengajak semua pihak harus memiliki sikap untuk mendorong tidak ada lagi isu SARA yang digoreng dalam Pilkada Serentak 2018 mendatang. Selama ini isu SARA dipakai hanya untuk kepentingan jangka pendek demi meraih kemenangan dalam Pilkada.
"Semua orang ingin menang, tetapi jangan kemudian kemenangan itu menghancurkan bangsa ini. Jangan memunculkan isu - isu yang sensitif dan sesunguhnya kita tidak ada masalah lagi, kok sekarang kemudian ada masalah (Masalah SARA)," ujar Ade.
Sementara itu, bertepatan hari ulang tahun Soksi ke - 57 yang bertemakan 'Mari Bangkit Bersatu Menguatkan Keindonesiaan Kita" dan juga hari kebangkitan Nasional yang jatuh pada 20 Mei, Ade mengajak seluruh anggotanya untuk tidak terpengaruh dalam Isu SARA yang dapat memecah belang bangsa Indonesia.
"Sekarang kita dalam posisi yang mengkhawatirkan itu. 20 Mei makanya kita Soksi dalam rangka ulang tahun ke 57 bertepatan dengan harkitnas, kita ingin mengingatkan bangsa ini mengenai terkoyaknya kenegaraan keindonesiaan kita," kata Ade.
"Yang diharapkan sekiranya minimal anggota pengurus Soksi tidak ikut - ikutan kepada arah memecah belah bangsa ini atau bahkan ikut menularkan. Seluruh anggota Soksi itu ikut pengetahuan politik, yang selama ini orang Soksi tidak pernah ada masalah," ujar Ade menambahkan.
Baca Juga: Isu SARA 'Kencang', SBY Rilis Lagu 'Harmoni yang Indah'
Berita Terkait
-
LSI: Mayoritas Rakyat Indonesia Tak Nyaman Dengan Polarisasi
-
Lama Tak Terdengar Kabar, Ade Komarudin Muncul di Paripurna DPR
-
Maarif Institute: Pancasila Sudah Mencerminkan Islam
-
Ketua MUI Akui Sejak 2016 Indonesia Sudah Ada Gejala Perpecahan
-
Ini Isi Pembahasan SARA antara Jokowi dan Pemuka Agama di Istana
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- 5 Sunscreen Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Segala Usia
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- 3 HP Murah Rp1 Jutaan RAM 8 GB April 2026 untuk Multitasking Lancar
Pilihan
-
Siap-siap, Kejari Sleman Beri Sinyal Tersangka Baru Kasus Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Belajar Empati dari Peristiwa Motor Terbakar di SPBU Sriwijaya, Pakai APAR Tidak Perlu Izin
-
Serangan AS-Israel Tewaskan Kepala Intelijen Garda Revolusi Iran Majid Khademi
-
Menkeu Purbaya Pastikan BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir 2026: DPR Beri Tepuk Tangan!
-
Simalakama Plastik: Antara Lonjakan Harga dan Napas UMKM yang Sesak
Terkini
-
Merasa Dizalimi, Kerry Cs Laporkan 4 Hakim Perkara Pertamina ke KY dan Bawas MA
-
Aktivis Pro Palestina Desak Malaysia Batasi Ekspor Rare Earth ke AS, Berpotensi Jadi Mesin Perang
-
Konflik Timur Tengah Memanas, Kenapa Harga Plastik di Pasar Ikut Mahal?
-
Kasus Kekerasan Seksual di Ojol Meningkat, Komnas Perempuan Soroti Soal Rekrutmen Driver
-
Tiga Saksi Biro Travel Diperiksa, KPK Dalami Keuntungan Ilegal Kuota Haji 2023-2024
-
Wamenkes Ungkap Penyebab 72 Siswa Keracunan MBG di Jaktim
-
KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, KAI Minta Maaf dan Lakukan Rekayasa Perjalanan Kereta
-
Kasus Foto AI di JAKI, Lurah Kalisari Akui Kesalahan dan Beri Sanksi Petugas PPSU
-
Laporan KPK: Kekayaan Gibran Bertambah Rp 395 Juta, Total Kini Rp 27,9 Miliar
-
Kasus Kekerasan Seksual di Sekolah Meningkat, FSGI Catat 22 Kasus dalam 3 Bulan